Internet 2026: Penetrasi 81,72%, 235 Juta Jiwa Terhubung
Gambar atau konten salah?
APJII merilis hasil survei terbaru yang menampilkan jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2026 mencapai 235,2 juta jiwa. Angka tersebut tumbuh sekitar 1,06 % dibandingkan tahun sebelumnya, atau bertambah sekitar enam juta pengguna baru.
Menurut survei tersebut, masyarakat yang terkoneksi internet mencapai 235.261.078 jiwa dari total populasi 287.886.782 jiwa. Dengan demikian, tingkat penetrasi internet nasional pada 2026 mencapai 81,72 %.
Secara tren, penetrasi internet Indonesia terus meningkat. Pada 2022 tercatat 77 %, naik menjadi 78,2 % pada 2023, kemudian 79,5 % pada 2024, 80,7 % pada 2025, hingga menembus 81,72 % pada 2026.
Distribusi pengguna internet nasional masih didominasi wilayah Jawa. Tingkat penetrasi di pulau tersebut mencapai 85,95 % dengan kontribusi sebesar 58,24 % terhadap total pengguna internet nasional. Kalimantan berada di posisi berikutnya dengan penetrasi 80,40 % dan kontribusi 6,20 %. Sumatera mencatat penetrasi 78,24 % dengan kontribusi 20,74 %. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara memiliki penetrasi 78,14 % dan kontribusi 5,26 %. Sulawesi mencatat penetrasi 72,58 % dengan kontribusi 6,62 %, sedangkan Maluku dan Papua menjadi wilayah dengan penetrasi terendah, yakni 69,74 % dengan kontribusi 2,94 %.
Survei APJII juga mengungkap alasan masyarakat Indonesia menggunakan internet. Sebanyak 19,9 % responden mengaku menggunakan internet untuk kebutuhan komunikasi dan jejaring sosial. 19,7 % menggunakan untuk hiburan digital, 19,6 % lainnya memanfaatkan untuk mencari informasi dan berita. 18,7 % menggunakan untuk transaksi e‑commerce dan jasa, 10,9 % untuk pendidikan dan pekerjaan, 5,8 % untuk layanan keuangan, 4,5 % untuk mengakses layanan publik dan pemerintahan, dan 0,9 % memilih alasan lainnya.
Di sisi lain, APJII mencatat masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang belum terkoneksi internet. Sebanyak 34 % responden menyebut tidak memiliki komputer atau gadget yang dapat terhubung ke internet. 31,5 % belum mengetahui cara menggunakan perangkat digital yang terkoneksi internet. 17,2 % menyatakan harga kuota internet masih terlalu mahal. 12,9 % menilai internet belum memberikan manfaat bagi mereka. 1,3 % menyebut keterbatasan fisik atau disabilitas sebagai kendala, dan 3,1 % memilih alasan lainnya.
Metode survei menggunakan multistage random sampling dengan melibatkan 8.700 responden yang tersebar proporsional di 38 provinsi. Survei dilakukan pada periode 01 Februari 2026 hingga 15 Maret 2026 dengan target responden warga negara Indonesia berusia 13 tahun ke atas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh enumerator terlatih. APJII menyebut survei ini memiliki margin of error sebesar 1,1 %.
Hasil survei ini menegaskan bahwa penetrasi internet di Indonesia terus tumbuh, namun masih ada kelompok masyarakat yang belum terhubung. Faktor-faktor seperti kurangnya perangkat, ketidaktahuan penggunaan, dan biaya kuota menjadi hambatan utama. Peningkatan penetrasi menunjukkan kemajuan akses digital, namun upaya lebih lanjut diperlukan untuk menjangkau wilayah dengan penetrasi rendah dan mengatasi kendala akses yang masih ada.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Google Ungkap Cara Jitu Kendalikan Biaya Token AI
Logitech Rilis Kamera AI yang 'Hilang' untuk Ruang Rapat
Iran Eksploitasi Celah SS7 untuk Lacak Tentara AS
Prediksi Final Piala Dunia 2026 Viral, Netizen Curiga
Cyber Breaker Season 3: Peserta Melonjak ke 916
Piala Dunia 2026: 48 Tim, Tiga Negara, Hadiah Fantastis
