AS Tak Toleran Drone Saat Piala Dunia Berlangsung
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Suara dengungan drone yang melayang di atas stadion sepak bola mungkin terdengar seperti gangguan biasa bagi para penonton. Namun, bagi aparat penegak hukum, benda terbang itu dipandang sebagai potensi senjata pemusnah massal. Apalagi saat ini Piala Dunia tengah berlangsung.
Pemerintah Amerika Serikat menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap drone yang nekat terbang di atas atau dekat stadion. Kebijakan ini berlaku selama 78 pertandingan yang tersebar di 11 kota di seluruh negeri. Komisaris Departemen Kepolisian New York (NYPD), Jessica Tisch, mengungkapkan kekhawatirannya secara blak-blakan.
"Perang Ukraina menjadi arena uji coba dunia nyata untuk teknologi drone. Dan jika ada satu ancaman yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari, itu adalah dari drone," kata Tisch. Pernyataan ini dikutip dari Associated Press.
Sejak Piala Dunia 2026 dimulai pada 11 Juni hingga 16 Juni, pemerintah federal sudah menyita puluhan drone. Data ini berasal dari statistik Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS). Selama periode itu saja, pihak berwenang melaporkan 145 pelanggaran wilayah udara di delapan lokasi penyelenggaraan pertandingan.
Pada Desember tahun lalu, Kongres memberikan lampu hijau kepada penegak hukum negara bagian dan lokal. Mereka kini diizinkan untuk mengambil alih kendali drone yang dianggap mengancam. Opsi pertama adalah melumpuhkan drone secara elektronik dan mendaratkannya dengan aman. Jika perlu, drone bisa ditembak jatuh.
Administrasi Penerbangan Federal (FAA) juga akan membatasi wilayah udara di sekitar dan di atas stadion selama pertandingan berlangsung. Pelanggar bisa menghadapi denda hingga USD 100.000. Drone mereka juga bisa disita. Bahkan, mereka bisa dipidana jika terbang dalam radius sekitar 4,8 kilometer dari area pertandingan.
Pihak militer juga mengembangkan berbagai teknologi. Salah satunya adalah laser anti drone yang sudah digunakan di sepanjang perbatasan Meksiko awal tahun ini. Ada juga berbagai sistem lain untuk menembak jatuh drone. Namun, FBI tidak berencana menggunakan cara tersebut selama Piala Dunia. Alasannya sederhana: bahaya jatuhnya puing-puing drone ke permukaan tanah.
"Jika drone dicegat dan tidak lagi bisa terbang, drone itu pasti akan jatuh. Dan seperti yang sering kami katakan, apa pun yang Anda lakukan, Anda tidak dapat mengubah hukum gravitasi," jelas pakar keamanan nasional, Hal Kempfer.
Pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam berbagai sistem. Sistem ini memungkinkan petugas mengambil alih kendali drone mencurigakan. Mereka bisa mendaratkan drone dengan aman atau mengacak sinyalnya.
FBI mengambil pendekatan tanpa toleransi untuk melindungi wilayah udara di sekitar lokasi Piala Dunia. Devin Kowalski, asisten direktur FBI, mengatakan semua drone diperlakukan seolah-olah bisa menjadi ancaman nyata.
"Ketika drone masuk ke area, kami menanganinya seolah itu adalah sesuatu yang dapat melukai orang. Kami agresif melacak posisi operatornya dan melakukan investigasi logis untuk menentukan sifat situasi tersebut, serta meminta pertanggungjawaban orang itu," ujar Kowalski.
Derek Reisfield, mantan presiden perusahaan penyedia teknologi anti drone, menilai drone di tangan yang salah sangat menakutkan. Menurutnya, ada banyak pihak yang ingin mencelakai Amerika Serikat. "Kita harus berasumsi ada seseorang di Iran menghabiskan setiap hari memikirkan bagaimana dapat menyerang AS di wilayah kita sendiri," kata Reisfield.
Beberapa teknologi memungkinkan pihak berwenang mendeteksi drone dari jarak hingga 40 kilometer. Jarak ini memberi waktu untuk melakukan mitigasi ancaman. Namun, ada kemungkinan seseorang menyelundupkan drone dekat stadion dan meluncurkannya dari jarak kurang dari 1,6 kilometer. Ini menyisakan sedikit waktu untuk bertindak.
Selain itu, sistem untuk mengacak sinyal atau mengambil alih kendali drone mungkin tidak efektif. Ini terjadi jika drone diprogram untuk menabrak stadion yang penuh penonton sambil membawa bahan peledak. Atau jika drone dikendalikan melalui jalur serat optik.
Taktik perang yang mungkin menimbulkan ancaman terbesar adalah kawanan drone yang menyerang bersamaan. Bahkan dengan pertahanan terbaik, beberapa drone mungkin dapat lolos ke target. Contohnya adalah apa yang dilakukan Iran dengan sejumlah besar drone Shahed. Militer AS memiliki berbagai macam senjata untuk menjatuhkan drone, tapi Iran masih mampu mengenai target.
Secara keseluruhan, kekhawatiran terhadap drone ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Dari data pelanggaran wilayah udara hingga potensi serangan massal, drone jelas menjadi ancaman serius yang harus dihadapi dengan berbagai lapisan pertahanan. Piala Dunia hanya menjadi salah satu panggung di mana ancaman ini benar-benar teruji.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IPO SpaceX Ciptakan Miliarder Baru, Nilai Saham Karyawan Tembus Triliun
Banjir Video Sampah AI di TikTok, 60% Konten Anak-Anak Palsu
Beiranvand Jadi Tembok Iran, Belgia Frustrasi Tanpa Gol
BRIN Pastikan Indonesia Tak Alami Godzilla El Niño 2026
Type One Energy ajukan izin bangun reaktor fusi
Relativity Space, Dipimpin Eks CEO Google, Dipilih NASA Bawa Misi ke Mars
Berita Terbaru
Teka-teki Lingkaran: Cari 7 Hewan Tersembunyi di Dalamnya
Pelatih Irak Bercanda Usai Ditanya Cara Hentikan Mbappe
AS Tak Toleran Drone Saat Piala Dunia Berlangsung
Pendaftaran IPDN 2026: Syarat, Nilai Ijazah, Tinggi Badan
Hujan Ringan Guyur Medan dan Sekitarnya Hari Ini
Pemain Kanada hisap 'peluit hijau' saat patah kaki, apa itu Penthrox?
Stunting di Sanggau Naik, Menkes Sorot Prioritas MBG
Liburan Yogyakarta Sejuta Rupiah, Begini Caranya
Lamine Yamal masuk 10 besar pencetak gol termuda Piala Dunia
