Desa Kebocoran: Nama Berakar dari Raden Kamandaka dan Air
Gambar atau konten salah?
Desa Kebocoran terletak di Kabupaten Banyumas, di tengah daerah pedalaman yang dikenal dengan nama uniknya. Nama desa ini tidak dipilih secara acak; ia berasal dari dua cerita yang telah diwariskan secara lisan selama bertahun‑tahun. Masyarakat setempat percaya bahwa nama ini berakar pada peristiwa sejarah yang tak terlupakan.
Pada Jumat, 29 Mei 2026, Eri Pujiono diwawancarai mengenai asal‑tamat nama desa.
Menurut Eri Pujiono, kepala desa, ada dua versi utama yang sering dibicarakan. Kedua cerita ini menghubungkan nama desa dengan peristiwa yang berbeda: satu tentang luka darah, satu lagi tentang aliran air yang tak pernah kering.
Versi pertama mengangkat kisah legendaris Raden Kamandaka, yang juga dikenal sebagai Raden Banyak Catra dalam Babad Pasirluhur dan cerita rakyat Banyumas. Konon, Kamandaka berangkat dari Pajajaran dan melintasi wilayah Kerajaan Galuh hingga Pasirluhur dengan menyamar sebagai rakyat biasa bernama Banyak Cotro. Selama perjalanan, ia mencari jodoh dan akhirnya bertemu dengan putri Demang Pasirluhur bernama Cipto Roso.
"Ini ada beberapa versi cerita sejarah Desa Kebocoran yang kami terima dari cerita-cerita orang tua dulu," kata Eri
Namun, kisah ini berubah menjadi tragedi ketika Kamandaka terlibat dalam pertarungan adu ayam. Ayam yang dipasangi pisau kecil, atau patrem, menabrak perut Kamandaka, menimbulkan luka serius. Dalam kondisi terluka, ia melarikan diri dan melewati Watu Sinom di wilayah Keniten sebelum akhirnya tiba di daerah yang kini dikenal sebagai Desa Kebocoran. Di sana, darahnya terus mengalir, sehingga warga menamai tempat itu “Kebocoran.”
"Jalunya dipasangi pisau kecil, namanya patrem. Itu kena perut Kamandaka, akhirnya luka," kata Eri
"Konon saat melewati sini, lukanya rembes atau bocor. Lalu muncul ucapan, besok tempat ini saya kasih nama Kebocoran," tuturnya
Setelah melewati desa ini, Kamandaka diyakini melanjutkan perjalanannya ke Bobosan dan sekitarnya. Namun, Eri menegaskan tidak ada catatan pasti mengenai akhir kisah Kamandaka setelah terluka. Ia memperkirakan cerita ini berasal dari era Pajajaran sekitar tahun 800-an, meski masih banyak yang belum terungkap.
Versi kedua mengangkat unsur air. Menurut warga, wilayah Desa Kebocoran sejak lama dikenal sebagai daerah yang tidak pernah kekeringan. Sungai, saluran, dan parit kecil di desa itu selalu mengalir sepanjang tahun. Karena itu, warga menyebutnya “kebocoran” karena airnya terus bocor.
"Konon desa ini tidak pernah kering, selalu tercukupi sumber air. Jadi seperti bocor terus airnya," kata Eri
Versi ini terkait dengan masa masuknya Islam dan periode perjuangan sebelum kemerdekaan. Di desa terdapat situs bernama Sumurwatu, yang diyakini pernah menjadi tempat singgah bagi tokoh penyebar Islam maupun pejuang perang. Eri mengungkapkan bahwa murid Sunan Kalijaga pernah singgah di situ, dan pasukan Pangeran Diponegoro pernah beristirahat atau bersembunyi di sana.
"Cerita yang kami dapat, muridnya Sunan Kalijaga pernah singgah di situ. Ada juga cerita pasukan Pangeran Diponegoro pernah istirahat atau bersembunyi di sana," ujarnya
Situs Sumurwatu berupa batu besar dengan cekungan di tengahnya. Warga percaya cekungan itu merupakan bekas ledakan granat yang tidak meledak saat masa peperangan. Eri menambahkan bahwa granat tersebut hanya membekas di batunya.
"Konon pernah kena granat tapi tidak meledak, hanya membekas di batunya," katanya
Selain Sumurwatu, nama jalan di desa juga memuat sejarah perjuangan. Jalan Sukamsi diyakini berasal dari nama pejuang yang pernah bertempur melawan penjajah di wilayah ini. Setelah kemerdekaan, makamnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, dan namanya diabadikan sebagai jalan sebagai penghormatan. Sementara nama Jalan Tarsono masih menjadi teka‑teki yang terus ditelusuri pemerintah desa.
"Informasi yang kami dapat, Sukamsi sempat dimakamkan di sini setelah gugur melawan penjajah," ujarnya
"Kalau Tarsono kami belum ketemu sejarah lengkapnya," kata Eri
Hingga kini, Desa Kebocoran dihuni oleh sekitar 5.800 jiwa. Di tengah perkembangan zaman, cerita rakyat ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Bagi warga, kisah Raden Kamandaka, Sumurwatu, dan tokoh perjuangan bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan bagian dari identitas desa yang diwariskan lintas generasi.
"Ini memang cerita dari mulut ke mulut. Kami juga masih terus mencari dan menyambungkan sejarahnya," tutur Eri
Dengan latar sejarah yang kaya, Desa Kebocoran menjadi contoh bagaimana nama tempat dapat mencerminkan peristiwa penting. Meskipun dua cerita berbeda, keduanya menyoroti nilai sejarah dan budaya yang melekat pada komunitas. Masyarakat tetap menjaga kisah ini, menambah kedalaman pemahaman tentang asal‑tamat nama desa dan warisan leluhur.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait