Gunung Sakral Jawa Timur: Lawu, Kawi, Semeru Terungkap
Gambar atau konten salah?
Di wilayah Jawa Timur, gunung bukan sekadar tumpukan batu dan hutan. Mereka sudah lama dipandang sebagai tempat suci, tempat bersemayam para dewa, dan menjadi titik penting bagi kehidupan sosial serta politik masyarakat. Kepercayaan ini tidak muncul begitu saja; ia berakar pada sejarah panjang kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singasari, dan Majapahit.
Selama era Hindu-Buddha, para pendeta dan arsitek Jawa menganggap gunung sebagai pusat alam semesta. Konsep ini terinspirasi oleh ajaran Hindu tentang Gunung Meru, yang diyakini sebagai pusat dunia. Karena itu, banyak kerajaan Jawa Timur menempatkan istana, candi, dan permukiman di sekitar gunung yang dianggap sakral. Dengan begitu, bangunan-bangunan penting selalu menghadap atau berdekatan dengan gunung, menandakan hubungan spiritual antara manusia dan alam.
Catatan sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan tersebut menggunakan gunung sebagai acuan tata ruang. Kediri, misalnya, menempatkan pusat pemerintahan di dekat gunung yang dianggap suci. Singasari juga memanfaatkan gunung sebagai titik navigasi, sementara Majapahit memanfaatkan gunung sebagai simbol kekuasaan dan keagamaan. Penggunaan gunung ini masih terasa hingga kini, di mana banyak tempat suci dan ritual adat masih dipertahankan.
Berikut tiga gunung yang paling sering disebut sebagai sakral di Jawa Timur: Gunung Lawu, Gunung Kawi, dan Gunung Semeru. Masing-masing memiliki cerita unik yang menggabungkan sejarah, mitologi, dan praktik keagamaan yang masih berlangsung.
Gunung Lawu terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan ketinggian 3.256 meter di atas permukaan laut, gunung ini memiliki hubungan kuat dengan masa akhir Majapahit. Di lerengnya, terdapat dua candi—Candi Sukuh dan Candi Cetho—yang diyakini dibangun menjelang runtuhnya kerajaan tersebut. Candi-candi ini masih menjadi tempat ritual bagi masyarakat Jawa, terutama pada malam 1 Suro, ketika orang-orang datang untuk berdoa dan menyembah.
Pengunjung Gunung Lawu sering melihat asap dan belerang yang keluar dari kawah Candradimuka. Meskipun terlihat menakutkan, para ahli kebumian menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gunung ini akan meletus. Namun, kepercayaan lokal tetap kuat, dan banyak orang tetap datang untuk melakukan laku spiritual.
Gunung Kawi berada di wilayah Kabupaten Malang dan berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Meskipun merupakan gunung api tua, tidak ada catatan letusan historis. Tempat ini terkenal sebagai lokasi pemakaman Kanjeng Kyai Zakaria II atau Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Soedjono. Kedua tokoh ini dikenal sebagai bangsawan yang berperan dalam Perang Jawa dan penyebaran Islam di Jawa Timur. Makam mereka menjadi pusat ziarah, terutama pada malam Jumat Legi, bulan Suro, dan pada hari-hari penting dalam kalender Jawa.
Selain sejarah, Gunung Kawi juga kaya akan cerita rakyat. Salah satu mitos yang paling terkenal adalah tentang Pohon Dewandaru, yang dipercaya oleh sebagian peziarah sebagai simbol keberuntungan. Meskipun tidak ada dasar ilmiah, kepercayaan ini tetap menjadi bagian penting dari tradisi budaya setempat.
Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter. Ia terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan memiliki posisi istimewa dalam tradisi masyarakat Tengger serta umat Hindu. Dalam naskah kuno Tantu Panggelaran, Semeru disebut sebagai perwujudan Gunung Mahameru yang dipindahkan oleh para dewa ke Pulau Jawa untuk menyeimbangkan daratan. Kisah ini menjadi dasar mengapa Semeru dianggap suci.
Ritual adat masih dilaksanakan oleh masyarakat Tengger sebagai bentuk penghormatan. Salah satu tempat penting di sekitar Semeru adalah Ranu Kumbolo, danau yang berada di ketinggian sekitar 2.400 mdpl. Danau ini menjadi tempat peristirahatan bagi para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Masyarakat setempat memiliki cerita rakyat tentang penjaga danau dan larangan tertentu saat berada di kawasan tersebut. Meskipun mitos ini tidak memiliki dasar ilmiah, aturan menjaga kebersihan dan tidak merusak lingkungan tetap dipegang teguh untuk melestarikan sumber air dan ekosistem pegunungan.
Para pendaki selalu diimbau untuk menghormati adat setempat sekaligus menjaga lingkungan. Hal ini penting agar gunung tetap menjadi tempat suci yang dapat dinikmati generasi berikutnya.
Keberadaan gunung-gunung sakral di Jawa Timur menampilkan lebih dari sekadar keindahan alam. Setiap puncak menyimpan jejak sejarah kerajaan, tradisi budaya, kisah spiritual, dan warisan nilai yang masih dijaga oleh masyarakat hingga saat ini. Melalui ziarah, ritual, dan cerita rakyat, masyarakat Jawa Timur terus mengingat dan menghormati hubungan mereka dengan alam dan leluhur.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
KPH Lawu Tegaskan Tidak Ada Indikasi Erupsi Gunung Lawu
Rumor Gempa Palu Tak Picu Gempa Bojonegoro, BMKG Klarifikasi
Truk Besar Diarahkan Tol, Pasuruan Tersengat Kemacetan JLS
BMKG: Sesar Kendeng Bojonegoro Tidak Menimbulkan Gempa Besar
BMKG: Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng Bukan Peringatan
Rumor Erupsi Gunung Lawu 7 Tidak Terdukung Data BMKG
Berita Terbaru
Rodrygo Peringatkan Fokus di Lapangan, Hindari Tekanan Sosial
Veda Ega Pratama Mencatat Waktu Terbaik di Moto3 Ceko 2026
Diskon 30% KAI: 1,174,624 Tempat Duduk Tersedia 20–5 Juli
Gereja Mojo Di Solo Berjalan Meski Penolakan Warga
Gunung Sakral Jawa Timur: Lawu, Kawi, Semeru Terungkap
Kejuaraan Atletik Usia 2026 Tahun, 38 Provinsi di Jakarta
