Kereta Bekasi Timur Tabrak Palang, 14 Orang Mati, 84 Luka

Wahyu T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 35 dibaca
Bisik.id
Kereta Bekasi Timur Tabrak Palang, 14 Orang Mati, 84 Luka

Gambar atau konten salah?

Insiden kereta di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, terjadi pada 27 April 2024 malam. Kereta yang terlibat adalah KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line.

Menurut laporan, 14 orang kehilangan nyawa dan 84 orang terluka akibat tabrakan tersebut. Keluarga korban dan petugas medis segera menyalurkan bantuan ke lokasi.

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kereta tidak langsung berhenti ketika melihat palang kereta terlewati? Untuk menjawab, PT Kereta Api Indonesia (Persero) sudah memberikan penjelasan sebelumnya, setelah insiden truk tertemper di Semarang dan Tanjung Karang pada 18 Juli 2023.

Di unggahan Instagram resmi perusahaan (kai121_), KAI menjelaskan bahwa kereta tidak bisa berhenti atau rem mendadak karena panjang dan bobot rangkaian. Semakin panjang dan berat rangkaian, semakin lama waktu dan jarak yang dibutuhkan agar kereta benar-benar bisa berhenti.

Di Indonesia, rata‑rata kereta penumpang terdiri dari 8 hingga 12 gerbong dengan bobot mencapai 600 ton. Bobot ini belum termasuk penumpang dan barang yang dibawa. Karena berat tersebut, kereta memerlukan energi besar untuk menghentikan gerakan.

Faktor lain yang memengaruhi jarak pengereman meliputi kecepatan – semakin tinggi, semakin panjang jarak – serta kemiringan lintasan, persentase gaya pengereman, jenis kereta (penumpang atau barang), jenis rem (blok komposit atau besi cor), dan kondisi cuaca.

Rem yang dipakai pada KA saat ini adalah rem udara. Cara kerjanya adalah dengan mengkompresi udara dan menyimpannya sampai proses pengereman terjadi. “Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi (gesekan) pada roda. Friksi ini yang akan membuat kereta berhenti,” ungkap KAI.

Walaupun kereta dilengkapi rem darurat, rem ini tidak dapat menghentikan kereta secara mendadak. Rem darurat hanya menghasilkan energi dan tekanan udara lebih besar untuk mempercepat pengereman.

Kereta hanya dapat bergerak di atas rel yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat bermanuver bebas seperti kendaraan di jalan raya. Rel memiliki arah tetap dan lintasan kaku, sehingga belokan tajam atau gerakan menghindar secara tiba‑tiba tidak memungkinkan.

Oleh karena itu, meskipun masinis melihat palang kereta terlewati, pengereman biasanya terlambat. “Jadi, meskipun masinis melihat ada yang menerobos palang kereta, biasanya akan tetap terlambat melakukan pengereman,” jelasnya lagi.

Jika kereta melakukan pengereman mendadak, rem pada rangkaian bekerja dengan tekanan udara. Rem pada roda terhubung ke piston dan susunan silinder. Mekanisme mengurangi tekanan udara memaksa rem mengunci roda. Jika tekanan dilepaskan secara tiba‑tiba, pengereman menjadi tidak seragam, sehingga rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara.

Hal ini dapat menyebabkan gerbong tergelincir, terseret, atau bahkan terguling. “Mekanisme yang mengurangi tekanan udara di kereta api, akan memaksa rem mengunci dengan roda. Jika tekanan dilepaskan secara tiba‑tiba akan menyebabkan pengereman yang tidak seragam, sehingga rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara,” kata KAI.

Akibatnya, pengereman mendadak pada kereta berpotensi menimbulkan kerusakan lebih besar dan membahayakan banyak jiwa, khususnya penumpang KA.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya pemahaman tentang dinamika pengereman kereta. Meskipun teknologi modern telah meningkatkan keselamatan, faktor fisik seperti berat, kecepatan, dan infrastruktur tetap menjadi batasan utama. KAI terus meninjau prosedur dan sistem pengereman untuk meminimalkan risiko di masa depan.

Insiden keretaStasiun Bekasi TimurKA Argo Bromo AnggrekKRL Commuter LinePengereman rem udaraPalang keretaBobot rangkaian

Komentar

Memuat komentar...