Harga BBM Asia Naik: Dampak Konflik Timur Tengah di Indonesia

Ani R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Harga BBM Asia Naik: Dampak Konflik Timur Tengah di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran, yang memulai pada 28 Februari 2026, telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Dampaknya terasa di Asia, di mana banyak negara tetangga Indonesia menaikkan tarif bahan bakar minyak (BBM) mereka.

Di Indonesia, PT Pertamina (Persero) masih mengacu pada harga yang berlaku sejak 1 Maret 2026. Di DKI Jakarta, misalnya, harga Pertalite tetap Rp 10.000 per liter. Pertamax dijual Rp 12.300 per liter, sedangkan Pertamax Green RON 95 berada di Rp 12.900 per liter. Pertamax Turbo dipatok Rp 13.100 per liter. Harga-harga tersebut belum mengalami perubahan sejak penyesuaian terakhir.

Malaysia, salah satu negara tetangga, mengumumkan kenaikan harga eceran bensin dan diesel pada periode 26 Maret 2026 hingga 1 April 2026. Harga bensin RON 97 naik 60 sen menjadi RM 5,15 per liter (sekitar Rp 21.781 dengan kurs Rp 4.229). Solar di Semenanjung Malaysia juga naik 80 sen menjadi RM 5,52 per liter (sekitar Rp 23.346). RON 95 tanpa subsidi bertambah 60 sen menjadi RM 3,87 per liter (sekitar Rp 16.367). Sementara RON 95 bersubsidi tetap RM 1,99 per liter (sekitar Rp 8.416).

Vietnam mencatat kenaikan signifikan pada akhir Februari. Harga RON 95 melonjak hampir 68 % sejak 26 Februari 2026, naik dari 20.150 dong menjadi 33.840 dong, setara Rp 21.708 per liter. Kenaikan ini menandai perubahan drastis dalam pasar BBM lokal.

Filipina juga mengumumkan penyesuaian harga pada 24 Maret 2026. Minyak tanah dipatok 20,90 peso per liter (sekitar Rp 5.863), diesel berada di 16,80 peso per liter (sekitar Rp 4.713), dan BBM lainnya dipatok 9,70 peso per liter (sekitar Rp 2.749).

Di Singapura, harga BBM di SPBU Caltex juga mengalami penyesuaian. Premium 95 dijual SGD 3,43 (sekitar Rp 45.173 dengan kurs Rp 13.172/SGD). Platinum 98 dipatok SGD 4,16 (sekitar Rp 54.787). Diesel berada di SGD 3,73 (sekitar Rp 49.124), sementara Regular 92 tetap SGD 3,43 (sekitar Rp 45.173).

Perubahan harga ini menandai risiko gangguan pasokan di kawasan Asia. Ketidakpastian di pasar minyak global, dipicu oleh konflik di Timur Tengah, memaksa negara-negara tetangga untuk menyesuaikan tarif mereka agar tetap mencerminkan kondisi pasar. Dampak langsung terlihat pada biaya transportasi dan konsumsi energi domestik.

Secara keseluruhan, kenaikan harga BBM di negara tetangga Indonesia menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat merembes ke pasar lokal. Meskipun harga di Indonesia masih stabil, tekanan dari pasar luar tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi kebijakan harga dan kebijakan energi di tingkat nasional.

Perang Timur Tengahharga minyak mentahBBMPertaminaIndonesiaMalaysiaVietnam

Komentar

Memuat komentar...