Bapa Tahu Kebutuhan Kita, Berhentilah Khawatir

Bima J. · 5 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Bapa Tahu Kebutuhan Kita, Berhentilah Khawatir

Gambar atau konten salah?

Sabtu, 20 Juni 2026, menjadi momen bagi umat Katolik untuk merenungkan satu tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: kekhawatiran. Bacaan-bacaan liturgi hari ini, mulai dari Kitab 2 Tawarikh, Mazmur, hingga Injil Matius, semuanya berbicara tentang bagaimana manusia seringkali terjebak dalam kecemasan, dan bagaimana iman seharusnya menjadi jawaban.

Inti dari renungan hari ini sebenarnya sederhana. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Lalu, mengapa kita masih merasa perlu khawatir? Pertanyaan itu menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh bacaan dan refleksi.

Sebelum masuk ke dalam renungan yang lebih dalam, ada baiknya kita menyimak sabda Tuhan yang disampaikan melalui bacaan-bacaan hari ini.

Bacaan Pertama: 2 Tawarikh 24:17-25

Kisah ini dimulai setelah kematian Yoyada, seorang imam yang setia. Para pemimpin Yehuda datang dan menyembah raja. Sejak saat itu, raja mulai mendengarkan mereka. Masalahnya, mereka mulai meninggalkan rumah Tuhan. Mereka beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung. Akibatnya, Yehuda dan Yerusalem terkena murka.

Tuhan tidak tinggal diam. Ia mengutus nabi-nabi. Tujuannya satu: supaya mereka kembali kepada-Nya. Para nabi memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh. Namun, mereka menolak untuk mendengar.

Lalu, Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Zakharia berdiri di depan rakyat dan berkata, "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!"

Reaksi rakyat? Mereka bersekongkol melawan Zakharia. Atas perintah raja, mereka melempari Zakharia dengan batu di pelataran rumah Tuhan. Raja Yoas tidak ingat kesetiaan Yoyada, ayah Zakharia. Ia membunuh anak Yoyada itu. Saat sekarat, Zakharia berseru, "Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas!"

Pada pergantian tahun, tentara Aram datang menyerang Yoas. Mereka masuk ke Yehuda dan Yerusalem. Semua pemimpin habis dibunuh. Jarahan dikirim ke raja negeri Damsyik. Tentara Aram datang dengan sedikit orang, tetapi Tuhan menyerahkan tentara yang besar kepada mereka. Kenapa? Karena orang Yehuda telah meninggalkan Tuhan.

Orang Aram melakukan penghukuman kepada Yoas. Ketika mereka pergi, Yoas ditinggalkan dengan luka-luka berat. Pegawai-pegawainya bersekongkat melawan dia. Mereka membunuhnya di tempat tidurnya. Ia mati dan dikubur di kota Daud, tetapi tidak di pekuburan raja-raja.

Mazmur Tanggapan: Mazmur 89:4-5.29-30.31-32.33-34

Mazmur ini berbicara tentang janji Tuhan. "Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban Tuhan. Karena kesetiaan-Nya di antara jemaah orang-orang kudus.

Tuhan berjanji: anak cucu akan ada sampai selama-lamanya. Takhtanya seumur langit. Tapi ada syaratnya. Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat, jika mereka tidak hidup menurut hukum Tuhan, jika ketetapan Tuhan dilanggar, maka Tuhan akan membalas pelanggaran dengan gada. Dengan pukulan-pukulan.

Namun, ada satu kalimat kunci: "Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya." Tuhan tidak akan berlaku curang. Ia tidak akan melanggar perjanjian-Nya.

Bacaan Injil: Matius 6:24-34

Ini adalah bagian yang paling sering dikutip. Yesus berkata terus terang: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan." Ia akan membenci yang satu dan mengasihi yang lain. Kamu tidak bisa mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Lalu Yesus berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai." Hidup lebih penting dari makanan. Tubuh lebih penting dari pakaian.

Yesus meminta kita melihat burung-burung di langit. Mereka tidak menabur, tidak menuai, tidak mengumpulkan bekal. Tapi Bapa di sorga memberi mereka makan. Bukankah kita jauh lebih berharga dari burung?

"Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"

Lalu soal pakaian. Yesus berkata, perhatikan bunga bakung di ladang. Mereka tumbuh tanpa bekerja, tanpa memintal. Tapi Salomo dalam segala kemegahannya tidak berpakaian seindah bunga itu. Jika Tuhan mendandani rumput yang hari ini ada dan besok dibuang, tidakkah Ia akan lebih mendandani kita?

"Hai orang yang kurang percaya." Itu kata Yesus.

Jangan kuatir. Jangan berkata, "Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Tapi Bapa di sorga tahu. Ia tahu kita memerlukan semuanya.

Yang penting: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Maka semuanya akan ditambahkan. Jangan kuatir akan hari besok. Hari besok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Renungan Hari Ini: Bapa Maha Tahu, Mengapa Kita Masih Khawatir?

Ada satu kalimat dalam Injil yang menjadi pusat renungan: "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, padahal Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (Matius 6:32)

Kita sering mendengar bahwa khawatir itu wajar. Asal tidak berlebihan. Manusia pasti punya kekhawatiran. Karena sadar akan ketidakpastian. Tidak tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan.

Tapi sekarang, banyak orang mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Secara medis, ini disebut Generalized Anxiety Disorder atau GAD. Dampaknya negatif untuk kesehatan. Pikiran dan tubuh.

Yesus dalam Matius 6:24-34 mengingatkan kita. Tidak perlu khawatir tentang hari esok. Hari esok punya kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Yang terpenting: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.

Perikop ini menguatkan iman. Allah Bapa di surga tahu apa yang kita perlukan. Dari hari ke hari. Apakah kita masih perlu khawatir?

Sepuluh tahun lalu, ada satu pengalaman pribadi. Seseorang mengalami kekhawatiran yang cukup intens. Tapi kekhawatiran itu justru menambah pertumbuhan iman.

Waktu itu, mama mertua yang sudah lama sakit menyampaikan keinginan. Ia ingin mengunjungi adik ipar di luar kota. Reaksi saat mendengarnya campur aduk. Senang karena ada kesempatan untuk mengajaknya sebelum kondisi kesehatan semakin buruk. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran yang berkecamuk. "Mampukah saya mengajaknya ke luar kota dengan pesawat? Apakah ia akan sanggup melewati perjalanan yang melelahkan?"

Pagi hari, seperti biasa, sebelum membaca firman Tuhan, ada doa. Semua kekhawatiran dihaturkan kepada Tuhan. Tentang mengajak mama mertua ke luar kota. Doa selesai. Halaman Alkitab dibuka. Ayat pertama yang muncul: "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat." (Matius 10:7)

Seketika, kekhawatiran itu lenyap. Dalam hati, ada satu kalimat: "Tuhan Yesus hanya sedekat doa, mengapa saya masih khawatir?" Di situlah bibit iman bertambah. Sujud dan bersyukur. "Engkau Tuhan Yesusku yang hidup."

Doa Penutup

Allah Bapa Yang Maha Pengasih, puji dan syukur karena kasih setia-Mu yang menyatu dalam kami. Engkaulah yang mencukupkan semua kebutuhan hidup manusia. Mohon ampun, ya Allah Bapa, atas kerapuhan kami. Yang masih sering khawatir dalam perjalanan kehidupan ini. Kuatkanlah iman kami. Agar mampu bersandar dan berserah kepada-Mu. Sehingga perjalanan hidup kami adalah cerminan Kasih-Mu. Amin.

Demikian renungan harian Katolik untuk Sabtu, 20 Juni 2026. Lengkap dengan bacaan dan teks Mazmur Tanggapan.

---

Renungan hari ini menyentuh satu titik yang paling manusiawi: rasa khawatir. Dari bacaan pertama yang bercerita tentang bagaimana manusia meninggalkan Tuhan karena lebih percaya pada kekuasaan duniawi, hingga Injil yang secara langsung menantang kita untuk berhenti khawatir. Semua bacaan ini mengarah pada satu kesimpulan: Tuhan tahu. Ia tahu apa yang kita butuhkan. Ia tahu apa yang akan terjadi. Pertanyaannya, apakah kita percaya?

renungankekhawatiranimanTuhanpercayabacaanInjil

Komentar

Memuat komentar...