Kepatuhan Kebersihan Penting di Proses Penyembelihan Kurban
Gambar atau konten salah?
Proses penyembelihan dan pembagian daging kurban tidak sekadar ritual, tapi juga soal keamanan pangan. Masyarakat dan panitia kurban diingatkan untuk mematuhi standar kebersihan agar daging yang akan dikonsumsi tetap aman.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof drh Mustofa Helmi Effendi, menegaskan bahwa risiko kontaminasi muncul saat penyembelihan maupun saat daging diletakkan setelah disembelih. Menurutnya, pemisahan antara daging bersih dan jeroan memerlukan perhatian ekstra. Jika tidak, pencemaran silang bisa terjadi. Ia juga menekankan pentingnya tidak menempatkan daging di tanah atau alas yang mudah terkontaminasi.
"Kita harus menyadari bahwa di Indonesia perundang-undangan yang berlaku masih memungkinkan penyembelihan dilakukan di luar rumah potong hewan. Sehingga banyak orang yang tidak mengerti teknik pemotongan, teknik pencacahan, dan teknik pengulitan ikut ambil bagian," kata Prof Mustofa pada Senin, 25 Mei 2026.
Prof Mustofa menilai praktik distribusi di masyarakat sering belum memenuhi standar keamanan. Contohnya, penggunaan wadah plastik daur ulang dan proses pembagian yang kurang higienis dapat meningkatkan risiko kontaminasi. Ia menyarankan, “Sebaiknya menggunakan wadah yang tidak mengkontaminasi. Jangan menggunakan plastik hasil daur ulang dan plastik berwarna hitam. Pakailah plastik yang food grade, yang kontaminannya sangat sedikit,” ujarnya.
Selain itu, penyimpanan daging kurban juga penting. Daging harus dipotong menjadi bagian kecil sebelum dimasukkan ke lemari pendingin atau freezer. Cara ini membantu menjaga kualitas dan mengurangi penurunan mutu.
Prof Mustofa menekankan bahwa standar keamanan pangan di Indonesia harus mengacu pada prinsip ASUH—aman, sehat, utuh, dan halal. Kehalalan menjadi prioritas utama, terutama dalam proses penyembelihan hewan kurban. Ia berkata, “Jadi kalau kita bicara soal keamanan pangan, kita harus paham betul bahwa di Indonesia keamanan pangan itu dikaitkan dengan daging dengan istilah aman, sehat, utuh, halal. Di sini, yang utama itu adalah kehalalan dulu. Jangan bicara keamanan pangan dulu, karena kita berkaitan dengan hewan-hewan,” jelasnya.
Selain itu, pendampingan dokter hewan pada tahap antemortem maupun postmortem diperlukan untuk memastikan daging aman dikonsumsi. Masyarakat juga perlu edukasi tentang prinsip ASUH agar daging kurban tidak hanya memenuhi aspek ibadah dan sosial, tetapi juga menghasilkan produk halal, aman, dan berkualitas.
Jika konsep ini sudah menjadi bagian dari proses penyelenggaraan ibadah hewan kurban, maka insya Allah daging yang dihasilkan adalah daging yang aman, sehat, utuh, dan halal," pungkas Prof Mustofa.
Kesimpulannya, menjaga kebersihan selama penyembelihan, memilih wadah yang tepat, menyimpan daging dengan benar, dan mengikuti prinsip ASUH adalah kunci untuk menghasilkan daging kurban yang aman dan halal. Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat dapat menikmati ibadah kurban tanpa khawatir akan risiko kontaminasi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Persebaya Surabaya Resmi Berpisah dengan Mihailo Perovic
Santerra De Laponte: Tujuan Foto Keluarga di Pujon Malang
Timnas U‑19 Siap Hadapi Timor Leste, Kaka Fokus Evaluasi
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Berita Terbaru
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Ronaldo Usia 41 Tahun Siap Menjuarai Piala Dunia 2026
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
PHK Januari-April 2026: Jawa Barat Terbanyak, 5.044 Orang
