Harga Emas Turun 10% Mingguan, Bawah Rp3 Juta Hingga Lebaran
Gambar atau konten salah?
Harga emas yang naik tajam sepanjang tahun lalu membuat banyak orang bersemangat mengoleksi logam mulia. Antrean pembelian di gerai emas sering terlihat, terutama karena diprediksi akan menembus rekor baru menjelang Lebaran 2026.
Namun pada hari ini, harga emas jauh di bawah prediksi. Menjelang Lebaran, harga malah terus terkoreksi dan turun di bawah level Rp 3 juta/gram.
“Saya melihat sampai Lebaran kemungkinan besar Rp 3,2 juta/gram. Untuk mencapai Rp 3,2 juta/gram sangat mudah sekali karena harga emas dunia ada kemungkinan dalam hitungan hari akan menyentuh US$ 5.100 per troy ounce.” kata Pengamat Komoditas, Ibrahim Assuaibikepada, pada Januari lalu.
Harga emas mencatat kenaikan 64% pada tahun 2025, menjadi tahun terbaik sejak 1979. Pada bulan Januari, logam mulia ini mencapai harga US$ 5.000 per troy ounce untuk pertama kalinya.
Jumat kemarin, harga emas turun di bawah US$ 4.500 per troy ounce, menghapus kenaikan dua bulan terakhir. Penurunan ini menjadi penurunan mingguan terburuk dalam puluhan tahun.
Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan pasar keuangan global yang bergejolak. Saham dan obligasi di Amerika Serikat melemah, sementara harga minyak melonjak.
Konflik geopolitik biasanya membuat emas laris manis karena dianggap safe haven. Namun kali ini, investor lebih khawatir tentang inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral.
Perang yang melibatkan Iran membuat harga energi meningkat tajam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran inflasi tetap tinggi, sehingga bank sentral di berbagai negara harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ketidakpastian durasi konflik membuat investor berhati-hati dan menekan pasar saham global. Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik karena investor menjual obligasi dan menyesuaikan ekspektasi inflasi.
Situasi suku bunga tinggi biasanya kurang menguntungkan bagi emas, karena emas tidak memberikan bunga atau pendapatan seperti obligasi atau deposito. Akibatnya, sebagian investor memilih memindahkan dana ke aset yang memberikan imbal hasil. “Momentum kenaikan telah memudar,” kata para ahli strategi di bank Belanda ING dalam sebuah catatan. “Beberapa investor menjual emas untuk mendapatkan uang tunai atau menyeimbangkan kembali portofolio mereka.”
Pada akhir pekan ini, harga emas turun sekitar 2% dalam satu hari dan total penurunannya selama seminggu mencapai lebih dari 10%, menjadikannya kinerja mingguan terburuk sejak awal 1980-an. Sementara itu, harga minyak dunia naik hingga di atas US$ 112 per barel, memperkuat kekhawatiran akan inflasi global.
Para analis menilai pasar keuangan masih berusaha menilai dampak konflik Timur Tengah terhadap harga minyak, inflasi, dan kebijakan suku bunga ke depan. Selama ketidakpastian ini belum mereda, volatilitas di pasar emas dan saham kemungkinan akan tetap tinggi.
Harga emas yang dulu menjadi pelarian saat ketidakpastian kini tergerak oleh faktor inflasi dan suku bunga, menandai perubahan dinamika pasar logam mulia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Jadwal Salat Denpasar 8 Juni 2026: Waktu Shalat Hari Ini
Ganti Filter, Cuci Linen, Pakai Keset: Cara Kurangi Debu Rumah
Pemerintah Tetapkan Aturan Baru Drones di Kawasan Udara
Mazda GB FC & Bandung Legend Berangkat ke Jepang 2026
PPPK Sekolah 2026 Buka 5.127 Formasi, 185 untuk SMA/SMK
Campus League Tegaskan Kerjasama Olahraga dengan UPH 2026
Pasangan Indonesia Kalah di Final Indonesia Open 2026
Chen Dijatuhi 3 Bulan Penjara atas Gangguan Malam Kaohsiung
Jadwal Sholat Senin 8 Juni 2026: 38 Kota Jawa Timur
