BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

Bambang W. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
BMKG Peringatkan Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Panjang

Gambar atau konten salah?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan berlangsung lebih kering dan lebih lama dari biasanya. Puncak musim kemarau ini diperkirakan akan terjadi pada periode Juli hingga September 2026 di berbagai wilayah di Indonesia. Bersamaan dengan itu, fenomena El Nino diprediksi masih akan berlangsung hingga awal tahun 2027, dengan peluang mencapai kategori moderat hingga kuat.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah. Informasi ini disampaikan melalui unggahan resmi di akun Instagram BMKG pada Kamis, 18 Juni 2026. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi secara bertahap, dimulai dari bulan Juli hingga September 2026.

Wilayah yang Akan Terdampak Paling Awal

Pada bulan Juli 2026, puncak kemarau diprediksi akan melanda 83 zona musim (ZOM), yang mencakup sekitar 12,26 persen dari total wilayah Indonesia. Daerah-daerah yang akan merasakan dampak pertama ini meliputi sebagian wilayah Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Barat, sebagian Sulawesi Tengah, serta beberapa wilayah di Maluku dan Papua.

Memasuki bulan Agustus 2026, puncak kemarau diperkirakan akan meluas secara signifikan. Wilayah yang terdampak akan mencapai 369 ZOM, atau setara dengan 48,84 persen dari total wilayah Indonesia. Dampak ini akan terasa di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.

Wilayah yang Terdampak di September

Sementara itu, pada bulan September 2026, puncak kemarau diperkirakan akan terjadi di 169 ZOM, atau sekitar 25,41 persen dari wilayah Indonesia. Wilayah yang akan merasakan dampak pada bulan ini meliputi Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian NTT, bagian selatan Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan.

Prediksi El Nino Bertahan Hingga 2027

BMKG juga memprediksi bahwa fenomena El Nino akan terus berlangsung hingga awal tahun 2027. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan yang dilakukan pada awal Juni 2026. Peluang El Nino mencapai kategori moderat tercatat sangat tinggi, yaitu sebesar 98 persen. Sementara itu, peluang untuk mencapai kategori kuat mencapai 62 persen.

Meskipun demikian, BMKG menjelaskan bahwa dampak langsung dari El Nino terhadap wilayah Indonesia diperkirakan hanya akan berlangsung sepanjang musim kemarau, yaitu hingga Oktober 2026. Fenomena El Nino umumnya ditandai dengan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, gangguan pada sektor pertanian, serta kebakaran hutan dan lahan.

BMKG Mendorong Antisipasi Sejak Dini

BMKG mengingatkan seluruh masyarakat untuk mulai melakukan langkah-langkah antisipasi. Tujuannya adalah untuk menekan risiko kerugian yang mungkin timbul akibat musim kemarau dan El Nino. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi berjalan secara optimal.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah daerah (pemda)," ujar Faisal dalam unggahan di akun Instagram BMKG. Ia menambahkan, "Forkopimda, BPBD, dan pihak yang membutuhkan informasi yang lebih detail dan bagaimana cara memitigasi serta beradaptasi terkait dengan kondisi iklim yang terjadi saat ini."

Rekomendasi BMKG untuk Berbagai Sektor

BMKG juga memberikan sejumlah rekomendasi bagi berbagai sektor untuk menghadapi potensi dampak El Nino selama musim kemarau 2026. Salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus adalah sektor kesehatan. Pemerintah daerah diminta untuk menyiapkan respons yang cepat. Respons ini diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan polusi udara. Polusi udara yang meningkat berpotensi memicu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Secara keseluruhan, prediksi ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari biasanya. Dampak El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027 menambah urgensi bagi semua pihak untuk melakukan persiapan dan mitigasi sejak sekarang.

kemarauEl Ninokekeringankebakaran hutanBMKGprediksimusim kemarau

Komentar

Memuat komentar...