Gunung Kawi: Tradisi Kejawen, Bukan Ritual Pesugihan
Gambar atau konten salah?
Misteri Gunung Kawi, yang lama dikenal sebagai tempat pesugihan dan tumbal, kembali menjadi perbincangan publik. Untuk mengurai kebingungan netizen, Marcel Radhival, yang lebih dikenal sebagai Pesulap Merah, langsung menelusuri Keraton Gunung Kawi di Kabupaten Malang.
Tujuannya sederhana: menjawab pertanyaan tentang dugaan praktik pesugihan dan tumbal di lokasi yang selama ini dianggap sebagai salah satu tempat ritual paling populer di Indonesia. Marcel tidak hanya mengunjungi, tapi juga berbicara langsung dengan juru kunci setempat, yang menjadi kunci utama akses ke keraton.
Dalam percakapan tersebut, Marcel menemukan fakta yang berbeda dari anggapan umum. Ia mengaku, “Banyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya. Setelah saya ngobrol-ngobrol sama kuncen juru kunci, dan luar biasanya juru kunci ini ngomong tidak pakai inisial-inisial ketika ditanya, dia ceplas-ceplos saja sebut nama,” ujar Marcel menceritakan awal penelusurannya itu.
Juru kunci menjelaskan bahwa ritual di Keraton Gunung Kawi menuntut peziarah membawa bunga dan dupa. Ini adalah sarana menyampaikan doa serta harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan bagian dari tradisi kejawen, bukan pemanggilan makhluk gaib. Marcel menegaskan bahwa aktivitas tersebut tidak berkaitan dengan pemujaan setan, melainkan tradisi kepercayaan lokal.
Selama kunjungan, Marcel juga mendengar pengakuan juru kunci bahwa beberapa tokoh publik pernah datang ke lokasi tersebut. Namun, ia tidak dapat memastikan kebenaran semua klaim tersebut. Marcel berkata, “Setelah saya upload (video eksplore Keraton Gunung Kawi), ternyata kuncen berbicara seperti itu bukan kali ini saja. Nama-nama yang disebutkan, di video teman saya yang juga meminta wawancara kuncen, juga menyebutkan nama-nama yang sama. Jadi sudah disebutkan jauh-jauh hari sama si kuncen ini,” jelas Marcel.
Oleh karena itu, Marcel lebih memilih membahas substansi ritual yang berlangsung di keraton daripada memeriksa daftar nama tokoh yang diklaim pernah datang. Ia menegaskan bahwa Keraton Gunung Kawi bukan tempat pemujaan setan atau sarang jin. Ia tetap mengingatkan masyarakat untuk menjalankan keyakinan sesuai ajaran agama masing-masing. Marcel menutup dengan kata-kata, “Karena sebenarnya itu bukan ritual jin-jin, bukan, tapi itu ritual kepercayaan Kejawen. Kalau kita yang muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu, karena itu merupakan kepercayaan kejawen,” tandasnya.
Dengan penjelasan ini, Marcel berharap masyarakat dapat memahami bahwa Gunung Kawi adalah tempat tradisi kejawen, bukan tempat praktik mistis. Ia mengajak semua pihak untuk tetap menghormati perbedaan keyakinan dan tidak menilai secara berlebihan berdasarkan rumor. Hasil penelusuran ini menegaskan pentingnya verifikasi fakta sebelum menyebarkan informasi yang belum teruji.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Persaingan Tinggi pada UTBK Plus Unair 2026 Untuk Mahasiswa
Indonesia U-19 Hadapi Timor Leste di Laga Kedua AFF U-19 2026
Semampir: Mobil Baleno, 8 Jeriken Pertalite Ditemukan
1 Muharram Jadi Puncak Tahun Baru Islam, Sejarah Hijrah
Slamet Santoso: Pemuda Banyuwangi Gabung Sokol Pyrzyce
Telmo Castanheira Berpisah dari Persik Kediri Musim 2025/26
Berita Terbaru
Alfamidi Laba Kuartal 2026 Naik 39,5% dengan Ekspansi Gerai
Kebakaran Hutan Musi Rawas Utara Terus, Muba Terkendali
Wakil Menteri Kunjungi SMP Tabanan, Cek Revitalisasi, MBG
Wakil Menteri Kunjungi SDN 3 Sembung Gede, Minta Revitalisasi
Hujan Lebat dan Petir Diprediksi Menyerang Medan Malam Ini
58 Hunian Terganggu Angin Kencang: Warga Kembali ke Tenda
Orang Tua Kritik Menu MBG Cibodas: Nugget, Anggur, Kedelai
Argentina Skuad Piala 2026: Messi Sang Unggul, Generasi Baru
