Gangguan Jiwa Bisa Memangkas 10-20 Tahun Hidup

Dedi S. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Gangguan Jiwa Bisa Memangkas 10-20 Tahun Hidup

Gambar atau konten salah?

Berjuang melawan gangguan kesehatan mental bukanlah perjalanan yang mudah. Beban yang ditanggung pikiran sudah sangat berat, bahkan sebelum akhirnya berdampak pada kondisi fisik seseorang. Namun, para ahli kini memberikan peringatan serius tentang bahaya tersembunyi yang mengintai.

Gangguan mental seperti kecemasan dan depresi ternyata tidak hanya menguras emosi. Perlahan, kondisi ini juga menggerogoti kesehatan fisik secara fatal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan mental umum—depresi, kecemasan, gangguan bipolar, skizofrenia, hingga PTSD—diam-diam bisa memangkas angka harapan hidup seseorang sebanyak 10 hingga 20 tahun.

Apa penyebab utamanya? Risiko tinggi penyakit kardiovaskular, atau gangguan jantung dan pembuluh darah, pada pasien dengan masalah kejiwaan menjadi biang kerok di balik kesenjangan usia yang mengerikan ini.

Hubungan Antara Kesehatan Mental dan Jantung

Kaitan erat antara kesehatan mental dan jantung dibedah dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah The Lancet Regional Health-Europe pada September 2025. Studi ini menyoroti bagaimana kondisi psikologis seseorang bisa memengaruhi kesehatan kardiovaskularnya.

Menurut studi tersebut, orang dengan gangguan mental menghadapi risiko 50 persen hingga dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung, stroke, dan kematian akibat kardiovaskular. Menariknya, hubungan ini bersifat dua arah. Orang yang sudah memiliki penyakit jantung juga lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi.

Data dari penelitian ini cukup mencengangkan. Orang dengan depresi memiliki kemungkinan 72 persen lebih besar untuk mengalami penyakit jantung. Sementara itu, penderita gangguan kecemasan menghadapi risiko kematian akibat kardiovaskular yang 41 persen lebih tinggi. Yang paling parah adalah penderita skizofrenia. Risiko mereka melonjak hampir dua kali lipat, dengan peningkatan dramatis sebesar 95 persen.

Para peneliti menjelaskan bahwa ada banyak faktor pemicu yang membuat kedua kondisi medis ini bisa menyerang bersamaan. Stres akut akibat kejadian traumatis maupun stres kronis sehari-hari tidak hanya memicu depresi atau kecemasan. Stres juga menjadi musuh utama bagi kesehatan jantung.

Secara biologis, stres memicu peradangan dalam tubuh dan mengacaukan respons hormon stres. Kondisi ini semakin diperparah oleh gaya hidup pasien depresi yang cenderung tidak sehat. Kebiasaan merokok, kurang bergerak, dan gangguan tidur kronis menjadi faktor yang memperburuk keadaan.

Kendala Pasien Gangguan Mental dalam Perawatan Penyakit Jantung

Ironisnya, meskipun kaitan ini sudah diketahui di dunia medis, pasien gangguan mental sering kali mendapatkan perawatan jantung yang kurang memadai. "Meski mereka lebih sering berinteraksi dengan sistem pelayanan kesehatan, mereka menjalani lebih sedikit pemeriksaan fisik dan skrining," ungkap peneliti.

Akibatnya, diagnosis penyakit fisik pada pasien gangguan mental sering terlambat dan telat diobati. Hambatan ini terjadi karena masalah struktural di masyarakat. Mulai dari stigma negatif soal gangguan jiwa hingga faktor ekonomi menjadi penghalang utama.

Para peneliti menegaskan bahwa sudah saatnya dunia medis menerapkan perawatan menyeluruh atau whole-person care. Banyaknya kasus gangguan mental yang tidak tertangani biasanya dipicu oleh keterbatasan akses layanan, stigma sosial, rendahnya literasi kesehatan, hingga minimnya dukungan keluarga.

Untuk mengatasi masalah ini, tim peneliti merekomendasikan beberapa strategi integrasi di fasilitas kesehatan:

  1. Skrining kesehatan mental rutin untuk pasien yang sedang berobat di poli jantung.
  2. Pemeriksaan dan pencegahan penyakit jantung berkala di fasilitas pelayanan kesehatan jiwa.
  3. Intervensi medis yang fokus mengelola stres, trauma, dan perbaikan gaya hidup.
  4. Kebijakan kesehatan yang menyasar masyarakat kurang mampu agar mendapat akses pengobatan yang layak.
  5. Penerapan terapi pikiran dan tubuh (mind-body practices) untuk menekan risiko penyakit fisik sekaligus mental.

Jika terus diabaikan, gangguan mental bisa merenggut sisa umur seseorang hingga satu atau dua dekade lebih cepat. Penyebabnya adalah komplikasi jantung yang sebenarnya bisa dicegah. Menguatkan dukungan kesehatan mental dan menyembuhkan jantung pasien secara beriringan bukan lagi pilihan. Ini adalah langkah penting untuk menyelamatkan jiwa.

Studi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan mental dan fisik tidak bisa dipisahkan. Depresi bukan sekadar perasaan sedih yang berkepanjangan. Kecemasan bukan hanya rasa khawatir yang berlebihan. Keduanya adalah kondisi medis serius yang, jika tidak ditangani, bisa memperpendek usia seseorang secara drastis. Perawatan yang terintegrasi antara layanan kesehatan jiwa dan jantung menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

kesehatan mentalpenyakit jantungdepresikecemasanharapan hidupstresperawatan terintegrasi

Komentar

Memuat komentar...