7 Pemicu Rusaknya Ginjal Selain Diabetes

Kartika D. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
7 Pemicu Rusaknya Ginjal Selain Diabetes

Gambar atau konten salah?

Selama ini, banyak orang mengira bahwa diabetes dan tekanan darah tinggi adalah satu-satunya penyebab kerusakan ginjal. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Faktanya, masih banyak faktor lain yang bisa diam-diam merusak organ penyaring darah ini tanpa kita sadari.

Penyakit ginjal kronis diperkirakan menyerang hampir 10 persen populasi dunia. Sifatnya yang berkembang perlahan dan tanpa rasa sakit membuat penyakit ini sering disebut sebagai ancaman yang sunyi. Data penelitian bahkan menunjukkan bahwa hampir satu dari empat orang dewasa kemungkinan memiliki gangguan fungsi ginjal pada tingkat tertentu tanpa mereka sadari.

Berikut adalah beberapa pemicu sakit ginjal lainnya yang jarang disadari, seperti dikutip dari Times of India:

1. Obesitas

Obesitas bukan hanya meningkatkan risiko diabetes. Kelebihan berat badan secara langsung memaksa ginjal bekerja lebih keras untuk menyaring darah. Fenomena ini disebut hiperfiltrasi. Seiring waktu, kerja ekstra ini memicu jaringan parut pada jaringan ginjal. Akibatnya, kemampuan ginjal untuk menyaring darah pun menurun.

2. Kebiasaan Merokok

Merokok tidak hanya merusak paru-paru dan jantung. Kandungan nikotin dalam rokok mengurangi aliran darah ke jaringan ginjal. Racun dalam asap rokok juga memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut. Bagi mereka yang sudah memiliki masalah ginjal, merokok akan mempercepat penurunan fungsi organ tersebut secara drastis.

3. Konsumsi Obat Pereda Nyeri yang Dijual Bebas

Penggunaan obat pereda nyeri yang dijual bebas (OTC), terutama jenis NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid), secara sering untuk mengatasi sakit kepala atau nyeri sendi dapat merusak ginjal secara permanen. Kerusakan ini terjadi bertahap dan sering tidak disadari. Masyarakat juga harus waspada terhadap label 'alami' pada obat tradisional atau jamu yang tidak teregulasi. Beberapa di antaranya dilaporkan menyembunyikan kandungan berbahaya seperti kontaminasi logam berat.

4. Suplemen Kebugaran dan Pembakar Lemak

Budaya kebugaran modern sering menormalisasi penggunaan suplemen tanpa resep. Suplemen tinggi protein, kreatin, hingga senyawa pembakar lemak untuk binaraga atau penurunan berat badan, jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa pengawasan medis, dapat memberikan tekanan besar pada ginjal. Risiko ini lebih tinggi bagi mereka yang memiliki masalah ginjal tersembunyi.

5. Infeksi Saluran Kemih Berulang dan Batu Ginjal

Infeksi saluran kemih (ISK) yang sering kambuh tidak boleh dianggap sepele. Bakteri dari infeksi tersebut bisa menyebar naik ke atas hingga memicu jaringan parut pada ginjal. Selain ISK, masalah batu ginjal yang tidak diobati juga dapat menyebabkan penyumbatan dan peradangan berulang yang berisiko merusak jaringan ginjal secara permanen.

6. Faktor Riwayat Keluarga

Riwayat kesehatan keluarga atau genetik memegang peran sentral dalam mendeteksi risiko penyakit ginjal. Penyakit genetik tercatat berkontribusi sekitar 20 hingga 25 persen pada kasus penyakit ginjal kronis. Kondisi genetik ini sering kali muncul dalam bentuk tekanan darah tinggi di usia dini yang sulit diobati.

7. Penyakit Autoimun

Gangguan autoimun sistemik, seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE), diketahui dapat menyerang filter atau penyaring di dalam ginjal secara langsung. Serangan sistem imun yang keliru ini menyebabkan peradangan hebat pada organ ginjal dan memicu kerusakan kronis jangka panjang jika tidak segera ditangani.

Dari ketujuh faktor di atas, beberapa di antaranya seperti obesitas dan kebiasaan merokok sebenarnya bisa dicegah. Sementara faktor genetik dan autoimun membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi. Yang jelas, penyakit ginjal bukan hanya soal diabetes dan tekanan darah tinggi. Banyak pemicu lain yang bekerja diam-diam, dan sering kali baru terdeteksi setelah kerusakannya sudah parah.

penyebab sakit ginjalobesitasmerokokobat pereda nyerisuplemen kebugaraninfeksi saluran kemihriwayat keluarga

Komentar

Memuat komentar...