Durian Malaysia: Simbol Nasional, Tapi Peringkat Terburuk
Gambar atau konten salah?
Durian dikenal sebagai buah unggulan di Malaysia dan dianggap bagian penting dari identitas nasional negara tersebut. Banyak varietas yang tumbuh di wilayah Indonesia, Thailand, dan Malaysia, namun di Malaysia durian menjadi simbol kebanggaan.
Asosiasi Produsen Durian (DMA) Malaysia pernah meminta pemerintah mengakui durian sebagai buah nasional. Meskipun begitu, sebuah situs global bernama TasteAtlas menempatkan durian dalam daftar 37 buah tropis terburuk di dunia.
Hingga 16 Maret 2026, daftar tersebut mencatat 2.582 penilaian, di mana 1.646 di antaranya dianggap sah oleh sistem. Durian Musang King Malaysia masuk ke peringkat ke-10 dengan skor 3,7 dari 5 bintang.
Varietas Musang King, yang juga dikenal sebagai raja kunyit, telah beredar selama setidaknya 200 tahun berkat daging buah berwarna kuning pekat. Popularitasnya baru melonjak pada 1980-an ketika metode okulasi atau grafting diterapkan secara luas. Setelah itu, buah ini resmi terdaftar di Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertanian Malaysia, MARDI.
Budidaya Musang King masih terpusat di wilayah Pahang. Panen biasanya dilakukan selama musim monsoon barat daya, dengan ketersediaan puncak pada bulan Juni hingga Agustus. Buah ini memiliki kulit luar yang berduri khas dan ukuran besar.
Tekstur Musang King digambarkan kaya, lembut, dan buttery, sementara rasanya intens dan manis legit. Di Singapura hingga China, buah ini dipuji karena kualitas premium. Konsumen biasanya memakannya langsung atau mengolahnya menjadi hidangan penutup, seperti es krim dan pancake.
Namun, bagi banyak orang di luar wilayah yang terbiasa, aroma durian bisa terasa tajam dan mengganggu. Kadang-kadang aroma tersebut dibandingkan dengan belerang atau gas, sehingga menimbulkan penilaian negatif. Perpaduan rasa manis, pahit, dan tekstur legit juga terasa asing bagi sebagian orang.
Di antara 37 buah tropis terburuk, wood apple atau buah kawista dari India menduduki posisi pertama. Diikuti oleh Anona da Madeira, yang dikenal sebagai cherimoya di Portugal, serta matoke atau pisang hijau dari Uganda.
Perlu diingat bahwa peringkat ini tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan akhir secara global tentang makanan tersebut.
Secara keseluruhan, peringkat TasteAtlas menyoroti perbedaan persepsi antara penggemar lokal dan audiens internasional. Meskipun Musang King dihargai di pasar premium, aroma dan tekstur uniknya tetap menjadi faktor penentu bagi penilaian negatif di kalangan yang tidak terbiasa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
