Harga Pertamax Berpotensi Turun Bulan Depan

Jaka M. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Harga Pertamax Berpotensi Turun Bulan Depan

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina Patra Niaga memberikan gambaran terbaru mengenai kemungkinan perubahan harga BBM non subsidi jenis Pertamax untuk bulan depan. Ada peluang harga bahan bakar ini bisa turun, sejalan dengan tren pelemahan harga minyak mentah di pasar global yang terjadi belakangan ini.

Direktur Perencanaan & Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, menyatakan bahwa kesempatan untuk menurunkan harga Pertamax terbuka cukup lebar. Ini terjadi jika harga minyak dunia terus menunjukkan pelemahan dalam beberapa waktu ke depan. Menurut Joko, penetapan harga Pertamax memang mengikuti pergerakan harga minyak internasional, sama seperti produk BBM non subsidi lainnya.

Namun, Joko belum bisa memberikan kepastian kapan tepatnya penurunan itu akan terjadi. Termasuk apakah penurunan harga bisa dirasakan pada bulan depan atau tidak. Ia menjelaskan, perusahaannya masih perlu mencermati dengan saksama pergerakan harga minyak mentah dunia selama bulan ini. Fluktuasi harga tersebut menjadi dasar utama dalam proses penentuan harga jual Pertamax ke konsumen.

"Ya intinya sebenarnya begini, untuk JBU ya itu Patra Niaga selama ini dan seterusnya memang akan merespons terhadap kenaikan atau penurunan harga minyak dunia gitu. Nah ke depan seperti apa nanti kita lihat, karena kita basisnya adalah harga satu bulan sebelumnya," ujar Joko saat ditemui di lokasi Terminal BBM Plumpang, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, juga sudah menyampaikan pernyataan serupa. Ia mengatakan bahwa jika harga minyak mentah global turun, maka harga jual Pertamax dan varian BBM non subsidi lainnya juga bisa ikut turun. "Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, pada Rabu, 17 Juni 2026 lalu.

Hari ini, harga minyak mentah global memang mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi setelah pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran berakhir di Swiss. Pemerintah Iran mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan produk petrokimia. Pengumuman itu meredakan kekhawatiran pasar global mengenai potensi kekurangan pasokan minyak.

Berdasarkan data yang dikutip dari Reuters, harga minyak mentah jenis Brent tercatat turun 61 sen menjadi US$ 79,96 per barel. Sebelumnya, harga sempat naik hingga US$ 82,30 pada awal sesi perdagangan. Kenaikan itu dipicu oleh ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang ingin memulai kembali konflik militer melawan Iran. Selain itu, ada juga pernyataan dari pemerintah Iran bahwa mereka bisa saja kembali menutup jalur strategis Selat Hormuz.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$ 77,20 per barel. Angka ini naik 60 sen menjelang berakhirnya kontrak perdagangan pada Senin sore. Untuk kontrak Agustus yang lebih aktif diperdagangkan, harganya naik 19 sen menjadi US$ 76,04 per barel.

Dari penjelasan para pejabat, terlihat bahwa mekanisme harga BBM non subsidi di Indonesia memang sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Jika tren pelemahan harga minyak global terus berlanjut, maka potensi penurunan harga Pertamax di SPBU bisa menjadi kenyataan. Namun, keputusan finalnya tetap harus menunggu perhitungan berdasarkan data harga minyak satu bulan sebelumnya yang menjadi acuan utama Pertamina.

Pertamaxharga BBMminyak mentahpenurunanPertaminaglobalnon subsidi

Komentar

Memuat komentar...