Krisis Air Babakan Sari: 700 Jiwa Antre Air Keruh

Dedi S. · 3 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Krisis Air Babakan Sari: 700 Jiwa Antre Air Keruh

Gambar atau konten salah?

Kampung Babakan Sari di Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, sedang mengalami masa sulit. Kemarau panjang yang melanda wilayah itu membuat warga kehilangan akses terhadap air bersih. Mereka harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan air keruh dari kubangan darurat. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan.

Sebanyak 218 Kepala Keluarga atau sekitar 700 jiwa di lingkungan RW 17 terdampak krisis ini. Sungai Cicatih, yang biasanya menjadi sumber air utama warga, kini kering total. Bebatuan di dasar sungai terlihat jelas tanpa ada aliran air. Warga pun terpaksa membuat "kobakan" atau kubangan kecil di sepanjang selokan berbatu yang membelah kampung. Kubangan itu hanya menampung rembesan air tanah yang mengalir dalam debit sangat kecil dari kawasan Cantayan dan Cimanggis.

Perburuan air di kampung itu nyaris tak pernah berhenti. Dari pagi hingga siang, belasan warga hilir mudik menembus jalan tanah dan pematang sawah dengan memikul jeriken atau ember kosong. Menjelang sore hingga malam, suasana berubah tegang. Warga harus antre berjam-jam, bahkan tak jarang terjadi aksi saling berebut sisa air di kobakan.

Icin, seorang warga setempat, menceritakan betapa melelahkannya rutinitas ini. Ia berjongkok di selokan sejak subuh, menyiduk air keruh sedikit demi sedikit menggunakan gayung. "Buat di dapur ya, buat masak-masak, buat cuci-cuci sayur. Memang setiap hari warga di sini ngambil, sampai malam pada antre. Jadi ibu sengaja jam segini hari, bekas orang lain barusan, pagi-pagi banget. Kalau mandi air kali kadang itu dicelobakin," katanya. Ia sengaja datang pagi-pagi untuk menghindari antrean panjang.

Aji, seorang pemuda setempat, juga merasakan kesulitan yang sama. Jarak lokasi kobakan dari rumahnya cukup jauh, sehingga ia harus bolak-balik menggunakan sepeda motor. "Kadang dua kali, kadang tiga kali, sama sekalian kalau buat nyuci. Nyuci piring gitu. Kurang lebih sekiloan lebih sih, kurang lebih. Iya cepat-cepat, kalau nggak cepat-cepat nggak keburu gitu, nggak kebagian ya," ujar Aji.

Air keruh dari kobakan itu hanya bisa digunakan untuk sanitasi dasar seperti mandi dan mencuci. Untuk kebutuhan minum, warga harus membeli air isi ulang. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam dan menempuh perjalanan jauh ke pusat kota.

Rois Lesmana, warga sekaligus petani di Kampung Babakan Sari, menuturkan beban ganda yang harus dipikul warga. Selain krisis air rumah tangga, kekeringan ini juga melumpuhkan sektor pertanian. "Untuk minum beli, air isi ulang biar irit lah minimal nggak ada air di tempatnya gitu. Paling ke daerah bawah, ke daerah Bantar Muncang 1 kilo lebih lah itu minimal, dari sini ke Cibadak itu sekitar 2 kilo," ungkap Rois. Ia juga menyebut kekeringan sudah berlangsung sekitar tiga bulan. "Kekeringannya udah 3 bulan lah, kurang lebih 3 bulanan. Iya nggak ada hujan-hujan musim kemarau. Jadi kayaknya gagal untuk panen," sambungnya.

Di tengah keterbatasan, warga tetap berupaya menjaga sanitasi lingkungan secara swadaya. Ketua RT 04/17, Jengki, turun langsung ke dalam selokan berlumpur untuk membersihkan sampah. Ia khawatir air yang ditampung warga semakin tercemar. "Kali ini kan sangat kotor, tapi kalau ke bawahnya sih digunakan juga untuk warga karena kesulitan untuk air. Daripada nggak mandi mungkin ya dimanfaatin juga nih sama warga air kotor juga, Pak. Ke masyarakat tolonglah dijaga kebersihan, sebab ini air digunakan oleh warga kami. Jangan sampai membuang sampah sembarangan gitu aja Pak untuk warga," tegas Jengki.

Warga menaruh harapan besar pada Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Mereka membutuhkan intervensi dan respons cepat. Tokoh masyarakat Babakan Sari, Jajat, menegaskan bahwa upaya swadaya tidak cukup. "Dari dulu juga bikin sumur bor nggak hasil. Sampai-sampai kadang-kadang ngantri ngambil air dari sini, Pak. Kalau rencana juga ini mau dibikin kolam Pak ini, kolam rada agak-agak besar gitu supaya nampung air," keluh Jajat. "Tapi yang saya harapkan kepada pemerintah setempat, pemerintah atasan, mudah-mudahan supaya tiasa atau bisa ngebantu kepada Kampung Babakansari RW 17 Desa Sekarwangi, Pak," pungkasnya.

Krisis air bersih di Kampung Babakan Sari bukan hanya soal kesulitan mendapatkan air. Ini soal perubahan total rutinitas harian, soal pertanian yang terancam gagal panen, dan soal warga yang harus berjuang setiap hari untuk kebutuhan paling dasar. Mereka sudah bertahan selama berbulan-bulan, tapi tanpa bantuan dari pemerintah, situasi ini bisa semakin buruk.

krisis air bersihkemaraukubanganSukabumikekeringansanitasipertanian

Komentar

Memuat komentar...