Biksu Thudong Semarak: Tanjakan Gombel dan Cuaca Panas
Gambar atau konten salah?
Seorang bhikkhu mengungkapkan bahwa rute paling berat bagi para biksu thudong adalah saat menaklukkan tanjakan Gombel di Semarang. Tanjakannya tinggi dan panjang, sehingga cukup menguras tenaga.
Setelah tiba di Boyolali, para biksu akan beristirahat di Vihara Veluvana, bagian kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Ampel. Besok pagi, 28 Mei 2026, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Kota Boyolali.
Bhikkhu Aggacitto, yang berasal dari Jepara dan bertugas di Medan, Sumatera Utara, menceritakan pengalaman perjalanan dari Candi Sima Jepara sampai ke Vihara Veluvana. Ia menyoroti kondisi rute dan cuaca selama perjalanan.
“Kalau untuk rute yang berat sebenarnya di daerah Semarang ya. Nah, mungkin tahu ya Gombel ya. Nah Gombel itu tanjakan tinggi kali itu. Nah, itu bukan pendek tapi tinggi, jauh lagi. Ya menurut kami itu yang untuk tanjakan yang betul-betul menguras tenaga,” kata Bhikkhu Aggacitto, ditemui sesampainya di kampus STIAB Smaratungga, Ampel, Boyolali, Rabu (27 Mei 2026).
Untuk cuaca, ia menjelaskan bahwa wilayah Demak terasa sangat panas dibandingkan daerah lain. “Tapi kalau untuk cuaca panas, ya memang sangat luar biasa panasnya itu di daerah Demak,” ungkapnya. Meski begitu, ia tetap melangkah maju. “Tapi meskipun demikian, langkah demi langkah tetap melangkah melaju ke depan dan akhirnya sore ini kita sudah sampai di sini (Vihara Veluvana, kampus STIAB Smaratungga, Ampel, Boyolali),” sambung ia.
Bhikkhu Aggacitto juga berbagi kesan-kesan perjalanan. Setiap daerah yang dilintasi memiliki keunikan tersendiri. “Work for Peace” menyambut Hari Raya Waisak ini. “Jadi dari Candi Sima, kemudian di Bangsri, di Mlonggo, di Jepara, Welahan, di Demak itu punya keistimewaan yang beda-beda. Karena mereka mempresentasikan dalam penyambutan itu tidak sama. Tapi secara umum mereka semuanya luar biasa,” imbuhnya.
Sejumlah 16 biksu memulai thudong dari Candi Sima Jepara, dengan estimasi kedatangan ke Candi Sewu pada Sabtu (30 Mei 2026). Ketua panitia kegiatan Thudong Jawa Tengah, Sundoko, menuturkan di Semarang bahwa jumlah biksu bertambah menjadi 17 orang. “Nanti di Semarang akan ada satu tambahan bhante, jadi 17. Tetapi nanti pada saat sebelum masuk ke Klaten itu ada tiga lagi yang keluar karena segera menjalankan tugas di Medan,” tuturnya, Minggu (24 Mei 2026).
Perjalanan thudong ini menandai komitmen para biksu untuk menapaki jalan spiritual sambil mengakui tantangan fisik dan cuaca. Rute yang menantang di Gombel dan cuaca panas di Demak menjadi bagian penting dari pengalaman mereka. Meskipun begitu, semangat melangkah terus berlanjut, menandai perjalanan spiritual yang penuh dedikasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
