Gempa Buol 5,4 SR Tewaskan Pasien, Warga Mengungsi

Wulan M. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gempa Buol 5,4 SR Tewaskan Pasien, Warga Mengungsi

Gambar atau konten salah?

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada Minggu malam, 12 Juli 2026. Bencana ini tidak hanya merusak bangunan, tapi juga merenggut nyawa seorang pasien rumah sakit dan membuat warga panik hingga mengungsi ke perbukitan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 20.46 WIB atau 21.46 Wita. Pusat gempa berada di laut, sekitar 37 kilometer timur laut Buol, pada koordinat 1,31° Lintang Utara dan 121,36° Bujur Timur.

Berikut rangkuman fakta-fakta penting terkait gempa Buol yang mengguncang warga:

1. Gempa Dangkal Akibat Subduksi

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa ini termasuk jenis gempa bumi dangkal. Analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki pergerakan naik geser atau oblique-thrust.

"Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 5,1 pada kedalaman 21 km," ujar Wijayanto dalam keterangannya, Senin, 13 Juli 2026.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi," lanjutnya.

Guncangan dirasakan dengan skala intensitas IV MMI di daerah Karamat, Biau, Lakea, Kota Tolitoli, dan Kota Buol. Skala III MMI terasa di Kota Parigi, Kota Marisa, dan Kota Tilamuta. Hingga pukul 21.05 WIB, BMKG belum mendeteksi adanya gempa susulan.

2. Pasien RSUD Buol Meninggal Dunia

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Moh. Kachfi Mardjuni, mengatakan kepanikan melanda saat gempa terjadi. Pasien di RSUD Buol dievakuasi keluar gedung, dan satu orang dilaporkan meninggal.

"Iya, yang meninggal pasien RSUD Buol, karena panik, dan serangan jantung," kata Kachfi kepada wartawan, Senin, 13 Juli 2026.

Warga yang panik melakukan evakuasi mandiri dengan naik ke dataran tinggi atau pegunungan. Kekhawatiran tsunami membuat mereka berlari ke gunung di sekitar kantor bupati Buol.

"Ia karena panik, sebagian warga berlarian ke arah gunung. Sekitaran kantor Bupati," terangnya.

Pada Senin pagi, sebagian warga sudah kembali ke rumah. Namun, kewaspadaan tetap diminta terhadap kemungkinan gempa susulan.

"Situasi sudah kondusif, sebagian besar warga telah kembali ke rumah masing-masing," katanya.

3. Sejumlah Bangunan Rusak

Gempa juga merusak beberapa bangunan. Kachfi menyebut ada kerusakan ringan hingga berat, meski pendataan masih berlangsung.

"Ada beberapa bangunan (mengalami kerusakan)," ujarnya.

Data sementara mencatat bangunan yang rusak meliputi Kantor Mal Pelayanan Publik, Kantor Inspektorat, dan Rumah Makan Daeng Sugi di Leok II. Rumah warga di Lingkungan Bundo, Kelurahan Kali, juga terdampak.

"Sebagian ruang perawatan RSUD Buol, serta sebuah rumah warga di Leok II," tambah Moh. Kachfi.

4. 75 Rumah Warga Rusak

Selain bangunan perkantoran, gempa merusak rumah warga. Data sementara menunjukkan 75 unit rumah mengalami kerusakan.

"Saat ini kami masih terus melakukan asesmen di lapangan. Ada 75 unit rumah warga yang sudah terdata (mengalami kerusakan)," beber Kachfi.

Pendataan masih dilakukan tim reaksi cepat (TRC) di lapangan. Jumlah rumah terdampak berpotensi bertambah.

"Masih dalam proses pendataan. Ada rumah rusak ringan hingga berat. Namun, belum terdata pasti," kata Kachfi.

Sebagian besar rumah mengalami kerusakan ringan. Empat rumah telah teridentifikasi mengalami kerusakan berat.

5. Warga Lari ke Gunung karena Takut Tsunami

Seorang warga bernama Nova merasakan guncangan kuat yang disertai pemadaman listrik. Saat gempa, ia berada di rumahnya di Desa Negeri Lama, Kecamatan Bokat.

"Waktu gempa saya sementara di rumah. Pas itu sekitar setengah 10 malam. Tiba-tiba goyang kuat, lampu langsung mati," kata Nova, Senin, 13 Juli 2026.

Rumahnya tidak jauh dari bibir pantai. Nova bersama keluarganya memilih mengungsi ke arah perbukitan. Kepanikan warga dipicu kekhawatiran akan potensi tsunami.

"Iya, kami lari karena rumah kami dekat sekali dengan pantai. Jadi langsung lari ke gunung. Keras sekali gempanya, terasa kuat getaran di tanah. Saya sementara baring di kamar, tiba-tiba langsung goyang," ujarnya.

"Kami lari karena takut tsunami. Gempa lumayan lama dan kuat, ditambah rumah dekat sekali dengan pantai," lanjutnya.

6. Air Laut Surut Picu Kepanikan

Warga lain bernama Niong sedang bersama anak dan suaminya di rumah di Kelurahan Buol, Kecamatan Biau, saat gempa terjadi. Kepanikan makin menjadi ketika warga melihat air laut surut.

"Waktu gempa saya sementara di rumah dengan anak-anak dan suami. Awalnya panik karena lihat orang-orang lari sambil bilang air surut. Karena dengar itu, kami ikut lari ke atas gunung," kata Niong.

Di tengah kepanikan, Niong berusaha menghubungi ayahnya yang tinggal di lokasi berbeda di Kabupaten Buol. Namun, jaringan telekomunikasi sempat terganggu beberapa menit setelah gempa.

"Saya mau hubungi bapak, tapi beberapa menit setelah gempa jaringan hilang. Rumah saya dan orang tua memang beda, tapi masih sama-sama di Buol. Saya juga coba hubungi tetangga dekat rumah orang tua, semuanya tidak aktif," ungkapnya.

Niong ingin memastikan kondisi orang tuanya terlebih dahulu. Rencana itu urung dilakukan karena jalan dipenuhi kendaraan dan warga yang mengungsi.

"Sebenarnya sebelum ke gunung saya mau ke rumah orang tua dulu. Tapi sudah terjebak macet karena banyak warga yang lari," ujarnya.

7. Warga Berbondong-bondong ke Gunung

Niong menggambarkan suasana saat itu penuh kepanikan. Hampir seluruh warga berbondong-bondong menuju dataran tinggi karena khawatir tsunami setelah merasakan guncangan yang cukup kuat.

"Ramai sekali orang. Hampir semua lari ke gunung karena takut terjadi tsunami. Gempanya memang lumayan keras," katanya.

Beberapa jam setelah kejadian, Niong mendapat kabar bahwa orang tuanya selamat. Situasi di Buol berangsur kondusif setelah BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami.

"Alhamdulillah sekarang sudah aman. Beberapa jam setelah kejadian saya sudah dapat kabar kalau orang tua juga aman," pungkasnya.

Gempa Buol menjadi pengingat bahwa wilayah pesisir di Indonesia, yang berada di jalur subduksi, selalu menghadapi risiko guncangan dan tsunami. Kepanikan massal, meski wajar, menunjukkan perlunya edukasi kebencanaan yang lebih baik agar evakuasi berjalan lebih teratur dan risiko korban jiwa bisa ditekan.

gempa buolmagnitudo 5,4pasien meninggalbangunan rusakwarga mengungsitsunamisubduksi

Komentar

Memuat komentar...