Angkutan Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg, Pihak Beri Peringatan

Vera T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 48 dibaca
Bisik.id
Angkutan Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg, Pihak Beri Peringatan

Gambar atau konten salah?

Di Sukabumi, angkutan kota (angkot) yang biasanya menggunakan bensin kini terlihat berbeda. Tabung elpiji 3 kilogram, yang biasanya ditujukan untuk rumah tangga, kini terpasang di mesin kendaraan. Penerapan ini menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan dan keamanan.

Susanto August Satria, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB), menegaskan bahwa elpiji 3 kg memiliki peruntukan khusus. “LPG 3 Kg diperuntukkan untuk konsumen rumah tangga, usaha mikro, petani sasaran, dan nelayan sasaran,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan elpiji bersubsidi di luar peruntukannya tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Selain itu, Pertamina mengingatkan tentang aspek keselamatan. “Aspek keselamatan harus diperhatikan ketika memodifikasi kendaraan, terlebih dalam penggantian bahan bakar,” kata Susanto. Ia juga menekankan bahwa pemerintah menyediakan alternatif resmi berupa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di beberapa daerah. Menurutnya, penggunaan BBG melalui SPBG lebih aman karena sudah memenuhi standar teknis dan keselamatan.

Fenomena angkot menggunakan elpiji 3 kg sebelumnya viral di Sukabumi karena dianggap dapat menekan biaya operasional sopir. Namun, Pertamina menegaskan pentingnya penggunaan energi sesuai peruntukan serta memperhatikan faktor keamanan.

Angkot trayek 01, yang melintas di jalur Terminal Sukaraja‑Kota Sukabumi, terlihat biasa di luar. Namun, di balik kap mesinnya tersambung tabung elpiji 3 kg. Sopirnya, Hendra Irawan berusia 53 tahun, sudah mengemudi di Sukabumi puluhan tahun. Ia menjelaskan keputusan beralih ke elpiji tidak datang begitu saja.

“Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya‑tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga,” ujar Hendra. Ia menilai bahwa perubahan tersebut membawa dampak positif pada pengeluaran harian.

Hendra kini dapat menghemat biaya operasional antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin. Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar dua tabung gas. Satu tabung elpiji dapat dipakai hingga empat kali perjalanan (rit). Jika dibandingkan dengan bensin, selisih biayanya terasa cukup jauh.

Penggunaan elpiji 3 kg di angkutan kota menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, sopir menganggapnya lebih murah dan praktis. Di sisi lain, pemerintah dan Pertamina menegaskan bahwa bahan bakar tersebut tidak dimaksudkan untuk kendaraan. Mereka mengingatkan bahwa modifikasi kendaraan tanpa standar yang tepat dapat menimbulkan risiko keselamatan.

Di sisi teknis, SPBG menyediakan fasilitas pengisian gas yang sudah teruji. Penggunaan BBG melalui SPBG memastikan bahwa kendaraan memenuhi persyaratan teknis, sehingga risiko kebakaran atau kebocoran dapat diminimalkan. Namun, masih banyak sopir yang belum mengetahui atau belum memanfaatkan fasilitas ini.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya edukasi tentang peruntukan bahan bakar. Masyarakat, khususnya sopir angkutan, perlu memahami batasan penggunaan elpiji. Di sisi lain, pemerintah harus memastikan bahwa fasilitas SPBG cukup tersebar dan mudah diakses agar sopir dapat beralih ke sumber energi yang aman.

Dengan biaya operasional yang lebih rendah, angkutan kota berpotensi menjadi lebih efisien. Namun, tanpa kepatuhan terhadap kebijakan dan standar keselamatan, potensi risiko tetap ada. Kesadaran akan peraturan dan pemanfaatan fasilitas resmi menjadi kunci untuk menjaga keamanan dan efisiensi transportasi publik di Sukabumi.

angkutan kotaelpiji 3 kgPertaminaSPBGbiaya operasionalkeamanan kendaraanSukabumi

Komentar

Memuat komentar...