Desa Tutup: Saksi Sejarah Pelarian Prajurit Diponegoro

Andi B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Desa Tutup: Saksi Sejarah Pelarian Prajurit Diponegoro

Gambar atau konten salah?

Desa Tutup terletak di Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Desa ini dikenal sebagai saksi sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda. Pada masa perang Diponegoro, wilayah ini menjadi tempat persembunyian bagi prajurit Diponegoro yang ingin menghindar dari pasukan Belanda.

Dalhar Muhammadun mengatakan: “Jumlah penduduk di basis laskar Diponegoro menyusut. Penyusutan itu tidak hanya karena gugur di medan tempur, tapi juga mengungsi ke sejumlah wilayah lain. Blora menjadi salah satu daerah pelarian,” ucapnya saat diwawancara, Kamis 28 Mei 2026.

Menurut sejarawan tersebut, beberapa prajurit Diponegoro bersembunyi di Blora. Di antaranya Raden Ngabehi Honggowijoyo yang pada sekitar tahun 1830 mulai menetap di Desa Tutup. Ia dikenal dengan sebutan Mbah Datuk. Selain itu, Raden Kerto Joyo menetap di Dukuh Setro, Desa Tamanrejo, dan seorang lagi menetap di Dukuh Maguan, Desa Tamanrejo. Sayangnya, nama tokoh terakhir tidak tercatat.

“Dia mengatakan pelarian pasukan tersebut merupakan imbas dari perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) disebut sebagai perang terbesar sepanjang kekuasaan kompeni.”

Madun menyebut, imbas perang dahsyat tersebut merenggut nyawa 8000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi dan 200.000 orang Jawa.

Di Desa Tutup, Mbah Datuk beristirahat atau semedi di bawah pohon trutup. “Mbah Datuk pas masuk di Desa Tutup itu istirahatnya atau semedi di bawah pohon trutup. Terus di wilayah itu memang banyak pohon trutup,” papar dia.

“Kenapa menjadi Desa Tutup. Bahwa desa setempat itu tempat pelarian, tempat persembunyian pasukan Diponegoro. Maka desa situ memang tertutup, memproteksi diri, menutup diri. Menutup diri dari pengawasan orang luar, kehadiran orang luar termasuk pasukan musuh,” papar Madun.

Seorang tokoh Desa Tutup, Yuda Wikanto alias Gilang, menambahkan: “Kalau saya membacanya bukan pelarian, tapi penyebaran invasi Diponegoro. Itu terjadi kan sebelum Pangeran Diponegoro ditangkap,” jelas dia.

Ia juga menjelaskan strategi tersebut: “Itu pengembangan orang-orang Diponegoro agar bisa menguasai suatu basis,” jelas dia.

“Mbah Datuk alias Raden Ngabehi Honggowijoyo di akhir hayatnya dimakamkan di pemakaman keluarga yaitu Makam Keluarga Trah Honggowijoyo di Desa Tutup.”

Foto diunggah Kamis 28 Mei 2026.

Desa Tutup, yang dulunya menjadi tempat persembunyian prajurit Diponegoro, kini dikenang melalui nama dan cerita yang masih hidup. Kisah ini menegaskan bagaimana daerah kecil dapat berperan penting dalam sejarah perjuangan bangsa, sekaligus menjadi simbol ketahanan dan kebersamaan masyarakat setempat.

Desa TutupDiponegoroBloraPerang JawaRaden Ngabehi HonggowijoyoPersembunyianSejarah perjuangan

Komentar

Memuat komentar...