Angin Puting Beliung Menyerang Bandung, Empat Pohon Runtuh

Eko P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Angin Puting Beliung Menyerang Bandung, Empat Pohon Runtuh

Gambar atau konten salah?

Di kawasan Tanjungsari, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, 10 April 2026 terjadi penampakan angin puting beliung yang menjerat air. Warga pun terkejut melihat awan gelap menjulang tinggi, lalu hujan es dan angin kencang menghantam.

Kerusakan yang timbul cukup signifikan. Empat pohon runtuh, satu rumah warga mengalami kerusakan ringan, dan dampak tersebut merambah hingga Kecamatan Pameungpeuk dan Banjaran. Tidak hanya di Kabupaten Bandung, cuaca buruk juga melanda Kota Bandung, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Subang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Purwakarta.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, kondisi cuaca di Jawa Barat dipengaruhi oleh suhu muka laut yang hangat di sebagian besar perairan Indonesia. Suhu ini memicu suplai uap air tinggi, ditambah area belokan angin dan konvergensi di sekitar wilayah Jawa Barat.

“Kondisi tersebut mendukung potensi pembentukan awan konvektif di sebagian wilayah Jawa Barat, serta aktifnya gelombang atmosfer tipe Equatorial Rossby di sebagian wilayah Jawa Barat, serta didukung kelembapan udara yang sangat tinggi pada lapisan 850‑500 mb (berkisar 60‑98%) dan tingkat labilitas atmosfer kategori ringan hingga kuat, yang secara kolektif menjadi pemicu utama meningkatnya potensi pertumbuhan awan konvektif skala lokal yang masif di sebagian besar wilayah Jawa Barat,”

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut memicu munculnya sel‑sel awan konvektif, atau Cumulonimbus. Pada 10 April 2026, tingkat kematangan SPA < -75°C dan radar > 50dBZ berkorelasi langsung dengan hujan es di Kertajati. Sedangkan SPA -60°C sampai -70°C berkorelasi dengan angin kencang dan pohon tumbang di Bogor, Subang, dan Purwakarta.

“Kondisi persistensi awan dan hujan selama 2‑3 hari berturut‑turut juga menjadi penyebab utama penjenuhan tanah yang memicu longsor di Ciamis serta banjir genangan di Bandung,”

Ayu, sapaan karib Teguh Rahayu, mengingatkan warga akan potensi cuaca ekstrem. Ia menjelaskan bahwa hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir serta angin kencang biasanya muncul pada sore hari, terutama saat pemanasan kuat antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Awan yang berwarna gelap dan menjulang tinggi, seringkali memiliki landasan pada puncaknya, menandakan Cumulonimbus.

“Waspada terhadap terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai dengan kilat atau petir dan juga angin kencang pada sore hari, terutama pada hari dimana terjadi pemanasan kuat antara pukul 10.00 hingga 14.00 WIB, biasanya ditandai dengan jenis awan yang berwarna gelap, dan menjulang tinggi seperti kembang kol dan terkadang memiliki landasan pada puncaknya (Awan jenis Cumulonimbus),”

Ayu juga meminta warga berlindung di tempat tertutup. Hindari pohon, tiang listrik, reklame, atau benda tinggi lainnya yang bisa roboh saat angin kencang. Jangan berada di tempat terbuka, matikan alat komunikasi sementara waktu, dan jaga jarak aman jika sedang berteduh di luar ruangan.

“Khusus untuk daerah bertopografi curam/bergunung atau rawan longsor agar tetap waspada khususnya pada kejadian hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang terjadi selama beberapa hari berturut‑turut. Pada daerah dataran rendah dan dekat aliran sungai, untuk mewaspadai potensi genangan/banjir,”

Diprakirakan satu hingga tiga hari ke depan masih terdapat potensi hujan (pada skala lokal) pada siang hingga malam hari di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya.

Peristiwa ini menegaskan bahwa kondisi cuaca di Jawa Barat pada akhir April 2026 sangat dipengaruhi oleh suhu laut, kelembapan tinggi, dan dinamika atmosfer yang kompleks. Warga di wilayah tersebut diingatkan untuk selalu memantau peringatan cuaca dan mengikuti petunjuk keselamatan yang diberikan oleh BMKG.

angin puting beliunghujan escumulonimbuscuaca ekstremBMKGlongsorbanjir

Komentar

Memuat komentar...