BPOM Temukan Takjil Mengandung Boraks dan Formalin
Gambar atau konten salah?
Menjelang pertengahan bulan Ramadan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI meningkatkan pengawasan pangan. Kegiatan ini dilakukan untuk melindungi masyarakat dari peredaran makanan berisiko menjelang Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Inspeksi pangan dilaksanakan pada Kamis (5/3/2026).
Hasil pemeriksaan menunjukkan BPOM masih menemukan takjil mengandung bahan berbahaya. Zat-zat terlarang yang ditemukan antara lain formalin, boraks, Rhodamin B, dan metanil yellow. Bahan-bahan ini bukan untuk tambahan pangan. Fungsinya ada di bidang industri. Penggunaannya dalam makanan sangat dilarang karena mengancam kesehatan.
Temuan Bahan Berbahaya pada Takjil
- Formalin terdeteksi dalam sampel seperti mi kuning, tahu bakso, teri nasi, cincau hitam, tahu kotak, sambal goreng cumi asin, dan tahu. Wilayah temuan meliputi Jakarta, Palembang, Lubuklinggau, Serang, Surabaya, Banyumas, dan Tangerang.
- Boraks ditemukan pada mi kuning basah, kerupuk, mi basah, sotong, janggelan, dan lontong. Lokasi penemuan boraks tersebar di Mataram, Serang, Surabaya, Bima, Kediri, dan Aceh Tengah.
- Rhodamin B, pewarna tekstil, ada di aneka kerupuk, bolu, jeli merah, es cendol, es guava, kue mangkok, dan sirup merah. Daerah temuan sangat luas: Denpasar, Jakarta, Makassar, Padang, Palembang, Pontianak, Serang, Ambon, Banyumas, Kediri, Palu, Tangerang, Tasikmalaya, hingga Bungo.
- Metanil yellow ditemukan pada sampel tahu berwarna oranye besar di Tangerang. Zat ini bahan kimia industri tekstil.
Temuan ini menjadi pengingat penting. Masyarakat harus lebih teliti saat memilih makanan, terutama takjil selama Ramadan. Zat kimia industri yang masuk ke tubuh melalui makanan membawa dampak kesehatan serius.
Dampak Bahan Kimia Berbahaya pada Kesehatan
Secara umum, paparan bahan kimia berbahaya dari makanan menyebabkan masalah pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare. Zat kimia ini mengiritasi lapisan lambung dan usus. BPOM menyatakan formalin dan boraks memicu keluhan akut pencernaan jika tertelan. Dampak bervariasi tergantung jenis zat dan durasi paparan.
1. Formalin
Formalin mengandung formaldehida. Biasanya dipakai sebagai disinfektan atau pengawet spesimen. Setelah masuk tubuh, formaldehida diubah menjadi asam format. Kadar asam darah meningkat, memicu stres oksidatif, yang merusak sel tubuh. Efeknya iritasi pencernaan. Paparan tinggi bisa menyebabkan asidosis metabolik, mengganggu keseimbangan asam-basa tubuh.
Jangka panjang, formaldehida merusak protein dan DNA sel. Ini berpotensi mengganggu fungsi hati dan ginjal. International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogen manusia. Ada risiko kerusakan genetik berulang yang meningkatkan potensi kanker nasofaring dan beberapa jenis kanker darah, seperti leukemia mieloid.
2. Boraks
Boraks, atau natrium tetraborat, digunakan di produk pembersih dan pengawet kayu. Setelah diserap, boraks mengganggu metabolisme sel. Ini menyebabkan iritasi pencernaan: mual, muntah, diare, dan sakit perut. Kondisi ini disebut gastroenteritis toksik.
Boraks membebani hati dan ginjal, organ detoksifikasi. Menurut Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR), boron yang tertelan akan diserap dan sebagian besar dikeluarkan lewat urine oleh ginjal. Ginjal terpapar paling banyak. Kerusakan berkelanjutan menurunkan fungsi penyaringan limbah tubuh. Ini bisa berkembang menjadi gagal ginjal akut. Gejala awal meliputi sedikit urine, badan bengkak, dan mudah lelah.
Studi toksikologi juga mengaitkan paparan jangka panjang boron dengan masalah reproduksi pria, memengaruhi hormon dan merusak jaringan testis pada penelitian hewan. Ada juga potensi dampak pada perkembangan janin.
3. Rhodamin B
Pewarna sintetis ini dipakai di tekstil, kertas, dan tinta. Setelah diserap, Rhodamin B diproses hati. Zat ini memicu radikal bebas dan stres oksidatif. Kerusakan sel hati terjadi, dikaitkan dengan hepatotoksisitas dalam studi toksikologi.
Karena sisa metabolisme dikeluarkan ginjal, paparan jangka panjang berpotensi merusak ginjal (nefrotoksisitas). Penelitian pada hewan menunjukkan paparan jangka panjang Rhodamin B dapat menyebabkan pembesaran hati, bahkan potensi tumor hati, seperti dilaporkan dalam studi di jurnal toksikologi.
4. Metanil Yellow
Metanil yellow adalah pewarna sintetis untuk tekstil dan kertas. Setelah diserap, hati memprosesnya. Studi toksikologi menunjukkan zat ini memicu stres oksidatif dan kerusakan sel, memengaruhi berbagai organ.
Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan metanil yellow menyebabkan kerusakan jaringan hati (hepatotoksisitas) dan perubahan sistem saraf (neurotoksisitas). Zat ini juga mengganggu hematopoiesis, yaitu pembentukan sel darah di sumsum tulang. Gangguan ini bisa menyebabkan anemia, ditandai lemas dan pucat.
Studi toksikologi juga melaporkan stres oksidatif merusak sel hati. Kerusakan berulang jangka panjang pada hewan percobaan dilaporkan bisa berkembang menjadi tumor hati.
BPOM mengimbau masyarakat lebih waspada saat membeli takjil Ramadan. Perhatikan warna, tekstur, dan aroma makanan yang tidak wajar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Keju setelah dessert: Manfaat bagi pH mulut, tapi tak cukup
Keju Sehari-hari: Manfaat Protein, Kalsium & Vitamin B12
Probiotik vs Gula: Pilihan Cerdas untuk Usus Sehat Mudah
Probiotik vs Prebiotik: Pilih Produk Tanpa Gula untuk Usus
Cheese Bukan Penyebab Kolesterol Tinggi: Penelitian Baru
Gula dalam Probiotik: Kunci Fermentasi dan Risiko Gizi
Berita Terbaru
Muharram 2025: Sepuluh Amalan Penting Memulai Tahun Baru Islam
Puasa 1 Muharam 1448 H: Boleh, Niat & Jadwal 16 Juni
Luwu Utara Cetak 2,960 Ha Lahan Sawah Baru, Target 20,000 Ha
PP PBVSI Pilih Toiran Gonzales Reidel, Timnas Siap AVC 2026
KKP Rencanakan Insentif Daerah untuk Hindari Sampah ke Laut
270 Personel Dishub & Polrestabes Lindungi CFD Palembang
Rupiah Jatuh ke Rp 18.000, Mata Uang Terlemah Asia 12 Juni
