Indonesia Luncurkan DEFEND ID untuk Perkuat Industri Pertahanan

Ani R. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 115 dibaca
Bisik.id
Indonesia Luncurkan DEFEND ID untuk Perkuat Industri Pertahanan

Gambar atau konten salah?

Indonesia sedang berupaya untuk mengembangkan industri pertahanan yang kompetitif di tingkat global. Salah satu langkah yang diambil pemerintah adalah meluncurkan program holding BUMN industri pertahanan yang bernama DEFEND ID. Menurut Direktur Utama DEFEND ID, Bobby Rasyidin, tanggung jawab untuk mencapai kemandirian industri pertahanan ada di tangan mereka.

Bobby menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dalam teknologi tinggi untuk mendukung industri pertahanan. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah dan DEFEND ID memiliki target ambisius untuk menempatkan kapasitas industri pertahanan Indonesia di dalam 50 besar dunia. Dalam wawancaranya, Bobby menjelaskan lebih lanjut tentang DEFEND ID dan struktur organisasi di dalamnya.

PT LEN Industri merupakan induk dari DEFEND ID dan telah beroperasi sejak 1991. Pada tahun 2022, pemerintah menggabungkan lima perusahaan BUMN, yaitu Pindad, PT PAL, Dirgantara, dan Dahana ke dalam holding ini. Penggabungan ini bertujuan untuk memperkuat posisi dan kapasitas industri pertahanan Indonesia.

Menurut Bobby, inisiatif penggabungan ini berasal dari pemerintah, khususnya Kementerian BUMN, yang melihat adanya potensi sinergi di antara perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan bersatunya perusahaan-perusahaan ini, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Bobby juga menjelaskan bahwa DEFEND ID berperan sebagai garda terdepan dalam industri pertahanan Indonesia. Pembentukan holding ini mendapatkan persetujuan dari Presiden dan melalui proses yang panjang. Dalam diskusinya dengan Kementerian Pertahanan, Bobby menegaskan bahwa industri pertahanan harus mampu menyediakan alat-alat pertahanan yang dibutuhkan.

Dalam konteks global, Bobby mengungkapkan bahwa peringkat industri pertahanan Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Saat ini, Indonesia berada di peringkat 87-88, dengan target masuk ke peringkat 60-an pada tahun ini dan 50 besar pada tahun 2025. Hal ini penting karena negara-negara dengan peringkat tinggi biasanya memiliki pengeluaran pertahanan yang lebih besar dari 2% dari PDB.

Sebagai langkah konkret, DEFEND ID telah melakukan sinergi antara perusahaan-perusahaan yang ada. Sejak tahun 2020 hingga 2024, mereka berhasil meningkatkan jumlah program dari 10 menjadi 100, mencerminkan kemampuan untuk menangani proyek domestik secara lebih efektif. Dalam dua tahun terakhir, kinerja perusahaan juga meningkat sekitar 30%.

Dalam menghadapi tantangan, Bobby menegaskan bahwa DEFEND ID akan mengutamakan kemandirian dengan memanfaatkan produk dalam negeri. Mereka berupaya melakukan transfer teknologi dan menjalin kemitraan untuk mempercepat pengembangan SDM dan teknologi yang dibutuhkan.

Ke depannya, DEFEND ID akan fokus pada pengembangan amunisi dan senjata ringan sebagai langkah awal. Bobby menjelaskan bahwa meskipun tantangan dalam mencapai kemandirian di sektor kendaraan tempur cukup besar, mereka tetap berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang ini.

Pemerintah juga berperan penting dalam pengembangan teknologi pertahanan. Bobby mengungkapkan bahwa ada tiga aspek yang perlu diperhatikan: penelitian, pengembangan, dan inovasi; pengembangan talenta; serta manufaktur. Kerjasama dengan lembaga pemerintah dan industri lain sangat diperlukan untuk memperkuat posisi Indonesia di bidang pertahanan.

Dalam wawancaranya, Bobby juga berbagi pandangan mengenai masa depan industri pertahanan Indonesia. Ia menekankan bahwa meskipun ada banyak tantangan, dengan kerjasama yang baik dan fokus pada kemandirian, Indonesia dapat mencapai tujuan ambisiusnya.

Dengan langkah-langkah yang diambil saat ini, DEFEND ID berusaha untuk memperkuat industri pertahanan nasional, meningkatkan kemandirian, dan memenuhi kebutuhan pertahanan dalam negeri secara efektif.

industri pertahanankemandirianDEFEND IDBUMNteknologi tinggipengembangan senjatakapasitas industripemerintah

Komentar

Memuat komentar...