Gempa 4,8 di Jember: Tak Merusak Bangunan, Guncangan Ringan
Gambar atau konten salah?
Gempa bumi dengan magnitudo 5,1, yang kemudian diperbarui menjadi 4,8, mengguncang wilayah tenggara Jember, Jawa Timur pada sore hari Selasa, 26 Mei 2026. Guncangan terasa cukup kuat meski berlangsung singkat.
Warga di Ambulu, salah satu desa di wilayah tersebut, melaporkan bahwa gempa terjadi pada pukul 15.39 WIB. Rasya, seorang warga, mendengar suara benda bergerak sebelum rumahnya mulai bergoyang. Ia berkata, “Waktu itu jam 15.39 WIB, kalau nggak salah, rasanya kayak ada goyangan tapi sedikit dari atas rumah itu ada bunyi ‘kresek kresek’ baru rumah itu bergoyang sebentar.”
Ia menambahkan, “Syukur alhamdulillah tidak ada kerusakan cuma kotoran dari atap rumah itu jatuh.” Meskipun guncangan terasa, tidak ada kerusakan struktural pada bangunan. Debu dan kotoran yang jatuh hanyalah akibat atap yang terlepas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa gempa ini dipicu oleh deformasi batuan di dalam lempeng bumi, bukan oleh sesar di permukaan. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 15.39 WIB dengan episenter berada di laut sekitar 99 km arah tenggara Jember. Ia menulis, “Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M4,8. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 9,07° LS ; 113,82° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 99 Km arah Tenggara, Jember, Jawa Timur pada kedalaman 14 km.”
Menurut Wijayanto, gempa ini tergolong gempa dangkal karena kedalaman 14 km. Mekanisme sumbernya adalah pergerakan geser (strike‑slip). Ia menegaskan, “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike‑slip).”
Getaran gempa dirasakan cukup kuat di Jember, dengan intensitas IV MMI. Di Banyuwangi, Bondowoso, Malang, Kuta, dan Kuta Selatan, intensitas dirasakan antara III–IV MMI, sedangkan di Denpasar, Blitar, dan Trenggalek getaran terasa lebih lemah.
Gempa ini menegaskan pentingnya pemantauan seismik di wilayah Jawa Timur, di mana aktivitas tektonik masih cukup aktif. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar, kejadian ini mengingatkan masyarakat akan potensi gempa di daerah pesisir. Peningkatan kesadaran dan persiapan akan membantu mengurangi dampak jika gempa serupa terjadi di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun