Agus Rembo dan Gajah PIKG Tebo: Mitigasi Konflik Satwa
Gambar atau konten salah?
Agus Rembo, 38 tahun, memulai setiap pagi dengan melepas rantai gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) jinak dan mengarahkan mereka ke area angon. Gajah-gajah ini dilatih sebagai wahana edukasi dan sebagai upaya mencegah konflik antara satwa dan manusia.
Agus adalah salah satu dari lima mahout di PIKG Desa Muaro Sekalo, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Pusat Informasi Konservasi Gajah ini berada di Kawasan Ekosistem Esensial Bentang Alam Bukit Tigapuluh dan memiliki lima ekor gajah, masing-masing dipelihara oleh satu mahout.
PIKG Tebo resmi dibuka pada 06 Agustus 2022 dengan dua gajah jantan jinak bernama Leo dan Rendo yang didatangkan dari Way Kambas, Lampung. Tiga gajah betina, Tiara, Juwita, dan Kalangi, datang dari PIKG Lahat dan PKG Padang Sugihan, Sumatera Selatan.
Setiap hari para pawang merawat gajah dengan tekun: memandikan, mengangon, dan memberi makan tambahan. Antara gajah dan pawang sudah menumbuhkan kedekatan emosional yang menyerupai persahabatan.
“Sejinak-jinaknya gajah, dia hanya menurut sama mahout, ganti mahout, ya harus proses pendekatan lagi dari awal,” kata Agus saat berbincang pada 15 Mei 2026.
Agus menjadi mahout sejak 2012 ketika ia bekerja di PKG Padang Sugihan. Ia sempat berhenti merawat gajah pada 2015, lalu kembali bertugas di PIKG Tebo pada Agustus 2025.
Di PIKG Tebo, Agus khusus memegang gajah Rendo. Menurutnya, menjadi mahout berarti memahami kondisi emosional gajah. Setiap pawang memiliki waktu yang berbeda untuk mendekatkan diri pada gajah.
Meskipun jinak dan terlatih, gajah tidak mudah akrab dengan mahout baru. Pendekatan dilakukan perlahan: memberi makan, mengelus belalai, hingga rutin memanggil nama gajah. “Baru bisa jinak dengan kita itu sampai hapal dengan kita, suara kita, dengan bau badan kita,” ujarnya.
Agus menilai emosi gajah lewat gerak tubuh. Telinga yang bergerak aktif menandakan kenyamanan dan kebahagiaan. Jika telinganya tegang dan diam, itu sinyal agresi. “Kalau kita datangi telinganya tegang tidak bergerak itu tanda lagi agresif, kita tak bisa langsung dekati, harus didiami dulu, biarin. Kita pantau-pantau aja,” jelas Agus.
Seperti manusia, gajah juga mengalami mood swing. “Baik gajah jinak sekali pun, terkadang tiga bulan sekali masa mood swing itu akan dialami,” katanya. Saat masa tersebut, gajah sulit dikendalikan. “Kalau lagi masa nakalnya datang, seperti 3 bulan sekali pasti ada, tidak bisa dikendalikan. Kita biarkan dulu, habis kita kalau didatangi,” tambahnya.
PIKG Tebo berfungsi sebagai garda depan mitigasi konflik gajah. Konflik antara satwa berjulukan ‘Datuk Gedang’ dan manusia meningkat karena penyusutan habitat akibat pembukaan lahan dan perkebunan di Bukit Tigapuluh. Banyak jalur jelajah gajah berubah menjadi kebun atau permukiman. Populasi gajah liar di wilayah ini diperkirakan lebih dari 100 ekor, tersebar dari Kabupaten Tebo hingga Tanjung Jabung Barat.
Gajah jinak ini dilatih untuk menghalau gajah liar agar tidak masuk ke perkebunan dan permukiman warga. Para pawang, selain merawat gajah, menjadi penjaga batas terakhir antara kampung dan hutan. Mereka rutin melakukan penghalauan. “Kita giring tidak bisa grasak-grusuk, pelan-pelan aja. Terkahir kelompok gajah (liar) Mael, Alhamdulillah berhasil penggiringan menjauh, nggak masuk ke kampung lagi,” kata Sugi, salah satu mahout.
Penghalauan tidak bisa sembarangan. Mahout harus memahami jalur jelajah, karakter kawanan, dan cara berkomunikasi dengan gajah jinak yang mendampingi mereka. “Biasanya kalau pakai gajah betina nggak menyerang (gajah liar), kalau pakai gajah jantan pasti menyerang, risikonya gajah kita kalah (kalau pakai jantan), kita yang menanggung. Tapi tergantung kondisi juga,” ujar Agus.
PIKG Tebo memiliki luas 5,4 hektare, mencakup bangunan, kandang gajah, dan area angon. Luas area ini belum mencukupi pasokan makanan ideal bagi lima gajah jinak. “Area angonan cukup terbatas. Kita kadang mengangon area kebun masyarakat juga, area yang belum digunakan,” kata Edi, Koordinator Mahout PIKG Tebo.
Di area angon, gajah memakan berbagai jenis tanaman: akar-akaran, rumput king grass, dan batang kayu muda bergetah. Nutrisi tambahan berasal dari buah-buahan seperti pisang, semangka, pepaya, dan labu muda, serta gula merah. Sebagai langkah berkelanjutan, PIKG Tebo menanam lahan pengayaan pakan agar ketersediaannya tetap terjaga sepanjang tahun. Seekor gajah dewasa membutuhkan ratusan kilogram pakan setiap harinya.
Husein, petani pakan gajah, menyisihkan sebagian lahan untuk menanam rumput king grass. “Untuk masa panen dua minggu sekali. Sekali panen 5 ton, satu ton Rp500 ribu. Jadi, panen sebulan bisa dua kali,” ujarnya.
WWF Indonesia juga memberikan bantuan bibit tanaman yang disukai gajah kepada petani di lahan pengayaan seluas 2 hektare. “Rencana kerja sama dengan WWF Indonesia nantinya. Ke depan yang kami harapkan penambahan king grass, pisang, nanas, tebu, dan labu manis,” tambah Husein. Selain pakan, kebutuhan air penting. WWF Indonesia menyiapkan pompa air dan tangki penyimpanan di PIKG Tebo.
Bentang alam Bukit Tigapuluh, luas lebih dari 500 ribu hektare, mencakup hutan konservasi hingga hutan produksi. Dalam satu dekade terakhir, angka deforestasi terus meningkat. Tutupan hutan yang tersisa kini hanya sekitar 40 persen atau 191.400 hektare. Deforestasi, pertambangan, dan ekspansi perkebunan sawit menyusut habitat gajah Sumatera.
Konflik antara manusia dan gajah semakin sering terjadi. Jalur jelajah gajah kini banyak berubah menjadi perkebunan dan permukiman. Tanaman sawit muda menjadi salah satu yang paling disukai gajah, yang sering merusak pohon sawit untuk memakan bagian umbutnya. WWF Indonesia memberikan pelatihan penanganan konflik gajah kepada petani di sekitar Bukit Tigapuluh. Masyarakat didampingi menanam tanaman yang tidak disukai gajah di batas kebun sebagai penghalang alami sekaligus mendukung pemulihan hutan di jalur jelajah gajah.
Gajah jinak di PIKG Tebo menjadi alat penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa. Melalui pendekatan hati-hati, pemeliharaan rutin, dan dukungan sumber daya, PIKG berupaya meminimalisir konflik sambil mendidik masyarakat tentang pentingnya konservasi. Dengan upaya berkelanjutan, harapannya habitat gajah tetap terjaga, dan hubungan manusia serta satwa dapat hidup berdampingan secara damai.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
442 Jemaah Haji Kloter 14 Tiba di Palembang, 200 Lebih Berisiko Tinggi
Bank Jambi ajukan izin buka M-Banking ke BI
Turnamen Mobile Legends Polres Banyuasin seleksi atlet e-sport
Polres Muba Kunjungi Anak Hidrosefalus, Bawa Bantuan Kemanusiaan
Polres Bangka Barat mulai bangun dua rumah korban kebakaran
Empat Rumah Hangus di Pagar Alam, Diduga Korsleting Listrik
Berita Terbaru
442 Jemaah Haji Kloter 14 Tiba di Palembang, 200 Lebih Berisiko Tinggi
Iran dan AS Bertemu di Bern, Qatar-Pakistan Jadi Mediator
Women's Soccer Trilogy 2026 Digelar di Kudus, Bangun Ekosistem Pembinaan
Bank Jambi ajukan izin buka M-Banking ke BI
Marquez Kampi di Brno, Ogura dan Bagnaia Terkalahkan
Pertemuan Ruben-Sarwendah Batal, Dijadwalkan Ulang 11 Juli
Jabar dan BPS Teken Kerja Sama untuk Sensus Ekonomi 2026
Daichi Kamada Cetak Gol, Jepang Hancurkan Tunisia 4-0
Ibu Hamil Picky Eater Bisa Sebabkan Anak Susah Makan
Talkshow Frisian Flag di Surabaya: Optimalkan Kecerdasan Anak
