Kebun Binatang Bandung Kehilangan Dua Anak Harimau Benggala

Nita W. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Kebun Binatang Bandung Kehilangan Dua Anak Harimau Benggala

Gambar atau konten salah?

Berita duka datang dari Kebun Binatang Bandung. Dua anak harimau Benggala, Huru dan Hara, yang lahir pada 12 Juli 2025, tak lagi hidup setelah terjangkit virus panleukopenia. Hara meninggal terlebih dahulu pada Selasa, 24 Maret 2026, diikuti oleh Huru pada Kamis, 26 Maret 2026.

Menurut Ery Mildranaya, petugas Humas BBKSDA Jawa Barat, Huru ditemukan meninggal di pagi hari saat pergantian piket di kebun binatang. “Meninggal terjadi pagi hari, sekitar saat pergantian piket petugas,” ujarnya ketika dihubungi wartawan di Bandung Zoo.

Huru sempat menunjukkan perbaikan kondisi setelah kematian saudaranya. Dokter hewan sebelumnya menilai bahwa satwa dapat bertahan melewati 48 jam, bahkan hingga 72 jam, sehingga peluang hidupnya cukup besar. “Salah satu anakan sempat menunjukkan perbaikan kondisi, sehingga kami optimistis. Namun, pada akhirnya kondisinya kembali menurun,” ungkapnya.

Gejala yang muncul pada Huru meliputi muntah-muntah, diare, dan darah pada feses. Meskipun sempat membaik, kondisi akhirnya menurun hingga tidak tertolong.

Ery menegaskan bahwa seluruh pihak sudah berupaya penanganan. Rumah Sakit Cikole, DKPP, BKSDA, dan tim kebun binatang terlibat dalam perawatan dan pemantauan. “Banyak pihak yang terlibat dalam perawatan dan pemantauan. Mulai dari Rumah Sakit Cikole, DKPP, BKSDA, hingga tim dari kebun binatang. Semua telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa,” ujarnya.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan akan melakukan evaluasi setelah kejadian ini. Ia menekankan bahwa Bandung Zoo tetap berfungsi sebagai lembaga konservasi dan rumah bagi hewan endemik Jawa Barat. “Lembaga konservasi itu kan punya juga kewajiban seperti kebun binatang ini, jadi kegiatan reproduksi dari satwa langka yang ada di kebun binatang Bandung ini tidak boleh berhenti,” katanya.

Farhan menambahkan bahwa kebun binatang belum pernah melakukan pelepasliaran. “Selanjutnya yang belum pernah dilakukan oleh Kebun Binatang Bandung adalah upaya untuk melakukan pelepasliaran, itu nanti akan jadi tujuan,” jelasnya. Ia juga menegaskan pentingnya reproduksi satwa endemik Jawa Barat di kebun binatang tersebut.

Untuk meningkatkan biosecurity, Farhan menargetkan peningkatan faktor keamanan dalam satu bulan. “Kita harus meningkatkan berbagai macam cara dan metode untuk memastikan, satu biosekurity-nya aman. Kedua penanganan pencegahan juga dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dan yang ketiga tata kelola yang baik yang harus kami selesaikan dalam waktu satu bulan ini,” ungkapnya.

Farhan juga menyatakan bahwa kebun binatang akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra kerjasama. “Pemerintah akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum yang bisa dijadikan sebagai mitra dalam skema kerjasama pemanfaatan Kebun Binatang Bandung,” tuturnya.

Bandung Zoo saat ini diketahui telah disegel oleh Kementerian Kehutanan. Namun, Farhan ingin memastikan tata kelola di kawasan tersebut dapat dievaluasi untuk perbaikan yang lebih optimal. “Tantangannya besar. Saya tahu karena banyak sekali kritik yang mengatakan bagaimana mungkin kalau anak harimau, ini tantangannya di situ. Bahwa memang menuju langkah perbaikanlah tidak semudah itu,” ungkapnya.

Farhan menekankan keterbukaan terhadap kritik dan masukan. “Kritik, masukan akan sangat kami perhatikan dengan transparansi yang seperti sekarang ini. Insya Allah kita akan punya rasa memiliki yang kuat terhadap kebun binatang sebagai lembaga konservasi,” tambahnya.

Herlin Agustin, Kepala Pusat Studi Lingkungan Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, menyoroti pentingnya biosecurity dan animal welfare. Ia mengatakan bahwa virus panleukopenia dapat bertahan lama di lingkungan dan tidak mudah dihilangkan dengan disinfektan. “Saya diskusi dengan dokter hewan, virus ini bisa bertahan lama di lingkungan tidak bisa hilang cepat dengan disinfektan, jadi saya khawatir ini bukan sekedar virus, ini adanya indikator dalam biosecurity dan manajemen animal welfare,” kata Herlin pada Kamis, 26 Maret 2026.

Herlin menilai bahwa kebun binatang harus memenuhi standar biosecurity dan animal welfare secara konsisten. “Normatif semua kebun binatang punya, masalahnya bukan ada atau tidak, tapi apakah dia menjalankan secara konsisten? Kalau dijalankan konsisten, kok masih ada?” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan kemungkinan masuknya satwa liar ke kawasan kebun binatang, seperti kucing liar. “Kemudian masuk tidak kucing liar? Jangan-jangan karena sudah tidak dipegang manajemen, masuk kucing liar dan binatang liar masuk situ, ini juga perlu perhatian khusus karena kalau bicara biosecurity intinya operasional menyeluruh, ini bukan simbolik, tapi harus dijalankan,” jelasnya.

Herlin menilai BBKSDA Jawa Barat memiliki peran strategis sebagai regulator dan pengawas biosecurity. Ia menanyakan audit dan evaluasi yang telah dilakukan. “Selama ini auditnya gimana? Apakah ada evaluasi? Setiap kematian satwa transparan gak? Jujur gak? Apakah ada yang disembunyikan?” tanya Herlin.

Di akhir wawancara, Herlin menekankan pentingnya pelatihan biosecurity bagi pegawai kebun binatang. “Apakah ada pelatihan bioscurity terhadap pegawai kebun binatang, atau pelatihan yang berkaitan dengan masalah teknis dan bukan sekedar administrasi,” ungkapnya.

Kesimpulan dari peristiwa ini menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur biosecurity, manajemen animal welfare, dan tata kelola kebun binatang. Meninggalnya Huru dan Hara menandai kehilangan berharga bagi komunitas Bandung, sekaligus menjadi peringatan bagi lembaga konservasi untuk terus memperbaiki sistemnya demi melindungi satwa yang menjadi bagian penting dari warisan alam Indonesia.

Harimau BenggalaPanleukopeniaBandung ZooBiosecurityAnimal WelfareBBKSDA Jawa BaratEvaluasiPelepasliaran

Komentar

Memuat komentar...