Bantuan Rp5 Juta ke 83 KK Ciamis Keluarga Setelah Longsor

Bima J. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Bantuan Rp5 Juta ke 83 KK Ciamis Keluarga Setelah Longsor

Gambar atau konten salah?

Di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, keluarga Abun Mulyana (53) bersama istri Dede Kartika (43) dan anaknya mengalami tragedi ketika rumah semi permanen mereka terhancur akibat longsor pada Senin, 11 Mei 2026. Rumah yang semula berdiri di atas tanah yang hampir rata menjadi gundukan batu dan lumpur, membuatnya tidak layak dihuni.

Beberapa hari kemudian, pada Rabu, 13 Mei 2026, keluarga tersebut diundang oleh Pemerintah Kabupaten Ciamis untuk hadir di Aula Gedung PKK. Mereka memakai pakaian sederhana yang diberikan oleh kepala desa dan warga sekitar. Setelah itu, mereka diantar ke pusat pemerintahan oleh pemdes Sukamaju, sambil membawa barang-barang yang masih tersisa.

Tujuan pertemuan itu adalah agar mereka dapat menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Baznas Ciamis. Dalam acara tersebut, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan penyaluran bantuan, yang baru dapat dilakukan pada saat itu.

Jumlah keluarga yang menerima bantuan mencapai 83 kepala keluarga (KK) yang tersebar di empat kecamatan: Purwadadi, Cisaga, Tambaksari, dan Cihaurbeuti. Setiap KK dibagi menjadi tiga kategori kerusakan, yaitu rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat.

Di Aula PKK, Abun Mulyana mengucapkan rasa syukur atas bantuan sebesar Rp 5.000.000 yang diterimanya. Ia menegaskan bahwa rumahnya masuk kategori rusak berat karena hampir rata dengan tanah. “Alhamdulillah, senang sekali. Rumah saya hancur karena longsor kemarin,” ujar Abun saat ditemui.

Abun menjelaskan bahwa uang Rp 5.000.000 akan ia gunakan untuk membangun kembali rumahnya. Meski jumlahnya terlihat kecil, ia yakin cukup untuk membuat bangunan tempat keluarganya bernaung. “Insyaallah cukup untuk bangun rumah. Untuk lokasinya menunggu dari pemerintah desa yang dirasa aman. Berapa pun bantuannya tentu disyukuri dan diusahakan cukup,” jelasnya.

Selain kebutuhan rumah, Abun menegaskan bahwa yang paling mendesak saat ini adalah seragam dan alat sekolah untuk anaknya yang duduk di kelas 6 SD. Anak akan mengikuti ujian minggu depan, sehingga perlengkapan sekolah sangat penting. “Semua barang tertimbun termasuk pakaian. Terutama seragam dan alat sekolah untuk anak. Kemarin dapat seragam tapi kependekan,” tambahnya.

Menurut data, total dana bantuan yang telah disalurkan pada tahun 2026 mencapai Rp 145.500.000 untuk 83 KK. Bantuan tersebut dibagi berdasarkan tingkat kerusakan. Untuk kategori rusak ringan, 53 KK masing-masing menerima Rp 1.000.000. Untuk rusak sedang, 23 KK masing-masing mendapat Rp 2.500.000. Dan untuk rusak berat, 7 KK masing-masing menerima Rp 5.000.000.

Bupati Herdiat Sunarya menjelaskan bahwa penyaluran bantuan sebenarnya sudah direncanakan setelah mendapat laporan dari Ketua Baznas Ciamis. Ia sempat berencana mengunjungi langsung lokasi di Purwadadi, Cihaurbeuti, dan Panumbangan, namun agenda pemerintahan yang padat membuat rencana tersebut tertunda.

Setelah berkoordinasi dengan Baznas, akhirnya para penerima manfaat diundang ke Pendopo Kabupaten Ciamis untuk menerima bantuan secara langsung. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat, akhirnya kami berunding dan diputuskan bapak ibu diundang ke kabupaten. Terima kasih atas kehadiran bapak ibu di Pemda Ciamis,” ujarnya.

Di kesempatan itu, Bupati juga menyampaikan belasungkawa kepada warga yang terdampak berbagai bencana alam, termasuk longsor, banjir, dan angin kencang. Ia berharap rumah yang rusak dan sawah yang terdampak dapat segera diperbaiki. “Mudah-mudahan bapak ibu diberikan ketabahan dan kekuatan. Rumah yang rusak maupun sawah yang terdampak mudah-mudahan bisa segera diperbaiki dan kembali seperti semula,” kata Herdiat.

Bupati menegaskan bahwa bantuan seharusnya bersumber dari APBD, namun kemampuan fiskal Ciamis sangat terbatas. Ia mengakui bahwa APBD terus defisit, bahkan tahun ini mencapai Rp 150 miliar. “Seharusnya bantuan seperti ini bersumber dari APBD. Namun kemampuan fiskal Ciamis sangat kecil, bahkan bisa dikatakan lebih besar pengeluaran daripada pendapatan. Beberapa tahun terakhir APBD kita terus defisit, bahkan tahun ini mencapai Rp 150 miliar,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis masih tergolong kecil dibanding daerah lain. Meski begitu, pemerintah daerah tetap berusaha tidak membebani masyarakat dengan kenaikan pajak atau retribusi. “Kami memahami kondisi masyarakat. Karena itu sampai hari ini kami masih berusaha bertahan untuk tidak menaikkan pajak dan retribusi,” kata Herdiat.

Herdiat juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap kepedulian masyarakat Ciamis, yang masih kuat dalam budaya gotong royong dan kebersamaan saat terjadi musibah. “Saya bangga kepada masyarakat Ciamis. Ketika ada bencana, kepedulian masyarakat masih sangat tinggi. Banyak gotong royong, swadaya, termasuk zakat, infak dan sedekah yang tidak tercatat dalam APBD, tetapi nyata dirasakan manfaatnya,” tutur Bupati.

Untuk para camat dan jajaran pemerintah, Bupati meminta agar tidak berkecil hati meski kondisi APBD terbatas. Ia mengajak semua pihak terus menggali potensi dan membangun kebersamaan dengan masyarakat. “Jangan berkecil hati. Dengan APBD kecil, kita harus bersama-sama menggali potensi yang ada. Insyaallah masyarakat Ciamis tidak akan sulit kalau kebersamaan tetap dijaga,” ujarnya.

Herdiat juga mengingatkan agar Baznas dan pihak yang bekerja membantu masyarakat tidak terpengaruh oleh kritik yang tidak membangun. Ia menegaskan bahwa selama bekerja sesuai aturan dan niat membantu, tidak perlu takut terhadap tudingan. “Tidak usah takut selama kita berada di jalur yang benar dan sesuai aturan. Kalau bekerja lillahi ta'ala membantu masyarakat, insyaallah akan dibela Allah SWT. Yang penting tetap jalan terus membantu masyarakat,” tandasnya.

Dengan bantuan Rp 5.000.000, keluarga Abun Mulyana berharap dapat memulai pembangunan kembali rumah yang hancur. Sementara itu, pemerintah daerah berusaha menyeimbangkan keterbatasan fiskal dengan solidaritas masyarakat, menunjukkan bahwa dukungan kolektif tetap menjadi kunci dalam menghadapi bencana di Ciamis.

LongsorBencanaBantuan PemerintahAPBD DefisitCiamisBaznasGotong Royong

Komentar

Memuat komentar...