Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Naik 476% 2019–2025

Hendra M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 68 dibaca
Bisik.id
Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Naik 476% 2019–2025

Gambar atau konten salah?

Melaporkan kenaikan kasus penyakit gagal ginjal kronis (CKD) di seluruh Malaysia, pemerintah negara tersebut menyoroti masalah serupa di Indonesia. Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, situasi di Indonesia juga menunjukkan peningkatan signifikan.

"Kalau gagal ginjal, kalau kita bandingkan tahun 2019-2025, itu dia meningkat 476,2 persen (pembiayaan di JKN, red)," kata Nadia saat ditemui seorang wartawan di Jakarta Selatan, Selasa (14 April 2026). Ia menegaskan bahwa CKD menjadi salah satu beban pembiayaan terbesar di BPJS Kesehatan.

CKD memerlukan perawatan hemodialisis atau cuci darah untuk menggantikan fungsi ginjal yang rusak. Prosedur ini penting agar tubuh dapat menghilangkan limbah racun seperti ureum dan kreatinin serta menyeimbangkan cairan dan elektrolit. Tanpa perawatan, komplikasi dapat menjadi fatal.

Nadia mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada. "Jadi memang hati‑hati, ginjal itu seperti silent killer dan awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali, sehingga pasti akan terganggu dengan ginjalnya," katanya.

"Itu (penyakit gagal ginjal) peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," sambungnya. Ia menambahkan bahwa CKD memiliki peningkatan paling signifikan antara penyakit kronis lain seperti jantung, kanker, dan stroke.

Berdasarkan data Kemenkes, berikut beban pembiayaan empat penyakit kronis terbesar di BPJS Kesehatan, dinyatakan dalam satuan triliun rupiah:

  1. Gagal Ginjal – 2019: Rp 2,32 triliun, 2025: Rp 13,38 triliun (+476,2%)
  2. Stroke – 2019: Rp 2,56 triliun, 2025: Rp 7,21 triliun (+182,9%)
  3. Kanker – 2019: Rp 3,81 triliun, 2025: Rp 10,31 triliun (+170,2%)
  4. Jantung – 2019: Rp 10,28 triliun, 2025: Rp 17,35 triliun (+68,8%)

Data ini menunjukkan bahwa peningkatan pembiayaan CKD tidak hanya mencerminkan jumlah kasus yang tinggi, tetapi juga menandai beban ekonomi yang berat bagi sistem kesehatan. Kesadaran akan faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes, serta pentingnya deteksi dini, menjadi kunci untuk menurunkan angka kasus dan beban finansial di masa depan.

Gagal GinjalCKDBPJS KesehatanPeningkatan KasusPembiayaanHipertensiDiabetesHemodialisis

Komentar

Memuat komentar...