Frekuensi Seks Tak Tentukan Hubungan Bahagia

Rini S. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 91 dibaca
Bisik.id
Frekuensi Seks Tak Tentukan Hubungan Bahagia

Gambar atau konten salah?

Banyak orang membandingkan kehidupan mereka, termasuk kehidupan asmara. Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa sering pasangan yang bahagia bercinta. Apakah frekuensi tinggi selalu berarti hubungan yang lebih baik?

Psikolog klinis, Dr Carolina Castaños, yang fokus pada terapi pernikahan dan keluarga, menyatakan bahwa tidak ada patokan pasti mengenai frekuensi hubungan intim bagi pasangan bahagia. Setiap pasangan memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda.

Menurut Castaños, frekuensi yang sering tidak otomatis menjadi tanda hubungan yang sehat atau memuaskan. "Anda bisa berhubungan seks setiap hari tetapi tetap merasa jauh dari pasangan, atau hanya seminggu sekali namun terasa sangat berarti," jelasnya.

Keintiman yang baik, menurut pendapatnya, adalah hasil dari hubungan yang sudah terjalin erat dan aman. Hubungan intim bukan seperti makan atau minum yang memiliki takaran pasti. Seks hanya melengkapi koneksi, bukan menjadi satu-satunya dasar hubungan.

Meskipun demikian, seks tetap menjadi bagian penting dalam banyak hubungan. Namun, karena sifatnya yang sangat pribadi, ketiadaan seks dalam waktu lama bisa menjadi indikasi adanya masalah. Castaños menyebutkan, "Jika Anda tidak berhubungan seks selama lebih dari satu bulan, itu bisa menjadi tanda ada masalah yang lebih mendalam dalam hubungan Anda."

Di sisi lain, terlalu sering bercinta juga bukan jaminan kesehatan relasi. Jika kehidupan seks terasa menyenangkan tetapi hubungan secara umum bermasalah, itu juga tidak ideal. Ada kemungkinan seseorang menggunakan seks untuk menutupi kekosongan emosional. Saat orgasme, tubuh melepaskan oksitosin, hormon yang dapat menurunkan kortisol (hormon stres). Pelepasan ini menimbulkan rasa nyaman dan euforia, yang bisa membuat seseorang terus mencarinya, mirip efek adiktif.

Ringkasan:

  • Tidak ada frekuensi bercinta yang pasti untuk mendefinisikan pasangan bahagia.
  • Kualitas koneksi lebih penting daripada kuantitas pertemuan intim.
  • Jeda lebih dari sebulan tanpa keintiman bisa menandakan adanya isu lebih dalam.
  • Seks berlebihan bisa menjadi upaya mengisi kekosongan emosional jika hubungan inti bermasalah.
Frekuensi bercintaPasangan bahagiaHubungan intimKepuasan hubunganPsikolog klinisKoneksi pasanganKesehatan hubungan

Komentar

Memuat komentar...