Brain Rot: Cara Praktis Orang Tua Menghindari Anak Terpuruk

Arif S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Brain Rot: Cara Praktis Orang Tua Menghindari Anak Terpuruk

Gambar atau konten salah?

Brain rot kini bukan sekadar istilah viral, fenomena ini nyata dan mengancam. Penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan menjadi ancaman serius bagi anak-anak dan remaja di era media sosial. Berikut cara efektif mengatasinya, yang penting diketahui orang tua maupun pendidik.

1. Ubah pola konsumsi konten dari pasif menjadi aktif

Jurnal “Preventing Brain Rot: Learning Using Youtube Video Media in Testing Students' Analytical Abilities”, yang diterbitkan dalam Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) oleh Deni Nasir Ahmad dkk, menyoroti bahwa akar masalah brain rot terletak pada kebiasaan mengonsumsi konten secara pasif tanpa proses berpikir. Otak menjadi malas menganalisis dan berpikir kritis. Solusinya adalah beralih ke konsumsi konten yang aktif dan terarah. Misalnya, menonton video YouTube sambil membuat rangkuman kritis, menganalisis isi konten, atau berdiskusi. Jurnal ini juga menegaskan bahwa guru dan orang tua memegang peran penting dalam mendorong penggunaan platform digital sebagai media belajar, bukan sekadar hiburan pasif.

2. Perkuat literasi digital

Masih dari jurnal yang sama, literasi digital disebut sebagai benteng pertahanan utama melawan brain rot. Dengan kemampuan literasi digital yang baik, seseorang dapat berinteraksi secara kritis dengan konten di media sosial, bukan sekadar menelannya mentah-mentah. Interaksi kognitif dan pelatihan berpikir kritis yang konsisten bahkan diklaim mampu meregenerasi kemampuan mental yang sempat tumpul akibat paparan konten berkualitas rendah secara terus-menerus.

3. Batasi screen time sejak dini

RS Rapha Theresia menekankan peran penting orang tua dalam melindungi anak dari dampak brain rot. Salah satu langkah paling mendasar adalah membatasi screen time. World Health Organization (WHO) menyarankan anak usia dua hingga empat tahun hanya boleh menatap layar maksimal satu jam per hari, bahkan lebih sedikit lebih baik. Selain itu, orang tua disarankan menerapkan jadwal bebas gadget, terutama sebelum jam tidur, agar anak bisa beristirahat secara optimal dan terhindar dari kebiasaan scrolling tanpa tujuan.

4. Selektif dalam memilih konten

Brain rot bukan semata soal durasi penggunaan gadget, melainkan juga kualitas konten yang dikonsumsi. Orang tua dianjurkan mengarahkan anak untuk mengakses konten edukatif, seperti video pembelajaran, cerita anak, atau tayangan yang mengandung nilai moral, bukan konten yang sekadar menghibur tanpa substansi. Dengan demikian, waktu layar anak dipakai untuk menambah pengetahuan dan nilai, bukan sekadar mengisi waktu.

5. Perbanyak aktivitas di luar layar

Selain membatasi waktu layar, memperbanyak aktivitas fisik dan kreatif di luar layar juga penting. Mengajak anak bermain di luar rumah, membaca buku, menggambar, atau mengeksplorasi kegiatan kreatif lainnya dapat membantu otak beristirahat dari stimulasi digital sekaligus mengembangkan kemampuan kognitif secara alami. Aktivitas ini juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan rasa tanggung jawab, dua hal yang sangat mendukung perkembangan otak.

Dengan kesadaran, pendampingan yang tepat, serta perubahan kebiasaan yang konsisten, otak anak tetap bisa tumbuh optimal di tengah gempuran konten digital. Brain rot memang menjadi tantangan nyata di era digital, namun bukan berarti tidak dapat diatasi. Pendekatan yang terstruktur—mengubah pola konsumsi, memperkuat literasi digital, membatasi waktu layar, memilih konten yang bermakna, dan menambah aktivitas di luar layar—merupakan strategi yang dapat membantu menjaga kesehatan kognitif generasi muda.

Brain rotLiterasi digitalScreen timeMedia sosialKognitifAktivitas fisikPendidikan digital

Komentar

Memuat komentar...