Dua Versi Legenda Si Pahit Lidah di Sumsel

Maya K. · 5 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Dua Versi Legenda Si Pahit Lidah di Sumsel

Gambar atau konten salah?

Di Sumatera Selatan, istilah "Si Pahit Lidah" sudah lama dikenal masyarakat. Bukan soal lidah yang pahit, melainkan kisah seorang pangeran sakti bernama Serunting. Hingga kini, orang-orang memakai istilah ini saat ucapan atau kutukan seseorang tiba-tiba menjadi kenyataan. Cerita rakyat ini menjadi salah satu cara untuk mengenal sejarah dan budaya di Sumsel. Ada dua versi cerita yang beredar.

Versi Panjang

Versi ini diambil dari jurnal berjudul "Analisis Strukturalisme dan Nilai Pendidikan Dalam Cerita Rakyat Si Pahit Lidah" karya Eva Dahlia. Alkisah, di daerah Sumidang, Sumatera Selatan, ada sebuah kerajaan besar. Di sana tinggal seorang pangeran bernama Serunting. Ia keturunan raksasa dari garis ibu yang bernama Putri Tenggang.

Serunting punya sifat buruk. Ia mudah iri hati terhadap milik orang lain. Ia tinggal bersama istrinya di kerajaan itu. Serunting memiliki adik ipar bernama Aria Tebing. Keduanya punya ladang yang bersebelahan, hanya dipisahkan pepohonan pembatas. Di bawah pohon itu, tumbuh cendawan atau jamur. Namun, cendawan di batas ladang itu menghasilkan hal berbeda. Cendawan yang menghadap ke ladang Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas murni. Sementara yang menghadap ke ladang Serunting tumbuh menjadi tanaman liar tak berguna.

Serunting pun iri. "Mengapa cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman tidak berguna? Sedangkan yang menghadap ke arah ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas. Ini pasti perbuatan Aria Tebing," pikirnya.

Keesokan harinya, Serunting menemui Aria Tebing dengan dendam dan marah. "Hai Aria Tebing, kamu telah berbuat curang kepadaku. Aku tidak terima cendawan yang tumbuh di pepohonan pembatas itu, yang menghadap ke arah ladangmu tumbuh menjadi logam emas, sedangkan cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna. Ini pasti perbuatan curangmu bukan?!" ucap Serunting.

"Tidak, tidak, aku tak pernah berbuat curang kepadamu," ujar Aria Tebing membela diri.

"Sudahlah, kamu jangan berbohong! Dua hari lagi, kita akan berduel, bersiaplah kamu Aria Tebing," tantang Serunting sebelum pergi.

Aria Tebing kebingungan. Ia mencari ide untuk mengalahkan Serunting. Ia tahu kakak iparnya itu sakti mandraguna. "Bagaimana aku bisa mengalahkan Serunting? Serunting itu orang sakti, tak mungkin aku bisa mengalahkannya."

Setelah lama berpikir, Aria Tebing mendapat ide. Ia membujuk kakaknya, istri Serunting, untuk memberitahukan rahasia kelemahan suaminya. "Wahai kakakku, beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu, Serunting. Beritahukanlah! Aku dalam keadaan terdesak, suamimu menantangku bertanding. Kalau aku kalah, pasti aku akan terbunuh."

"Maaf adikku, aku tidak mau mengkhianati suamiku, aku tidak mau memberitahukannya," ucap istri Serunting.

"Tetapi, bila kau tidak memberitahukannya, nanti aku dibunuh olehnya. Aku berjanji tidak akan membunuhnya," bujuk Aria Tebing.

"Baiklah, akan kuberitahukan. Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin," jawab istri Serunting akhirnya.

"Terima kasih, Kak, kau telah menyelamatkanku," ucap Aria Tebing.

Keesokan harinya, Serunting menemui Aria Tebing untuk mengadu kekuatan. Sebelum bertanding, Aria diam-diam menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin. Seketika itu juga, kekuatan Serunting lenyap dan ia terluka parah.

Pertapaan di Gunung Siguntang

Merasa dikhianati istrinya sendiri, Serunting pergi mengembara menahan kekecewaan. Saat tiba di Gunung Siguntang, ia berhenti dan bertapa di sana. Di tengah pertapaannya, ia mendengar suara bisikan gaib dari Hyang Mahameru. "Hai Serunting, mau mendapatkan kekuatan gaib? Kalau kamu mau, aku akan menurunkan ilmu itu kepadamu."

Serunting pun menjawab, "Baiklah, wahai Hyang Mahameru, aku mau kekuatan itu."

"Tapi ada satu persyaratan. Kamu harus bertapa di bawah pohon bambu. Setelah tubuhmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu, kamu baru berhasil mendapatkan kekuatan tersebut," ucap Hyang Mahameru.

Serunting menerima persyaratan itu dan mulai bertapa di bawah pohon bambu. Tak terasa, dua tahun telah berlalu. Daun-daun bambu yang gugur telah sepenuhnya menutupi tubuh Serunting. Saat terjaga dari pertapaannya, Serunting menyadari kesaktian barunya. Kini, setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan langsung mewujud menjadi kenyataan atau kutukan.

Dalam perjalanan pulang ke Sumidang, ia sempat mengutuk semua pohon tebu yang dilewatinya menjadi batu. Di sepanjang tepi Sungai Jambi, ia juga mengutuk orang-orang yang bersikap tidak ramah menjadi batu. Serunting tumbuh menjadi orang yang angkuh, sehingga orang-orang menjulukinya "Si Pahit Lidah".

Namun saat tiba di Bukit Serut, ia mulai menyadari kesalahannya. Ia mengubah Bukit Serut yang gundul menjadi hutan kayu yang lebat. Orang-orang pun berterima kasih karena bisa memanfaatkan hasil kayu yang melimpah. Saat tiba di Desa Karang Agung, Serunting melihat sepasang suami istri tua renta yang hidup miskin dan harus bekerja keras mengangkut kayu bakar. Merasa kasihan, Serunting menghampiri mereka untuk meminta seteguk air. Setelah diberi minum, Serunting berniat membalas kebaikan mereka dengan mengabulkan keinginan mereka memiliki anak.

Melihat sehelai rambut rontok yang menempel pada baju sang nenek, Serunting mengambilnya dan berucap, "Wahai rambut, jadilah engkau seorang bayi!" Dalam sekejap, sehelai rambut itu berubah menjadi bayi seutuhnya. Pasangan tua itu menangis bahagia dan berterima kasih. Serunting pun menyadari kebahagiaan dari membantu orang lain. Di sisa perjalanannya kembali ke Sumidang, ia belajar untuk selalu menolong sesama yang kesulitan.

Versi Pendek

Versi ini diambil dari buku "Teks Bacaan Berbasis Budaya Lokal Sumatera Selatan bagi Siswa Menengah Kejuruan" yang diedit oleh Rita Iderawati. Dalam versi lain, kisah Si Pahit Lidah yang juga dikenal dengan nama Serunting Sakti bermula saat ia berkunjung ke wilayah Pampangan dan Tulung Selapan. Dari seberang lebak atau rawa yang luas, ia mendengar suara ramai masyarakat yang sedang melaksanakan pesta perkawinan.

Ia berniat datang melihat acara perkawinan tersebut, tetapi ia tidak memiliki perahu. Serunting kemudian berulang kali memanggil warga maupun pemilik hewan di seberang agar dapat menyeberangkannya. Namun, tidak ada satu pun yang menggubris panggilannya. Di puncak kekesalannya, Si Pahit Lidah menyumpah apa yang ada di seberang rawa, baik yang sedang berjalan maupun diam, menjadi batu. Maka seketika itu juga, semua yang ada di wilayah itu berubah menjadi batu, mulai dari rombongan pengantin, payung, lesung, hingga gajah.

Sampai saat ini, hasil sumpah Si Pahit Lidah ini dipercaya tetap ada di objek wisata Desa Bukit Batu, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Jarak lokasi Bukit Batu dengan Kota Palembang sekitar 70 kilometer, atau dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 1,5 jam. Biasanya, ketika pengunjung datang ke Bukit Batu, para tamu yang ditemani oleh juru kunci setempat, Abu Samah alias Wak Gabus (83), akan disambut oleh sebongkah batu besar menyerupai gajah yang sedang duduk dengan keempat kaki tertekuk di bawah pohon. Situs inilah yang menjadi legenda asal-usul julukan Si Pahit Lidah bagi Pangeran Serunting karena kesaktian lidahnya.

Kedua versi cerita ini sama-sama mengisahkan asal mula julukan Si Pahit Lidah. Perbedaannya terletak pada latar dan peristiwa yang memicu kutukan. Versi panjang lebih menekankan pada konflik keluarga dan perjalanan spiritual Serunting, sementara versi pendek lebih sederhana dengan fokus pada sumpah di rawa yang mengubah segalanya menjadi batu. Keduanya memperkuat kepercayaan masyarakat Sumsel tentang kekuatan ucapan yang bisa menjadi kenyataan.

Si Pahit LidahSeruntingCerita RakyatSumatera SelatanKutukanLegendaBudaya

Komentar

Memuat komentar...