Gempa Palu 2026: Sesar Palolo Pemicu, Bukan Sesar Sausu
Gambar atau konten salah?
Palu — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis hasil kajian terbaru terkait gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa dampak kerusakan yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh kekuatan gempa, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi struktur geologi di wilayah yang terdampak.
Gempa bumi tektonik ini terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 11.27 Wita. Pusat gempa berada di darat, sekitar 42 kilometer (km) arah tenggara dari Kota Palu, dengan kedalaman hanya 10 km. Guncangan terasa kuat hingga ke Kabupaten Sigi, Poso, dan Parigi Moutong.
Kabupaten Sigi menjadi salah satu daerah yang paling parah terkena dampak. Tiga warga dilaporkan meninggal dunia. Ribuan rumah warga rusak, dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
"Gempa bumi ini menyebabkan kerusakan bangunan rumah warga, kantor serta infrastruktur jalan dan jembatan. Kami juga menemukan retakan tanah, penurunan lahan, dan longsoran di beberapa lokasi," kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan yang dirilis pada Minggu, 21 Juni 2026.
Kedalaman gempa yang dangkal membuat guncangan terasa sangat kuat di wilayah terdampak. Gempa susulan masih terus terjadi setelah gempa utama berkekuatan M 6,7. Ini menandakan bahwa proses penyesuaian tegangan batuan di dalam bumi masih berlangsung.
Berikut lima temuan utama Badan Geologi dari hasil kajian mereka:
1. Gempa M 6,7 Dipicu Aktivitas Sesar Palolo
Badan Geologi mengungkapkan bahwa gempa tektonik M 6,7 ini dipicu oleh aktivitas Sesar Palolo. Temuan ini berbeda dengan dugaan awal dari BMKG yang menyebutkan Sesar Sausu sebagai pemicu. Kesimpulan ini didapat dari analisis distribusi gempa susulan, kondisi geologi permukaan, pola kerusakan, dan data geofisika bawah permukaan.
"Kajian Badan Geologi mengindikasikan keterkaitan kuat antara gempa ini dengan struktur geologi Graben Palolo," ungkap Lana.
Ia menambahkan, gempa ini tidak berdiri sendiri. Gempa ini berkaitan dengan sistem struktur aktif yang berkembang di wilayah Sulawesi Tengah. Sebaran gempa susulan menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi sumber gempa.
"Analisis kami menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di kawasan Graben Palolo menjadi faktor utama yang mengontrol kejadian gempa ini," tegasnya.
2. Palu-Sigi Masuk Kategori Rawan Tinggi Gempa
Berdasarkan peta kawasan rawan bencana gempa bumi yang disusun Badan Geologi, sebagian besar wilayah terdampak berada pada kategori kerawanan menengah hingga tinggi. Wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi meliputi Palu dan Sigi.
"Kawasan dengan kerawanan tinggi, antara lain mencakup di beberapa wilayah di Kabupaten Sigi-Kota Palu seperti Dolo, Gumbasa, Marawola, Tanambulava, Palu Barat, Palu Selatan dan Palu Utara. Sementara wilayah lainnya berada pada kategori menengah hingga tinggi," paparnya.
Tingkat kerawanan ini disusun berdasarkan berbagai parameter geologi. Parameter tersebut meliputi keberadaan sesar aktif, karakteristik batuan dan tanah, sejarah kegempaan, serta potensi guncangan.
"Peta kerawanan ini bukan merupakan prediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan gambaran tingkat potensi bahaya apabila gempa terjadi di wilayah tersebut," tambah Lana.
3. Struktur Geologi Memperparah Dampak Gempa
Badan Geologi menyatakan bahwa struktur geologi yang rumit menjadi faktor penting yang memperparah dampak kerusakan. Hal ini terlihat dari fenomena longsoran dan jalan yang amblas akibat gempa.
"Kejadian gempa bumi utama yang diikuti oleh banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran struktur geologi yang berkembang intensif di wilayah terdampak," terang Lana.
Karakteristik tanah sangat mempengaruhi tingkat guncangan. Tanah lunak cenderung memperkuat efek getaran, sehingga meningkatkan potensi kerusakan bangunan.
"Adanya dampak kerusakan pada bangunan menunjukkan bahwa lokasi episenter berada dekat dengan pemukiman penduduk, disertai dengan kondisi tanah lunak sehingga meningkatkan efek guncangan gempa yang menimbulkan dampak kerusakan," jelasnya.
4. Penyebab Air Laut Teluk Palu Sempat Surut
Badan Geologi juga melaporkan hasil analisis terkait fenomena air laut di Teluk Palu yang sempat surut saat gempa M 6,7 mengguncang. Fenomena yang sempat viral di media sosial ini diduga disebabkan oleh penurunan lahan.
"Fenomena surutnya air laut di Teluk Palu, kemungkinan berasal dari penurunan lahan yang menyebabkan sebagian dataran pantai amblas ke dalam laut saat mendapat guncangan bumi," kata Lana.
Ia mengakui fenomena itu sempat menjadi perhatian. Badan Geologi memastikan fenomena itu tidak sampai menimbulkan tsunami, meski kajian lebih lanjut masih diperlukan.
"Kami perlu menegaskan bahwa kajian lebih lanjut masih dilakukan, karena itu masyarakat sebaiknya selalu mengikuti informasi resmi baik itu dari BMKG dan instansi terkait apabila terjadi fenomena yang tidak biasa di wilayah pesisir," jelas Lana.
5. Empat Daerah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi
Badan Geologi juga merilis peta potensi likuefaksi pascagempa M 6,7. Empat kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah dilaporkan rentan mengalami likuefaksi, yaitu fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat guncangan gempa.
"Peta potensi likuefaksi menunjukkan beberapa wilayah memiliki peluang mengalami likuefaksi. Wilayah yang perlu mendapatkan perhatian antara lain Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong dan juga sebagian Kabupaten Poso," ungkap Lana.
Hasil analisis menunjukkan, potensi likuefaksi di Sigi terjadi di wilayah Nokilalaki, Danau Lindu, Gumbasa, Tanambulava, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Barat, Dolo Selatan, dan Marawola. Di Palu, potensi ini tersebar di Palu Selatan, Tatangan, Palu Timur, Palu Barat, dan Ulujadi.
Di Parigi Moutong, wilayah yang berpotensi meliputi Parigi Selatan, Torue, Balinggi, dan Sausu. Sementara di Poso, daerah yang rawan adalah pesisir utara. Badan Geologi berharap peta potensi likuefaksi ini menjadi acuan bagi pemerintah untuk menyiapkan mitigasi.
"Potensi bukan berarti pasti terjadi, tetapi menunjukkan perlunya kewaspadaan dan mitigasi. Kajian lebih rinci tetap diperlukan untuk menentukan tingkat risiko pada lokasi yang spesifik," jelasnya.
Gempa di Palu dan sekitarnya ini menjadi pengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memang berada di zona tektonik yang kompleks. Keberadaan sesar aktif, struktur tanah yang lunak, dan sejarah kegempaan membuat daerah ini sangat rentan terhadap guncangan. Bukan hanya soal kekuatan gempa, tetapi juga bagaimana kondisi tanah dan batuan di bawahnya bereaksi. Inilah yang membuat dampak kerusakan bisa jauh lebih parah dari yang diperkirakan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
22 Juni 2026 Tepat 7 Muharram 1448 H
Peta Risiko Likuefaksi Sulawesi Tengah Dirilis, Empat Wilayah Waspada
30 Lagu Perpisahan Sekolah Paling Menyentuh Hati
Gempa Palu-Sigi: Tanah Lunak dan Sesar Aktif Memperparah Kerusakan
Panduan Doa Rosario Minggu 21 Juni 2026
Kebenaran Akan Terbuka, Tuhan Membela
Berita Terbaru
515 Titik Panas di Sumsel Juni Ini, Hujan Redam Lonjakan
Dana Rp14 M Disiapkan untuk Perbaikan Saluran Air di Kuta Utara
Jual Rumah Warisan: Semua Ahli Waris Wajib Setuju
Gempa Palu 2026: Sesar Palolo Pemicu, Bukan Sesar Sausu
Iran Gagal Manfaatkan Unggul Pemain, Imbang 0-0 Lawan Belgia
BRIN Pastikan Indonesia Tak Alami Godzilla El Niño 2026
Negara Jamin Pembeli Obligasi Danantara Bebas Tuntutan Pidana dan Perdata
7 Sinyal Diabetes di Pagi Hari yang Sering Diabaikan
Grace Natalie Sambangi Rumah Jokowi di Solo
