Dialog Kebudayaan Gowa Rayakan 400 Tahun Syekh Yusuf
Gambar atau konten salah?
Gowa – Meral Institute dan Angkatan Muda Syekh Yusuf Al-Makassari (AMSY) menggelar dialog kebudayaan pada 25 Maret 2026 di Balla Lompoa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Acara ini dirancang untuk memperingati 400 tahun kehidupan Syekh Yusuf Al-Makassari, pahlawan nasional yang lahir di Gowa.
Dialog ini mengundang berbagai kalangan, mulai dari pemuda hingga akademisi, untuk menelusuri pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf. Kegiatan ini berawal dari kesadaran generasi muda akan pentingnya pijakan sejarah dalam membangun masa depan.
Arief Rosyid Hasan, Founder Merial Institute dan inisiator acara, menjelaskan bahwa agenda ini lahir dari kesadaran anak muda akan pentingnya pijakan sejarah. Ia menilai visi Indonesia 2045 akan menjadi wacana jika tidak diimbangi dengan pemahaman sejarah yang kuat.
“Kita bicara Indonesia 2045 tapi kalau Indonesia 2045 itu kalau gak ajeg pijakan sejarahnya itu enggak, pasti akan rapuh lah,” ujar Arief di lokasi.
Arief menambahkan bahwa Syekh Yusuf merupakan tokoh besar yang bahkan diakui sebagai pahlawan oleh Afrika Selatan. Baginya, sangat penting bagi generasi muda untuk memahami gagasan besar sang pahlawan yang pernah menginspirasi tokoh dunia seperti Nelson Mandela.
“Gowa ini pernah punya tokoh besar yang tidak hanya jadi pahlawan di Indonesia, dia kan diakui di Afrika Selatan juga sebagai pahlawan, menginspirasi Nelson Mandela,” tuturnya.
Syekh Yusuf dikenal sebagai sosok intelektual sekaligus panglima perang melawan penjajah. Perjalanannya dimulai dari Gowa ke Aceh, lalu ke Makkah dan Madinah. Setelah kembali ke Nusantara, ia memimpin pasukan di Banten sebelum akhirnya dibuang ke Sri Lanka oleh pihak kolonial.
Perjuangannya terus berlanjut hingga masa pengasingan terakhirnya di Cape Town, Afrika Selatan. “Jadi kepemimpinan intelektual itu ternyata, orang yang kenal Syekh Yusuf itu kan, sebagai seorang sufi, tokoh agama kan, tapi lebih dari itu, ternyata Syekh Yusuf ini juga, panglima perang, ya aktivis,” ungkap Arief yang juga Ketua AMSY.
Ia menambahkan bahwa di setiap tempat pengasingannya, Syekh Yusuf konsisten membangun peradaban dan menyiarkan dakwah. Sosoknya menjadi bukti nyata bahwa nilai agama dan semangat perjuangan membela martabat bangsa bisa berjalan selaras.
“Jadi gak ada lagi tuh dikotomi, perjuangan di dunia dan di akhirat, semuanya ini dalam satu tarikan napas,” pungkasnya.
Acara ini menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan landasan bagi generasi berikutnya. Dengan mengenal tokoh seperti Syekh Yusuf, anak muda dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan semangat berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
