BMKG: Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng Bukan Peringatan

Wulan M. · 2 min baca · 7 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
BMKG: Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng Bukan Peringatan

Gambar atau konten salah?

BMKG mengingatkan warga Jawa Timur agar tidak panik setelah muncul narasi viral di aplikasi Threads yang menyebutkan Sesar Kendeng di Bojonegoro berpotensi memicu gempa darat dahsyat hingga Magnitudo 7.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, angka tersebut hanyalah peta skenario terburuk yang dihasilkan oleh para ahli pemodelan. Ia menegaskan bahwa tidak perlu meresponsnya dengan ketakutan berlebih, melainkan dengan memperkuat langkah mitigasi.

“Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi,” kata Ricko pada 19 Juni 2026.

Ricko menjelaskan bahwa secara ilmiah, angka Magnitudo 7 pada gempa yang berpotensi terjadi dipicu oleh Sesar Kendeng memang mengacu pada data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN). Ia memberikan penjelasan lebih detail: “Sesar Kendeng dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024 digabung penamaannya dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang menjadi Java Back-arc Thrust. Magnitudo tertarget dalam Pusgen 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi Magnitudo enam sampai tujuh.”

Walaupun skenario terburuk itu ada, Ricko mengingatkan bahwa potensi tidak sama dengan prediksi waktu kejadian. “Karena sekali lagi hingga kini gempa belum bisa diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa magnitudonya kalau gempabumi tersebut belum terjadi?,” tambahnya.

Ia menambahkan karakteristik Sesar Kendeng secara geologis. “Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu,” jelas Ricko.

Ricko mencatat bahwa kerusakan parah akibat sesar ini seluruhnya merupakan peristiwa sejarah masa lampau. Di antaranya melanda Mojokerto dan Ploso Jombang (1836‑1837), Madiun (1862 dan 1915), serta wilayah Surabaya (1867).

Adapun pemantauan terkini dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan aktivitas pelepasan energi di sepanjang jalur sesar ini masih tergolong dalam skala kecil hingga menengah yang bersifat normal. “Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa‑gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini,” tandasnya.

Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur. Sesar ini terbagi menjadi enam segmen utama: Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (Lamongan), Segmen Surabaya, dan Segmen Waru (Sidoarjo). Jalurnya secara administratif meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya.

Dengan pemahaman ini, BMKG mengajak masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik. Pengetahuan tentang langkah-langkah kesiapsiagaan sebelum, sesaat, dan setelah gempa dapat membantu mengurangi risiko dan kerusakan. Masyarakat diharapkan terus memperkuat kapasitas mitigasi, mengikuti pedoman BMKG, serta mempersiapkan diri secara praktis.

Informasi ini menegaskan bahwa meski potensi gempa besar memang ada, tidak ada teknologi yang dapat memastikan kapan dan di mana gempa tersebut akan terjadi. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat adalah kesiapsiagaan dan mitigasi yang berkelanjutan, bukan kepanikan yang tidak berdasar.

BMKGSesar Kendenggempa bumiThreadsmagnitudo 7mitigasiPusat Studi Gempa Nasional

Komentar

Memuat komentar...