Jembatan Cangar: Jalur Penting Menegah Longsor di Welirang

Lina F. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 2.109 dibaca
Bisik.id
Jembatan Cangar: Jalur Penting Menegah Longsor di Welirang

Gambar atau konten salah?

Jembatan Cangar terletak di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL), menghubungkan Mojokerto dengan Kota Batu. Sungai di bawahnya mengalir deras melalui air terjun Watu Lumpang, Watu Ondo, dan Coban Cangar di kawasan Gunung Welirang.

Jembatan ini memiliki tinggi sekitar 5 meter dan lebar 8 meter. Ia membentang di wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Suryo, menjadi jalur penting bagi warga dan wisatawan yang ingin menyeberangi Gunung Welirang.

Awalnya, jalur ini hanyalah jalan setapak yang dibuka pada masa pendudukan Jepang sekitar 1940-an. Para tentara Jepang membangun jalan pintas di tengah hutan untuk mempersingkat rute, karena jalur utama memutar jauh melewati Sidoarjo. Jalan setapak ini hanya dapat dilalui pejalan kaki dan gerobak, tanpa jembatan.

Para tentara Jepang memanfaatkan jalur ini untuk mobilisasi pasukan dan akses ke titik pemantauan di Gunung Arjuno. Di sekitar jalur terdapat gua-gua yang dibangun pada masa Jepang. Tenaga pribumi digunakan untuk pembangunan gua-gua ini. Gua-gua tersebut dimaksudkan sebagai tempat perlindungan warga dari serangan udara, namun pada kenyataannya sering dipakai untuk menyimpan perbekalan dan harta rampasan perang.

Setelah masa pendudukan Jepang, perbudakan pribumi masih berlanjut saat Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947. Masyarakat masih bertugas sebagai porter dan kadang menjadi penunjuk jalan menuju Batu. Belanda berencana menyerang daerah Malang melalui Batu. Jalur Cangar tetap asri, tanpa jembatan yang menjulang.

Berbagai sumber berselisih mengenai kapan jalur setapak peninggalan Jepang berubah menjadi jembatan permanen. Versi pertama menyebut bahwa jembatan di kawasan ini mulai dibangun secara permanen pada kisaran 1970 hingga 1980-an. Sebelum itu, sudah ada konstruksi kayu yang berasal dari masa pendudukan Jepang.

Versi lain, yang disampaikan oleh warga Sumberbrantas, menjelaskan bahwa kondisi awal kawasan ini tidak memungkinkan adanya jembatan kayu karena berupa jurang dalam. Warga zaman dulu melewati jalur ekstrem bernama Watu Ondo, tebing batu yang menyerupai tangga alami untuk turun naik menuju Pacet. Jalur ini masih digunakan hingga sekitar 1980-an sebelum proses pembukaan jalan besar baru dimulai sekitar 1988.

Penghubung Mojokerto-Batu baru selesai diaspal pada tahun 1994 hingga 1995. Sejak itu, jalur tersebut banyak dimanfaatkan oleh pemudik maupun wisatawan. Meskipun menjadi akses penting, medan yang melintasi Gunung Welirang dan Gunung Arjuno dikenal curam serta rawan longsor. Pengendara tetap perlu berhati-hati saat melintas.

Jembatan Cangar kini menjadi salah satu titik penting bagi pendakian ke Gunung Welirang. Namun, keindahan alam di sekitarnya juga menimbulkan risiko. Medan curam dan potensi longsor membuat pengunjung harus waspada. Meskipun demikian, pemandangan alam yang menakjubkan tetap menjadi daya tarik utama bagi para pendaki dan wisatawan.

Sejarah jalur Cangar mencerminkan peran penting jalur ini dalam mobilitas warga, logistik militer, dan perkembangan infrastruktur daerah. Dari jalan setapak sederhana di masa pendudukan Jepang hingga jembatan modern yang terhubung dengan Kota Batu, jalur ini telah mengalami transformasi signifikan. Masyarakat pribumi tetap menjadi bagian penting dalam sejarah ini, baik sebagai porter maupun penunjuk jalan.

Jembatan Cangar tidak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga simbol ketahanan dan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Meskipun rawan longsor, jembatan ini tetap menjadi jalur utama bagi pendakian dan perjalanan sehari-hari. Keberadaannya mengingatkan kita akan perjalanan panjang pembangunan infrastruktur di wilayah pegunungan Indonesia.

Jembatan CangarMojokerto-BatuGunung WelirangPendudukan JepangAgresi BelandaLongsorInfrastruktur

Komentar

Memuat komentar...