Indonesia Jauhi Krisis 1997‑98, Katakan Wakil Keuangan
Gambar atau konten salah?
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tidak sedang menuju krisis seperti pada tahun 1997‑1998. Ia menegaskan bahwa situasi saat ini kuat, bahkan di tengah tekanan global, dan jauh dari penyebab utama krisis.
Di acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026, Jakarta, Senin (25 Mei 2026), ia menyampaikan data pertumbuhan ekonomi. Triwulan I 2026 menunjukkan pertumbuhan 5,61%, sementara inflasi pada April 2026 tetap rendah di 2,42%. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, menandakan daya beli masyarakat masih kuat. Ia juga menyoroti pengeluaran pemerintah yang naik hingga 22%.
Juda menambahkan bahwa pendapatan negara hingga April 2026 mencapai Rp 918 triliun, tumbuh 13,3%. Sektor perpajakan mencatat pertumbuhan 16,1%, sedangkan belanja negara meningkat tinggi hingga 34,3%. Meskipun belanja tinggi, defisit APBN tetap terkendali di 0,64% terhadap PDB, turun dari 0,92% pada triwulan pertama.
Ia menanggapi komentar Pak Misbakhun tentang klaim ekonomi menuju krisis. “Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan, baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97, 98. Kalau melihat angka‑angka tadi, kita itu jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung.
Secara historis, perekonomian Indonesia saat ini berjalan tanpa adanya sumber utama biang kerok krisis. Ia menjelaskan tiga penyebab umum krisis ekonomi di berbagai negara.
Biang Kerok Krisis Ekonomi
1. Krisis fiskal. Juda mengingatkan bahwa krisis fiskal pernah terjadi di Amerika Latin pada 1980‑an, akibat defisit fiskal membengkak dan hilangnya kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah. Di Indonesia, defisit relatif terbatas masih di bawah 3%, dan pembiayaan fiskal masih sangat dipercaya oleh investor domestik maupun asing. Ia menambahkan, “Kelihatan dari yield‑nya, kalau investor tidak percaya pada yield kita pada fiskal kita maka yield‑nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5‑6,7%, ya ada peningkatan tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi fiskal, krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda‑tandanya.”
2. Timpangnya neraca pembayaran. Pada tahun 1997‑1998, banyak perusahaan menarik utang luar negeri dalam jumlah besar, sehingga kolaps saat terjadi pelemahan nilai tukar. Juda menjelaskan, “Kemudian terjadi pelemahan nilai tukar terjadi sudden shock ya istilahnya, maka utang banyak perusahaan yang kolaps karena tidak bisa lagi membayar hutang luar negeri dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok dan saat ini kalau kita lihat angka‑angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda‑tanda itu.”
3. Krisis sistem keuangan. Contohnya, peningkatan pinjaman yang tidak dapat dibayar. Ia mencontohkan krisis semacam ini pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2008. “Lending besar‑besaran, bubble terjadi di berbagai sektor termasuk sektor properti misalnya. Dan ketika bubble itu burst, bubble itu pecah maka terjadi kolaps di sistem perbankan atau terjadi krisis di sistem keuangan,” papar Juda. “Seperti 2008 di Amerika dan sebagainya terjadi bubble tanda‑tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data‑data yang kita amati sampai dengan hari ini.”
Juda menegaskan bahwa semua indikator ekonomi saat ini menunjukkan kondisi yang sehat. Pertumbuhan PDB, inflasi yang terkendali, konsumsi rumah tangga yang kuat, serta defisit fiskal yang rendah menandakan bahwa Indonesia tidak berada di jalur krisis. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas fiskal, neraca pembayaran, dan sistem keuangan agar tetap aman dari potensi krisis di masa depan.
Dengan data yang kuat dan penjelasan yang jelas, Wakil Menteri Keuangan menegaskan bahwa ekonomi Indonesia saat ini berada di jalur yang aman. Tidak ada tanda-tanda krisis fiskal, neraca pembayaran, atau sistem keuangan yang mengancam. Kondisi ini memberi keyakinan bahwa Indonesia dapat terus maju tanpa harus khawatir akan krisis ekonomi yang pernah terjadi di masa lalu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
