Cirebon Siapkan Pompa Air dan Varietas Padi Tahan Kemarau

Nita W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 55 dibaca
Bisik.id
Cirebon Siapkan Pompa Air dan Varietas Padi Tahan Kemarau

Gambar atau konten salah?

Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, bergerak cepat untuk menanggulangi dampak musim kemarau yang semakin terasa di wilayahnya. Dalam rangka menjaga produktivitas petani, Dinas menyiapkan beberapa strategi, mulai dari penyiagaan pompa air, percepatan masa tanam, hingga penyebaran varietas padi yang tahan kekeringan.

Sub Koordinator Produksi Tanaman Pangan Dinas, Iwan Mulyawan, menegaskan bahwa langkah ini bersifat preventif. “Antisipasi pertama kami lakukan melalui koordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas PUTR, BBWS, dan PSDAP, terutama dalam hal distribusi dan ketersediaan air,” ujar Iwan, Selasa (28/4/2026).

Koordinasi lintas instansi dianggap kunci untuk memastikan suplai air irigasi tetap terjaga, khususnya di daerah rawan kekeringan saat musim kemarau tiba. Selain itu, Dinas telah menyiagakan berbagai pompa air alsintan, baik bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat.

“Kesiapan pompa ini penting sebagai langkah cepat untuk membantu petani menjaga pasokan air ketika debit mulai menurun,” tambah Iwan.

Petani juga diarahkan untuk mempercepat masa tanam. Strategi ini bertujuan agar tanaman padi sudah memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat sebelum puncak musim kemarau. “Harapannya saat kemarau datang, tanaman sudah cukup besar sehingga lebih tahan dan risiko gagal panen bisa ditekan,” jelasnya.

Dinas mengimbau petani menggunakan varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi kering, seperti Situ Bagendit serta padi gogo varietas Inpago 1 hingga Inpago 13.

Menurut data, Kabupaten Cirebon memiliki luas baku sawah sekitar 50.466 hektare berdasarkan data ATR/BPN, sementara pendataan Dinas mencatat sekitar 49.690 hektare lahan pertanian. Dari total tersebut, sekitar 45 ribu hektare aktif digunakan untuk budidaya padi, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk tanaman palawija dan sayuran.

Produktivitas pertanian di wilayah ini tergolong stabil. Rata‑rata produksi beras mencapai 350 ribu hingga 360 ribu ton per tahun, dengan surplus sekitar 90 ribu ton setelah memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. “Memang surplus kita menurun dibandingkan tahun 2014-2015 yang sempat mencapai 110 ribu ton, tetapi saat ini masih berada di kisaran 90 ribu ton per tahun,” ungkap Iwan.

Sebagai langkah antisipasi tambahan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga telah menyiapkan bantuan bagi petani jika terjadi gagal panen akibat kekeringan atau bencana lainnya. Bantuan tersebut meliputi benih dari Cadangan Benih Nasional (CBN) serta pupuk organik cair non‑subsidi. “Ada juga dukungan lain seperti perbaikan irigasi dan program pompanisasi untuk membantu petani tetap berproduksi,” tambahnya.

Sementara itu, seorang petani asal Kecamatan Gegesik, Rouf (59), mengungkapkan bahwa musim kemarau adalah masa yang ditakuti. “Air kalau udah kemarau susah banget sampe harus ngedadak bor sumur,” paparnya. Meski begitu, ia menegaskan memiliki sejumlah strategi untuk menghadapi musim kemarau, salah satunya memanfaatkan varietas tanaman padi.

“Paling cara saya buat hadapi kemarau ya nyepetin masa tanam sama pilih varietas padinya,” paparnya.

Dengan langkah-langkah koordinasi, penyiagaan infrastruktur, dan pemilihan varietas yang tepat, Dinas Pertanian Cirebon berusaha menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan kekeringan. Kesiapan petani dan dukungan pemerintah pusat menjadi pondasi penting untuk memastikan hasil panen tetap terjaga, meski musim kemarau semakin panjang.

Dinas Pertanian CirebonMusim kemarauPompa airVarietas padiIrigasiKoordinasi lintas instansiBantuan pemerintah

Komentar

Memuat komentar...