Denpasar Catat 2.036 Anak Tidak Sekolah, Fokus Verifikasi

Sinta R. · 2 min baca · 28 hari lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Denpasar Catat 2.036 Anak Tidak Sekolah, Fokus Verifikasi

Gambar atau konten salah?

Denpasar, Bali, mencatat jumlah anak tidak sekolah (ATS) sebanyak 2.036 orang pada periode pelaporan terakhir.

Data ini disampaikan oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Denpasar melalui Sistem Manajemen Data Anak Tidak Sekolah terintegrasi yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Menurut Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Nonformal (PNF) Disdikpora Denpasar, I Nyoman Handika, “Kalau bicara anak ATS komponennya ada jumlah dari drop out (DO) dan lulus tidak melanjutkan (LTM),” ketika diwawancarai 06 Mei 2026.

Jumlah ATS kategori putus sekolah (DO) tercatat sebanyak 1.111 anak. Tiga jumlah tertinggi berasal dari jenjang kelas 11 (283 anak), disusul kelas 10 (169 anak), dan kelas 8 (142 anak).

Sementara itu, ATS kategori lulus tidak melanjutkan (LTM) terdiri dari 301 anak dari kelas 6 dan 624 anak dari kelas 9.

Karena memang ATS fokus pada anak usia sekolah jenjang SD sampai dengan SMA sesuai program prioritas pemerintahm, yaitu wajar 13 tahun, yang terdiri dari 1 tahun pra SD (PAUD), SD, SMP dan SMA. Jadi data lulusan SMA tidak lanjut, tidak masuk dalam dasbor pemerintah,

Kecamatan Denpasar Selatan mencatat jumlah ATS kategori DO tertinggi, yakni 396 anak. Sementara ATS kategori LTM terbanyak berada di Kecamatan Denpasar Barat dengan 295 anak.

“Jadi setelah bertugas saya memantau bersama teman-teman. Kami juga masuk dalam tim tersebut, ini baru kami pantau dari dua tahun terakhir. Ada kemungkinan datanya belum terupdate dan kita belum menghubungi kementerian,” kata Handika.

Handika menuturkan salah satu kendala melakukan pendataan adalah kesulitan dalam proses pelacakan. Ia menemukan banyak penduduk di Denpasar yang tidak lagi menetap di wilayah tersebut, tetapi belum mengubah status kependudukannya.

Total ada sebanyak 1.103 ATS karena DO dan 453 di antaranya sudah terverifikasi. Sedangkan ATS karena LTM sebanyak 932 anak dan 486 di antaranya sudah diverifikasi.

“Saya kira semua faktor itu berpotensi menjadi indikasi. Macam-macam, peserta didik pindah domisili namun kependudukannya masih di Denpasar dan tidak terdeteksi melanjutkan dari data NISN-nya. Ada juga masalah salah pergaulan, kondisi kesehatan, migrasi dan penduduk non permanen juga,” ungkap Handika.

Masalah sosial seperti kurangnya motivasi, kenakalan remaja, dan ditemukan juga akibat pernikahan dini. Faktor ekonomi kami juga menemukan. Jadi banyak faktor yang harus kita temukan juga di lapangan. Hal ini juga disebabkan mobilitas penduduk yang tinggi,

Target Disdikpora Denpasar selanjutnya, tutur Handika, adalah melakukan verifikasi lapangan terlebih dahulu untuk pencatatan penduduk dengan menggandeng desa/kelurahan setempat serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Denpasar.

“Kami pasti berharap anak-anak kembali ke sekolah formal jika memungkinkan untuk persyaratan,” ujar Handika.

“Kami punya SPNF SKB dan 17 PKBM di Denpasar yang siap menampung ATS yang terkendala ke formal dan menjadikan lembaga lainnya sebagai pilihan melanjutkan pendidikan karena merasa lebih cocok,” tutur Handika.

Data ini menyoroti tantangan pendataan anak tidak sekolah di wilayah urban tinggi mobilitas. Verifikasi lapangan dan kerja sama dengan lembaga lokal menjadi kunci untuk menutup celah data dan memperkuat upaya pendidikan.

Anak Tidak Sekolah (ATS)DenpasarDrop Out (DO)Lulus Tidak Melanjutkan (LTM)Verifikasi LapanganMigrasi PendudukKependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil)

Komentar

Memuat komentar...