Ekeng Gondok Tutup Citarum Ciminyak, Nelayan Terhenti

Dani L. · 3 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Ekeng Gondok Tutup Citarum Ciminyak, Nelayan Terhenti

Gambar atau konten salah?

Sungai Citarum di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat kini tampak kosong. Perairan yang dulu menampakkan riak air kini tertutup rapat oleh hamparan eceng gondok, tumbuh seperti karpet hijau tanpa ujung. Gulma air menutupi aliran sungai, membuat perahu nelayan tidak dapat menembus air dan restoran‑restoran terapung kehilangan pemandangan yang biasanya menjadi daya tarik.

Warga yang bergantung pada aliran Citarum kini hanya dapat menunggu arus membawa gulma ke hilir agar jala dan kail pancing dapat kembali ditebar. Salah satu saksi bisu, Awang Widiati, pemilik restoran dekat Jembatan Ciminyak, mengungkapkan bagaimana sungai perlahan kehilangan kehidupan.

"Ya seperti ini kondisinya, permukaan sungainya ditutup eceng gondok. Semakin kesini semakin banyak eceng gondoknya," kata Awang pada hari 05 Juni 2026. Foto yang diambil menampilkan lapisan eceng gondok yang menutupi sungai.

Penghentian aktivitas di atas sungai berdampak langsung pada roda ekonomi warga. Selama beberapa pekan terakhir, Awang terpaksa menyuplai ikan untuk restorannya dari luar daerah. Pasokan ikan dari nelayan dan petambak lokal lumpuh total akibat ekspansi eceng gondok yang tak terkendali.

"Ya kan biar sama-sama membantu, ikan yang dari tambak di sini kita beli. Ada juga yang dari nelayan, cuma kan sekarang buat ngejaring ikannya saja enggak bisa. Petambak juga kurang produksi ikannya, memang mengganggu (eceng gondok)," ujar Awang.

Rapatnya tutupan eceng gondok menciptakan kelembapan yang memicu ledakan populasi nyamuk. Kawanan serangga ini mulai meneror permukiman, memaksa warga bantaran sungai bertahan dari gigitan yang meresahkan di malam hari. Awang, yang rumahnya agak jauh dari sungai, tetap terganggu oleh nyamuk.

"Saya saja yang rumahnya agak jauh dari sungai masih terganggu sama nyamuk, apalagi yang di pinggir sungai. Sehari saya bisa habiskan 4 buah obat nyamuk bakar, kalau enggak gitu ya enggak bisa tidur karena terus digigit nyamuk," ucap Awang.

Di tengah keputusasaan, muncul perlawanan sunyi dari sosok Taufik Rahmat Wardani, 33 tahun, asal Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin. Ia memilih untuk tidak berpangku tangan. Saban hari, bila tubuhnya tidak sedang sakit, ia nekat menenggelamkan tubuhnya ke dalam air pekat Citarum hingga sebatas leher.

Dengan tangan kosong, ia berjibaku mengangkat beban berat eceng gondok dari permukaan waduk ke daratan selama dua hingga tiga jam. Awalnya dari 2017, ia hanya rutin. Namun pada 01 Januari 2025, ia memutuskan untuk rutin membersihkan eceng gondok setiap hari. Kondisi Waduk Saguling semakin parah tertutup eceng gondok.

"Awalnya dari 2017, cuma enggak rutin. Nah baru di Januari 2025, bersih-bersih eceng (gondok) ini saya rutinkan setiap hari. Ya seperti bisa kita lihat, kondisi Waduk Saguling semakin parah tertutup eceng (gondok)," kata Mang Kiclik beberapa waktu lalu.

Suatu ketika, Mang Kiclik mencoba mengukur jerih payahnya dalam sehari. Tumpukan gulma basah yang berhasil ia evakuasi ke darat mencapai berat setengah ton. Jumlah ini fantastis untuk usaha tanpa bantuan mesin atau alat berat apa pun.

"Ya pernah saya hitung, sekitar 5 kuintal, tapi kan tanamannya juga berat ya dan basah. Bukan itu sebetulnya yang penting, tapi dampaknya. Minimal kalau setiap hari, bisa berkurang meskipun enggak dibantu alat berat," ujar Mang Kiclik.

Perjuangan kedua warga ini menyoroti dampak ekologi dan ekonomi dari pertumbuhan eceng gondok. Sementara Awang berjuang mencari pasokan ikan, Mang Kiclik berusaha menurunkan jumlah gulma secara manual. Keduanya menunjukkan bahwa solusi tidak selalu memerlukan teknologi tinggi, melainkan kesungguhan dan kerja keras. Situasi ini mengingatkan bahwa kelestarian sungai memerlukan perhatian terus menerus, baik dari pemerintah maupun masyarakat lokal.

Sungai Citarumeceng gondokCiminyakBandung Baratkelestarian sungainyamukWaduk Saguling

Komentar

Memuat komentar...