Campak Kembali Merajalela di Indonesia, 58 Kasus Luar Biasa
Gambar atau konten salah?
Campak kembali menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama bagi anak-anak yang belum divaksin. Pada awal 2026, data menunjukkan peningkatan kasus di banyak daerah.
Menurut Kemenkes, hingga minggu ke-11 tahun 2026 (15 Maret 2026), tercatat 58 kejadian luar biasa di 39 kabupaten/kota yang tersebar di 14 provinsi.
World Health Organization (WHO) menjelaskan campak sebagai penyakit virus menular tinggi yang menargetkan anak-anak tanpa imunisasi. Penularan lewat udara memudahkan penyebaran.
Penting bagi orang tua mengenali gejala sejak dini agar dapat segera merawat anak. Buku Campak: Panduan Lengkap untuk Orang Tua karya Dr Septiani Aulya Putri menguraikan fase awal.
Fase Prodromal berlangsung 2–4 hari sebelum ruam muncul. Pada fase ini, demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan bintik Koplik mulai terlihat.
- Demam Tinggi – suhu tubuh bisa mencapai 39,5 °C hingga 40,5 °C. Demam datang tiba‑tiba, disertai rasa tidak enak badan, kelelahan ekstrem, dan sakit kepala. Setelah satu‑dua hari, demam turun sedikit, lalu naik kembali menjelang ruam.
- Batuk – batuk kering yang berlangsung beberapa hari, disebabkan peradangan saluran pernapasan akibat virus.
- Pilek – hidung berair dan tersumbat, mirip flu berat, membuat anak tidak nyaman.
- Mata Merah – mata tampak merah, berair, dan sensitif terhadap cahaya terang (fotofobia).
- Bintik Koplik – titik putih kecil seperti butiran garam, dikelilingi lingkaran merah, muncul 1–2 hari sebelum ruam. Biasanya hilang setelah ruam keluar.
Setelah fase prodromal, ruam merah khas campak muncul. Ruam biasanya bermula di wajah, leher, dan tubuh, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Warna ruam berubah menjadi kehitaman dan bersisik, dikenal sebagai hiperpigmentasi, kemudian mengelupas atau sembuh secara alami.
Menurut buku Penyakit Menular di Sekitar Anda oleh Obi Andareto, pemulihan campak pada anak biasanya memakan waktu hingga dua minggu. Selama fase penyembuhan, tubuh perlahan membersihkan sisa infeksi hingga anak benar-benar pulih.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu meredakan gejala campak. Tidak ada pengobatan khusus untuk virus campak, namun istirahat yang cukup, penggunaan obat penurun demam, dan antibiotik dapat meringankan gejala.
- Istirahat Cukup – pastikan anak tidak melakukan aktivitas berlebihan.
- Batasi Kontak Langsung – hindari sekolah dan isolasi dari anggota keluarga yang belum imunisasi lengkap, terutama bayi dan balita. Pisahkan peralatan makan dan mandi.
- Konsumsi Makanan Bergizi – sayur dan buah membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Jika anak sulit makan, olah makanan menjadi lebih lembut dan hindari gorengan serta minuman dingin.
- Penuhi Cairan Tubuh – demam tinggi menyebabkan kehilangan cairan. Beri air putih, jus buah, atau sup, terutama jika anak mengalami diare atau muntah.
- Mandikan Anak – setelah demam turun, mandi dapat mengurangi gatal akibat ruam. Gunakan sabun lembut dan keringkan dengan kain lembut.
- Redakan Demam dan Nyeri – beri obat penurun demam seperti paracetamol sesuai petunjuk dokter. Hindari aspirin karena risiko komplikasi.
- Atasi Batuk dan Pilek – gunakan pelembap udara (humidifier) untuk meredakan batuk dan hidung tersumbat.
Menurut laman resmi Ayo Sehat Kemenkes RI, pencegahan campak paling efektif adalah memberikan vaksin MMR kepada anak. Vaksin MMR juga melindungi dari gondongan dan rubella. Vaksin dianjurkan pada usia 9–12 bulan, dengan booster pada usia 5–6 tahun.
Gambar campak, mulai dari bintik Koplik hingga ruam merah, dilansir dari beberapa sumber. Bintik Koplik biasanya terlihat di bagian dalam pipi, tepat di seberang gigi geraham. Ruam merah muncul di wajah, leher, dan tubuh, kemudian menyebar ke seluruh tubuh.
Makassar – Campak kembali meneror dunia kesehatan di Indonesia. Anak-anak menjadi kelompok rentan, terutama yang belum terlindungi oleh vaksin. Dengan mengenali gejala sejak dini, orang tua dapat segera mengambil langkah pencegahan sekaligus menyiapkan perawatan. Mengetahui ciri-ciri campak, seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan bintik Koplik, membantu meminimalkan risiko komplikasi serius dan kematian pada anak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Weton Tulang Wangi: Tradisi Penanggalan Jawa Tetap Ada
Cek Bansos: Aplikasi Monitoring Bantuan Sosial di Ponsel
Doa Akhir Tahun 1448 H Dibaca Setelah Ashar 15 Juni 2026
1 Muharram 1448 H: 16 Juni 2026, Momen Amal dan Refleksi
Berita Terbaru
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Mourinho Setuju Kembali ke Real Madrid jika Perez Terpilih
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Sumsel Hormati Keputusan Presiden Makan Bergizi Gratis
Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir TJU
Bandara Adisutjipto Tak Perlu Direaktivasi, YIA Cukup
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
