Jeje Adriel, 25, Dinyatakan Limfoma Hodgkin Stadium 2

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 82 dibaca
Bisik.id
Jeje Adriel, 25, Dinyatakan Limfoma Hodgkin Stadium 2

Gambar atau konten salah?

Jeje Adriel berusia 25 tahun, tinggal di Jakarta Utara, baru saja diberi diagnosis kanker limfoma hodgkins stadium dua. Awalnya, ia hanya merasakan benjolan kecil di sisi kiri lehernya. Benjolan itu sempat mengecil ketika ia mengikuti pola intermittent fasting dan gaya hidup lebih sehat. Namun, seiring berjalannya waktu, benjolan tersebut kembali membesar secara perlahan. Ia tidak mengalami gejala lain seperti demam, keringat dingin, atau rasa sakit, sehingga ia menunda pemeriksaan medis.

“Awalnya coba intermittent fasting gaya hidup sehat dan lain‑lain. Sempat mengecil tapi lama‑kelamaan dia tetep membesar pelan‑pelan. Untuk gejala lain nggak ada kayak demam keringat dingin dan lain‑lain, tidak ada sama sekali makanya agak telat juga ngeceknya,” kata Jeje dalam wawancara yang dilakukannya pada detikcom belum lama ini.

Pada tanggal 17 April 2026, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Jeje mengidap kanker kelenjar getah bening atau limfoma hodgkins stadium dua. Setelah diagnosis, ia akan menjalani serangkaian proses kemoterapi. Ia mengungkapkan, “Kita akan berperang nanti ini. Kenapa stadium 2 karena punya gue tuh ada di kiri sama di kanan. Walaupun di kanan ini nggak ada teraba, tapi ada kayak kecil,” ujarnya.

Limfoma hodgkins merupakan kanker yang menyerang sistem limfatik, yaitu jaringan organ, kelenjar, pembuluh tabung, dan kumpulan sel yang disebut kelenjar getah bening. Sistem ini bagian dari sistem kekebalan tubuh yang melawan kuman, meliputi limpa, kelenjar timus, amandel, adenoid, dan sumsum tulang. Penyakit ini dapat menyerang semua area tersebut dan organ lain di dalam tubuh.

Menurut Mayo Clinic, penyebab limfoma hodgkins belum jelas. Kanker terjadi saat sel mengalami perubahan pada DNA, yang menyimpan instruksi bagi sel. Pada sel kanker, perubahan DNA memberikan instruksi berbeda, membuat sel berkembang lebih cepat. Sel kanker dapat terus hidup sementara sel sehat mati, sehingga menimbulkan kelebihan sel. Pada limfoma Hodgkin, sel kanker menumpuk di kelenjar getah bening, sumsum tulang, limpa, dan jaringan lain di seluruh tubuh. Penyakit ini dimulai pada sel darah putih yang melawan kuman, yaitu limfosit B.

  • Usia – Limfoma Hodgkin paling sering didiagnosis pada orang berusia 20‑30 tahun dan juga pada yang berusia di atas 65 tahun.
  • Riwayat keluarga limfoma – Memiliki kerabat sedarah, seperti orang tua atau saudara kandung, yang menderita limfoma dapat meningkatkan risiko.
  • Infeksi – Infeksi tertentu, seperti virus HIV dan virus Epstein‑Barr (EBV), telah dikaitkan dengan limfoma Hodgkin.
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah atau autoimun – Kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti artritis reumatoid, lupus eritematosus sistemik, sarkoidosis, dan lain‑lain, dapat meningkatkan risiko. Sistem kekebalan juga melemah setelah transplantasi organ.

Gejala limfoma hodgkins biasanya dimulai dengan pembengkakan kelenjar getah bening, yang terasa seperti benjolan di bawah kulit. Lokasi paling sering terjadi di leher, ketiak, dan selangkangan. Gejala lain yang dapat muncul meliputi:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Keringat malam berlebihan
  • Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Kulit gatal

Limfoma Hodgkin dibagi menjadi empat stadium, berkisar dari 1 hingga 4. Pada stadium 1, limfoma hanya memengaruhi satu daerah kelenjar getah bening. Pada stadium 2, melibatkan dua atau lebih daerah kelenjar getah bening di sisi diafragma yang sama. Stadium 3 mencakup daerah kelenjar getah bening di kedua sisi diafragma. Sedangkan stadium 4 menunjukkan penyakit yang melibatkan daerah di luar kelenjar getah bening.

Jeje, yang masih muda, kini harus menghadapi proses kemoterapi yang panjang. Ia tetap optimis, namun menyadari bahwa perjalanan ini tidak mudah. Dengan dukungan keluarga dan tenaga medis, ia berharap dapat melewati fase ini dan kembali sehat.

Kasus Jeje menyoroti pentingnya pemeriksaan dini ketika muncul benjolan di leher atau area tubuh lainnya. Meskipun gejala awal mungkin tidak terasa mengkhawatirkan, deteksi dini dapat memperbesar peluang pengobatan yang lebih efektif. Kanker limfoma hodgkins, meski jarang, tetap memerlukan perhatian serius, terutama bagi kelompok usia muda yang biasanya tidak dianggap berisiko tinggi. Dengan kesadaran dan pengetahuan, masyarakat dapat lebih cepat mengenali tanda-tanda awal dan mencari bantuan medis tepat waktu.

Limfoma HodgkinKanker limfomaIntermittent fastingKemoterapiPemeriksaan diniSistem limfatikStadium 2

Komentar

Memuat komentar...