Kopicek: Kopi Bermetronom Dari Komunitas Tunanetra Surabaya
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Rungkut Asri XIII No. 16, Surabaya, Komunitas Mata Hati menata kantor sekretariatnya. Di sana, Aswar, yang berusia 29 tahun dan biasa dipanggil Ipung, menyiapkan kopi sambil menekan metronom lewat headsetnya.
Ipung terlibat langsung di setiap langkah pembuatan Kopicek, usaha kopi yang dimiliki komunitas tersebut. Sebagai musisi, ia memakai metronom untuk menjaga konsistensi rasa, karena ia tidak dapat melihat volume cairan secara langsung.
“Kalau sekarang, prosesnya tak hitung, Mbak. Jadi detiknya tak hitung, jadi untuk memastikan detikanku tidak meleset, karena kalau dihitung dalam hati itu kan nggak stabil. Jadi aku pakai metronom gitu‑gitu,” ujar Ipung kepada penulis pada Senin (23 Maret 2026).
Metronom membantu Ipung mengukur waktu ekstraksi kopi, memastikan setiap tetes menetes tepat pada waktunya. Ia mengandalkan hitungan detik karena visualnya terbatas.
Pengalaman melayani pelanggan di bazar membuatnya kesulitan mendengar tetesan kopi di tengah keramaian. “Masalahnya kan begini, kadang‑kadang kalau bazar kan berisik. Saya nggak dengar ini (kopinya) sudah menetes atau belum atau apa gitu. Nah itu, makanya saya pakai metronom,” jelasnya.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Saat bulan puasa, proses pengecekkan rasa menjadi lebih sulit karena ia tidak bisa mengonsumsi kopi. “Biasanya aku pertama buat itu pasti tak lihat. Kalau nggak puasa itu ya tak minum, untuk memastikan oh ya ini masih betul rasanya. Kalau puasa ini agak kesulitan,” ujarnya.
Ide Kopicek bermula dari candaan sederhana di komunitas. Pendiri, yang kini sudah meninggal, pernah mengusulkan nama “Kopicek” – singkatan dari “kopi orang buta” dalam bahasa suroboyoan. “Dulu itu idenya sudah lama. Cuma dulu itu cuma celetukan founder yang sekarang sudah almarhum, 'yo opo yo arek‑arek iki seumpama gawe warung kopi ngono, Kopicek. Kopine wong picek (kopinya orang buta) kalau dalam bahasa suroboyoan' Dari begitu itu idenya,” kenang Ipung.
Persepsi tersebut menjadi nyata pada 2021, ketika komunitas mendapat tawaran membuka stan di bazar. “Waktu itu ada teman yang ngajak ikut bazar, kita ditawari buka stan. Kita punyanya merchandise, terus tiba‑tiba muncul celetukan, 'Nggak ada yang jual minuman ta, kopi‑kopi gitu?' Akhirnya kita ya nekat,” ujarnya.
Sejak saat itu, Kopicek tidak hanya melayani pre‑order, tetapi juga sering membuka stan di berbagai acara. Pada tahap awal, semua proses masih manual dan melibatkan banyak relawan.
“Dulu kalau mau jual itu kita melekan. Jam dua pagi sudah siap‑siap, karena kopinya memang betul‑betul kita ekstraksinya itu digodok dulu, disaring. Ribet, belum pakai mesin,” ungkap Ani, relawan berusia 57 tahun.
Seiring waktu, peralatan modern mulai membantu. Komunitas menerima mesin espresso, cup sealer, serta pelatihan penggunaan alat dari Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya lewat program Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.
Hingga kini, Kopicek belum memiliki kedai tetap. Semua produksi dilakukan di basecamp atau kantor sekretariat. Penjualan didukung oleh sistem pre‑order dan jaringan komunitas, serta stan di acara yang memerlukan minuman.
“Dari teman‑teman jaringan aja sih. Karena kan kita memang biasanya PO satu bulan sekali di Instagram @kopicek.kmh. Atau kalau enggak ya itu incidental. Kalau misalnya ada pesanan banyak gitu kita layani,” jelasnya.
Di basecamp, pesanan yang sedang diproses mencapai hampir lima liter. Menu yang ditawarkan sederhana: americano dan kopi susu, dengan pilihan gula biasa atau palm sugar. Harga Rp 15.000 untuk 250 ml (cup) dan Rp 55.000 untuk satu liter.
Komunitas Mata Hati didirikan pada tahun 2000. Awalnya sebagai komunitas musik, kemudian berkembang menjadi wadah pemberdayaan difabel dengan program teknologi braille, pelatihan, dan pertunjukan seni.
“Bagaimana caranya selain dari program‑program itu kita bisa menghidupi komunitas ini, fundingnya dari mana lagi. Ya salah satunya lewat usaha,” kata Ipung.
Rencana pengembangan usaha sudah dipikirkan. Komunitas berencana membuka kedai kopi sendiri, meski masih dalam tahap pertimbangan. “Pastinya ada. Harus ada,” ujar Ani.
Namun, Ani mengakui masih banyak hal yang perlu dipersiapkan, terutama terkait sumber daya manusia dan konsep usaha ke depan. “Cuman ya kita masih tenaganya aja lho. Ini nanti kalau kita buka jam berapa sampai jam berapa. Saya mikirnya mereka kan ada shift, nah di sini dibagi berapa orang. Kalau kita cuma jual ini saja kok rasanya takut kurang. Nah kita kan harus jual minuman lain, dll. Jadi masih kita pertimbangkan, menambah menu lah. Ini jadi pertimbangan kami,” jelasnya.
Ke depan, Ipung dan Ani berharap Kopicek bisa semakin mandiri dan membuka peluang lebih luas bagi tunanetra. “Harapannya ya biar bisa lanjut aja gitu, Kopicek ini. Karena lumayan kan bisa membuka usaha buat teman‑teman. Sekarang lagi ngetren lo barista tunanetra. Ya kan bisa jadi pilihan opsi untuk teman‑teman tunanetra yang mau berwirausaha,” tandas mereka secara bergantian.
Dengan semangat yang tak tergoyahkan, Komunitas Mata Hati terus menyalakan kopi dan harapan bagi anggotanya. Kopicek menjadi contoh usaha kecil yang berakar pada kreativitas dan solidaritas, sekaligus membuka peluang bagi tunanetra untuk berpartisipasi aktif dalam dunia bisnis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Subandi Dorong Sidoarjo Berbenah di Tahun Baru Islam 1448
Jepang dan Belanda Imbang 2-2 sama di Piala Dunia 2026
Polisi Temukan Lansia Hidup di Pemakaman, Berikan Sembako
12 September 2026: Ucapan Selamat 1 Muharram 1448 Terdepan
Doa Akhir Tahun 1447: Introspeksi dan Ampunan Bulan
Rob Tiba Lagi di Pasuruan Utara, Pasang Laut 3 Meter
Berita Terbaru
BKSDA Bali Terima 16 Monyet Ekor Panjang Perizinan Tingkatkan
Ariel NOAH Tahu Pilih Peterpan, Menjadi Vokalis NOAH
SIM Keliling Bandung 15‑20 Juni: Jadwal Lokasi 09‑12
Bupati Sukabumi Serah Kearsipan Bapenda Juara 2 Trofi
Subandi Dorong Sidoarjo Berbenah di Tahun Baru Islam 1448
MDP Tahan Penjelasan Kasus Dr. Ratna Setia Asih Sementara
Suporter Jepang Bersih Stadion Dallas, Tunjukkan Rasa Hormat
Pasar Mobil Hybrid Indonesia 7.815 Unit, Tren Tahunan Maju
Kevin de Bruyne Memimpin Belgia vs Mesir, Reunion Salah
Api Tak Terduga di Seyegan Disebabkan PVC, Bukan Gas Hidrogen
