Kemenkes Tambah Skrining Kanker Kolorektal Gratis di CKG
Gambar atau konten salah?
Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menambah layanan preventif bagi masyarakat dengan menambahkan skrining kanker kolorektal ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis Nasional (CKG). Langkah ini ditujukan khusus bagi warga berusia 45 tahun ke atas, kelompok yang dianggap memiliki risiko tinggi.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengumumkan perubahan ini pada 01 Juni 2026. Menurutnya, kanker kolorektal kini menjadi bagian resmi program pemeriksaan kesehatan gratis. Program ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker usus besar.
Di tingkat global, kanker kolorektal berada di urutan ketiga sebagai kanker paling umum, dengan sekitar 1,9 juta kasus baru setiap tahun. Di Indonesia, penyakit ini masuk keempat dalam jumlah kasus terbanyak dan menjadi penyebab kematian kanker kelima, dengan lebih dari 19.000 kematian per tahun. Keterlambatan penanganan menjadi masalah utama.
“Jika 100 pasien kanker kolorektal datang ke fasilitas kesehatan kita hari ini, lebih dari 70 di antaranya akan datang dalam kondisi stadium lanjut. Bukan karena mereka lalai, bukan karena penyakit ini tidak dapat ditangani, melainkan karena tidak ada yang mendeteksinya cukup dini,” ujar Wamenkes Dante.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Kemenkes menerapkan pendekatan berlapis. Pemeriksaan dalam program CKG terdiri dari tiga tahap:
- Tahap Awal: Pengisian kuesioner skrining kolorektal.
- Tahap Lanjutan: Pemeriksaan colok dubur digital.
- Tahap Spesifik: Tes darah samar tinja (Fecal Occult Blood Test/FOBT) bagi individu yang teridentifikasi berisiko tinggi.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan mengenai pembiayaan. Layanan BPJS Kesehatan menanggung penanganan kanker secara umum, namun ada pengecualian untuk terapi mutakhir yang biayanya sangat tinggi. “Tapi memang ada obat-obat tertentu, apa mungkin targeted therapy. Kemudian obat targeted therapy biasanya untuk metastasis ya, yang udah menyebar kemana-mana ya. Itu mungkin belum semuanya masuk ke dalam BPJS ya, karena memang harganya mahal,” jelas Nadia.
Menimbang biaya pengobatan stadium lanjut yang mahal, pemerintah terus mengedukasi masyarakat. Mereka diimbau untuk tetap menerapkan pola hidup sehat, meningkatkan konsumsi sayur dan buah, serta memanfaatkan program cek kesehatan gratis ini sebagai upaya perlindungan dini.
Dengan menambahkan skrining kanker kolorektal ke dalam CKG, pemerintah berharap dapat menurunkan angka kematian akibat kanker usus besar. Program ini menandai langkah konkret dalam memperluas jangkauan layanan preventif, sekaligus menegaskan pentingnya deteksi dini dan pencegahan dalam kesehatan masyarakat Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem