Jejak Kaki Reptil 280 Juta Tahun Ditemukan di Lombardy, Italia

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Jejak Kaki Reptil 280 Juta Tahun Ditemukan di Lombardy, Italia

Gambar atau konten salah?

Pada tahun 2023, seorang pendaki wanita bernama Claudia Steffensen menemukan sebuah fragmen ekosistem berusia 280 juta tahun di Taman Pengunungan Valtellina Orobie, Lombardy, Italia. Penemuan ini mengungkap jejak kaki hewan purba, fosil tanaman, dan bekas tetesan air hujan dari era Permian.

Saat menelusuri batuan, Steffensen berkata, "Saya kemudian melihat desain melingkar aneh dengan garis-garis bergelombang. Saya melihat lebih dekat dan menyadari bahwa itu adalah jejak kaki," dan mengaku menginjak batu yang permukaannya tampak tidak biasa. Selasa, 21 April 2026, laporan ini pertama kali muncul di publik.

Batu tersebut segera dianalisis oleh para ilmuwan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejak kaki tersebut milik reptil prasejarah. Peneliti kemudian memperluas pencarian ke dataran tinggi Alpen, berharap menemukan petunjuk tambahan.

Pada 21 Oktober 2024, fosil dipindahkan ke spons putih untuk transportasi, memudahkan pengiriman ke laboratorium. Foto yang diambil oleh Elio Della Ferrera di Superintendency of Archaeology kemudian dipublikasikan, namun tidak diperlukan untuk narasi ini.

Setelah beberapa kunjungan ke situs, paleontolog menemukan bukti ekosistem lengkap dari periode Permian, yang berlangsung antara 299 juta hingga 252 juta tahun lalu. Periode ini dikenal dengan perubahan iklim drastis yang memicu Great Dying, kepunahan massal yang menghapus sekitar 90% spesies di Bumi.

Bukti kehidupan kuno tersebar hingga ketinggian 3 ribu meter di pegunungan dan dasar lembah. Ekosistem terbentuk dari batu pasir berbutir halus, yang terpelihara karena sering terendam air di masa lalu.

Ausonio Ronchi, paleontolog dari Pavia University, menjelaskan bahwa jejak kaki terbentuk saat batu pasir dan serpih masih berupa pasir dan lumpur. Proses pengawetan terjadi saat lapisan tersebut terendam air di tepi sungai dan danau, kemudian mengering secara berkala sesuai musim.

Ronchi menambahkan, "Matahari musim panas, yang mengeringkan permukaan tersebut, mengeraskannya hingga kembalinya air baru tidak menghapus jejak kaki tersebut, tetapi sebaliknya, menutupinya dengan tanah liat baru, membentuk lapisan pelindung," sehingga detail kecil seperti bekas cakaran dan pola perut hewan tetap terjaga.

Detail-detail kecil tersebut memungkinkan para peneliti memperkirakan bahwa jejak ini berasal dari lima spesies reptil berukuran besar, sebanding dengan komodo modern, mencapai 2-3 meter panjang.

Cristiano Dal Sasso, paleontolog vertebrata di Natural History Museum of Milan, menegaskan, "Pada saat itu, dinosaurus belum ada, tetapi hewan yang bertanggung jawab atas jejak kaki terbesar yang ditemukan di sini pasti masih berukuran cukup besar," menambah konteks tentang ukuran hewan purba.

Penemuan ini menjadi bukti nyata perubahan iklim modern, di mana lapisan es dan salju di Pegunungan Alpen mencair, membuka akses ke lapisan fosil yang selama ini tersembunyi. Para peneliti menilai fosil-fosil ini sebagai saksi bisu periode geologis yang sangat jauh.

Secara keseluruhan, penemuan jejak kaki reptil berusia 280 juta tahun di Lombardy menambah pemahaman tentang ekosistem Permian dan mekanisme pengawetan fosil. Temuan ini juga menunjukkan bagaimana kondisi geologi dan iklim masa lalu mempengaruhi pelestarian jejak kehidupan kuno, sekaligus menyoroti dampak pencairan es di era modern.

jejak kaki reptilekosistem PermianLombardyClaudia SteffensenGreat Dyingpencairan es Alpenpengawetan fosil

Komentar

Memuat komentar...