El Nino 2026: BRIN Sebut Godzilla, Risiko Drought Panjang

Mira T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
El Nino 2026: BRIN Sebut Godzilla, Risiko Drought Panjang

Gambar atau konten salah?

El Nino diprediksi akan muncul kuat pada 01 April 2026 hingga 01 Oktober 2026, menandai musim kemarau di Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menamai fenomena ini “Godzilla” karena potensi intensitasnya yang ekstrem.

Fenomena ini dapat memicu perubahan besar pada pola cuaca global. Di Indonesia, risiko musim kemarau lebih panjang dan kering meningkat. El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang ketika menguat, memindahkan awan dan hujan menjauh dari wilayah negara.

Model iklim global menunjukkan bahwa pada 01 April 2026 hingga 01 Oktober 2026, El Nino akan berkembang. Periode ini bertepatan dengan musim kemarau, sehingga dampaknya dapat terasa lebih kuat dibandingkan waktu lain dalam setahun.

Prediksi juga menyebut kemungkinan terjadinya Indian Ocean Dipole positif bersamaan. Fenomena ini menandai pendinginan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa, yang menghambat pembentukan awan hujan. Akibatnya, sebagian besar wilayah Indonesia dapat mengalami penurunan curah hujan secara signifikan.

Dampaknya tidak merata. Wilayah selatan, seperti Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, diperkirakan akan mengalami kondisi kering lebih dulu. Sementara itu, wilayah timur, termasuk Sulawesi, Maluku, dan Halmahera, masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi.

Risiko utama adalah kekeringan, terutama di wilayah sentra pangan seperti Pantura Jawa. Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga meningkat di Sumatra dan Kalimantan. Di sisi lain, wilayah timur Indonesia perlu mewaspadai risiko banjir akibat curah hujan tinggi. Kondisi kemarau panjang juga dapat dimanfaatkan, misalnya untuk meningkatkan produksi garam nasional.

Erma Yulihastin, peneliti Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, mengingatkan: “Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional, khususnya di wilayah Pantura Jawa,

Ia menambahkan: “Di saat yang sama, pemerintah juga perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi potensi curah hujan tinggi di wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku, termasuk risiko banjir dan longsor,

Karena potensi dampaknya yang berbeda-beda, langkah mitigasi tidak dapat disamaratakan. Wilayah rawan kekeringan membutuhkan strategi pengelolaan air dan pangan, sementara daerah dengan potensi hujan tinggi perlu fokus pada pengendalian banjir. Dengan kesiapan sejak dini, dampak El Nino “Godzilla” dapat ditekan sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.

Prediksi ini menegaskan bahwa El Nino pada tahun 2026 akan menimbulkan perubahan cuaca yang signifikan, dengan dampak yang tidak merata di seluruh Indonesia. Persiapan yang disesuaikan secara regional menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan memanfaatkan kondisi ekstrem tersebut.

El NinoGodzillakekeringancurah hujan tinggibanjirIndonesiaBRINkebakaran hutan

Komentar

Memuat komentar...