Flare Matahari X2.4 & X2.5 Ganggu Sinyal Radio Bumi

Yanto K. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Flare Matahari X2.4 & X2.5 Ganggu Sinyal Radio Bumi

Gambar atau konten salah?

Matahari kembali menunjukkan aktivitas dahsyatnya. Dalam waktu kurang dari tujuh jam, bintang pusat Tata Surya melepaskan dua flare kelas X yang tergolong kuat dan memicu gangguan sinyal radio di Bumi.

Ledakan pertama terjadi pada 24 April 2026 pukul 01.07 UTC. Flare ini memiliki kelas X2.4 dan berasal dari wilayah sunspot aktif AR4419, yang berada di dekat tepi barat laut Matahari. Lebih dari setengah jam kemudian, pada 24 April 2026 pukul 08.13 UTC, flare kedua meledak dengan kelas X2.5, sedikit lebih kuat dari yang pertama. Kedua flare tersebut dikategorikan sebagai R3 atau radio blackout kuat oleh NOAA Space Weather Prediction Center.

Dalam klasifikasi flare Matahari, huruf X menandakan kategori paling kuat. Angka di belakang huruf X menunjukkan tingkat intensitasnya. Jadi, flare X2.5 memiliki kekuatan 2,5 kali dari flare X1.0. Angka ini membantu para ilmuwan menilai potensi dampak flare terhadap Bumi.

Dampak langsung dari kedua flare tersebut adalah gangguan pada komunikasi radio frekuensi tinggi atau HF radio. Komunikasi HF masih banyak dipakai dalam penerbangan, pelayaran, layanan darurat, dan komunikasi jarak jauh. NOAA mengklasifikasikan peristiwa ini sebagai R3, yang berarti komunikasi HF di wilayah siang hari bisa mengalami gangguan signifikan, termasuk sinyal melemah atau hilang sementara.

Solar flare adalah ledakan energi besar di atmosfer Matahari. Saat flare terjadi, radiasi elektromagnetik, termasuk sinar-X dan ultraviolet, melesat ke Bumi dengan kecepatan cahaya. Radiasi tersebut hanya membutuhkan waktu sekitar delapan menit untuk mencapai Bumi. Ketika tiba, radiasi ini mengionisasi lapisan atas atmosfer yang disebut ionosfer.

Di kondisi normal, ionosfer membantu memantulkan gelombang radio frekuensi tinggi sehingga sinyal bisa menempuh jarak jauh. Namun saat flare kuat terjadi, lapisan bawah ionosfer menjadi terlalu terionisasi. Akibatnya, gelombang radio lebih banyak kehilangan energi saat melintasi lapisan tersebut. Sinyal bisa melemah, terdistorsi, atau bahkan hilang sementara. Fenomena ini dikenal sebagai radio blackout.

Selain radio blackout, flare besar juga sering dikaitkan dengan coronal mass ejection (CME), yaitu lontaran plasma dan medan magnet dari Matahari. Karena AR4419 berada di dekat tepi Matahari, lontaran materialnya diperkirakan tidak mengarah langsung ke Bumi. Meski begitu, pemantauan tetap dilakukan karena sebagian material Matahari masih berpotensi menyapu Bumi secara tidak langsung atau glancing blow. Jika terjadi, dampaknya bisa memicu badai geomagnetik ringan hingga sedang dan meningkatkan peluang munculnya aurora di wilayah lintang tinggi.

Aktivitas Matahari yang meningkat ini terjadi seiring periode puncak Siklus Matahari 25. Pada fase seperti ini, jumlah sunspot, flare, dan letusan Matahari biasanya meningkat. Meskipun dampaknya bagi masyarakat umum mungkin tidak langsung terasa, bagi sistem teknologi modern, cuaca antariksa seperti ini tetap penting dipantau karena dapat memengaruhi komunikasi radio, satelit, navigasi, hingga jaringan listrik di wilayah tertentu.

Secara singkat, dua flare X yang meledak dalam waktu singkat di AR4419 menimbulkan gangguan radio kuat di Bumi. Dampaknya terutama dirasakan pada komunikasi HF, sementara potensi CME menambah risiko badai geomagnetik ringan. Kejadian ini menegaskan pentingnya pemantauan cuaca antariksa, terutama saat puncak Siklus Matahari 25, bagi semua sektor yang bergantung pada teknologi komunikasi dan listrik.

Flare MatahariKelas XAR4419Gangguan Radio HFNOAACMESiklus Matahari 25

Komentar

Memuat komentar...