Anto Temukan Ibu di Malaysia Setelah 31 Tahun Pencarian
Gambar atau konten salah?
Anto (52) berasal dari Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Selama lebih dari tiga dekade, Anto hidup tanpa mengetahui keberadaan ibunya, Gim Suyati (73), yang pernah pergi ke Malaysia pada tahun 1995.
Gim Suyati memutuskan untuk bekerja di negara tetangga. Pada awalnya, ia tetap berhubungan dengan keluarga lewat telepon umum. “Selama dua tahun pertama, komunikasi masih terjalin melalui telepon umum. Pada 1997, ibu sempat berpamitan hendak pulang ke Indonesia, tetapi tak pernah tiba di rumah. Sejak saat itu, keluarga kehilangan kontak dan tak pernah mengetahui keberadaannya,” ungkap Anto.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar tentang ibunya. Anto menelusuri jejaknya di Malaysia dengan berbagai cara. Pada tahun 2002 hingga 2004, ia bekerja sebagai penjahit di sebuah pabrik di Batu Pahat, Johor agar bisa mendekati lingkungan tempat ibunya tinggal. Sementara itu, ayahnya juga merantau ke Malaysia.
Di sela waktu kerja, Anto sering menghabiskan hari libur di terminal bus di Kuala Lumpur, seperti Puduraya (Pudu Sentral). “Kalau libur, saya habiskan waktu di terminal, seharian, melihat orang lalu lalang. Barangkali ada ibu di sana. Tapi sampai empat tahun tidak ketemu,” katanya.
Ketika kontrak kerja berakhir pada tahun 2004, Anto dan ayahnya kembali ke kampung halamannya. Namun, pada tahun 2005, ayahnya meninggal dunia. Kematian tersebut menjadi titik balik bagi Anto, yang memutuskan melanjutkan pencarian ibunya.
Anto kembali bekerja di Malaysia pada tahun 2005 hingga 2008. Meskipun berusaha keras, ia tidak menemukan jejak ibunya. Ia hanya bisa berharap bahwa Gim Suyati masih hidup. “Kami berdoa, bahkan menggelar doa bersama tahlil untuk ibu, dari seminggu, 40 hari hingga seribu hari,” ucapnya.
Selama puluhan tahun, terungkap bahwa Gim Suyati hidup di Kuala Lumpur tanpa dokumen resmi. Ia diduga datang ke Malaysia melalui jalur tidak resmi, sehingga tidak memiliki paspor maupun identitas. “Dulu ibu saya itu pergi ke Malaysia karena ditipu orang, cuman lewat agen tidak resmi, tidak dibekali dokumen apa-apa, ya diselundupkan. Sampai Malaysia tidak dibekali paspor atau apapun jadi status ibu saya betul-betul kosong blong,” jelas Anto.
Keadaan ini membuat ibunya kesulitan untuk pulang ke Indonesia. Ia beberapa kali mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, namun tanpa dokumen identitas, tidak ada hasilnya. “Di Kuala Lumpur, ternyata ibu kerja apa saja untuk bertahan hidup. Saat itu ibu juga pengin pulang. Bahkan, beberapa kali ibu pergi ke KBRI, namun karena tidak ada dokumen identitas tidak ada hasilnya,” tambahnya.
Perubahan besar terjadi ketika Gim Suyati bertemu seorang warga Malaysia bernama Kamarudin Harun 10 bulan lalu. Kamarudin, yang berusia sebaya dengan ibu, menjadi teman dan pendukung. “Cik Kamarudin Harun orang Malaysia asli, beliau usia sebaya dengan ibu saya. Setelah ketemu ngobrol akhirnya jadi sahabat, sering ketemu berbagi cerita. Akhirnya mereka akrab dan orang Malaysia sering pergi ke kontrakan ibu, sampai suatu ketika beliau memutuskan bulan April mencari keluarganya ibu ke Indonesia,” ungkap Anto.
Pada 14 April 2026, Kamarudin datang ke Indonesia dan langsung menuju ke Desa Adinuso. Berbekal alamat yang diingat oleh Gim Suyati, ia berhasil menemukan keluarga Anto. Di hari yang sama, Anto dan ibunya bertemu pertama kali melalui panggilan video. Meski sulit mengenali karena perubahan fisik selama 31 tahun, keluarga akhirnya memastikan identitas Gim Suyati.
“Awalnya pangling, tapi setelah dikenali oleh saudara yang lebih tua, akhirnya yakin itu ibu saya,” kata Anto.
Setelah kesepakatan, Anto berangkat ke Malaysia pada 21 April 2026 untuk menjemput ibunya. Saat itu, ia bisa bertatap muka secara langsung. Suasana haru pun tercipta, menandai akhir dari perjalanan panjang mencari ibu.
Namun, proses pemulangan tidak semudah yang dibayangkan. Karena tidak membawa dokumen dan belum memiliki e-KTP, Gim Suyati harus mengajukan status kewarganegaraannya di Kementerian Hukum di Jakarta. “Saya dikejar waktu karena izin tinggal di Malaysia juga terbatas, proses administrasi memakan waktu lama. Sudah dua pekan belum ada hasilnya,” jelas Anto.
Dalam proses tersebut, ia mendapat bantuan dari seorang warga Batang yang kini menjadi legislator. “Alhamdulilah berjalan cepat,” ungkap Anto. Setelah proses panjang, dokumen perjalanan sementara atau SPLP akhirnya diterbitkan.
Selain itu, Gim Suyati harus membayar denda imigrasi Malaysia karena masuk tanpa dokumen. Beruntung, saat itu sedang ada program pemutihan, sehingga biaya yang harus dibayar jauh lebih ringan.
Anto mengaku sangat bersyukur akhirnya bisa bertemu kembali dengan ibunya setelah puluhan tahun berpisah. Ia juga mengapresiasi bantuan warga Malaysia yang telah membantu menemukan keluarganya. “Kalau tidak bertemu orang baik itu, mungkin sampai sekarang kami tidak tahu keberadaan ibu,” ungkapnya.
Rencananya, Anto akan membawa ibunya pulang ke Indonesia pada pertengahan Mei 2026. Ia berharap keluarga dapat kembali berkumpul setelah lebih dari tiga dekade terpisah.
Perjalanan Anto menegaskan betapa pentingnya kesabaran dan dukungan dari orang lain. Meskipun rintangan administratif dan emosional, akhirnya ia berhasil menghubungkan kembali dua hati yang terpisah selama lebih dari tiga puluh tahun.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait