47 Anak di Karangasem Tak Lanjut SMP, Mayoritas karena Malas

Fandi R. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
47 Anak di Karangasem Tak Lanjut SMP, Mayoritas karena Malas

Gambar atau konten salah?

Di Kabupaten Karangasem, Bali, sebanyak 47 anak yang baru saja lulus dari sekolah dasar (SD) tahun ini memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP). Angka ini terungkap setelah Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) setempat melakukan penelusuran data.

Kepala Disdikpora Karangasem, I Gusti Bagus Budiadnyana, menjelaskan bahwa alasan di balik keputusan puluhan anak tersebut sangat beragam. Mulai dari masalah biaya, keinginan untuk langsung bekerja, mengikuti orang tua yang pindah, tidak ada yang mengantar ke sekolah, kondisi sakit, hingga yang paling dominan: anak-anak itu sendiri sudah tidak mau bersekolah lagi.

"Alasan yang paling banyak kami temukan karena memang siswa tersebut sudah tidak mau sekolah lagi," ujar Budiadnyana pada Rabu, 15 Juli 2026.

Penyebaran anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah ini merata di tujuh kecamatan. Data menunjukkan, Kecamatan Abang dan Karangasem menjadi wilayah dengan angka tertinggi, masing-masing 10 anak. Disusul Kecamatan Rendang dengan 8 anak, Kecamatan Kubu 6 anak, Kecamatan Bebandem dan Selat masing-masing 5 anak, serta Kecamatan Manggis dengan 3 anak. Satu-satunya kecamatan yang seluruh lulusan SD-nya melanjutkan ke SMP adalah Kecamatan Sidemen.

Menariknya, angka awal yang tercatat dalam sistem sebenarnya lebih tinggi dari 47 anak. Namun, setelah dilakukan verifikasi lebih lanjut, Disdikpora menemukan bahwa beberapa dari mereka ternyata tetap melanjutkan pendidikan, hanya saja bukan di SMP negeri biasa. Mereka tercatat masuk ke Sekolah Rakyat, Widyalaya, atau bahkan sekolah di luar kabupaten Karangasem.

"Sebenarnya awalnya ada lebih dari itu yang tercatat di sistem. Namun, setelah dilakukan penelusuran, ternyata beberapa di antaranya ada yang melanjutkan ke Sekolah Rakyat, Widyalaya hingga sekolah ke luar kabupaten," ungkap Budiadnyana.

Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Disdikpora Karangasem berencana untuk mendatangi langsung rumah-rumah siswa yang tidak melanjutkan sekolah dalam waktu dekat. Pendekatan intensif akan dilakukan, baik kepada anak maupun orang tuanya.

"Kalau memang tidak ada yang antar nanti seperti apa solusinya, atau yang tidak ada biaya apa solusinya. Namun, biasanya, yang paling sulit adalah ketika siswa tersebut memang tidak mau sekolah lagi," kata Budiadnyana.

Ia menambahkan, pihaknya sebenarnya ingin semua anak bisa melanjutkan pendidikan. Tapi jika setelah berbagai upaya maksimal dilakukan dan anak tetap menolak, maka mereka akan tercatat sebagai anak putus sekolah.

"Kami sebenarnya ingin seluruh siswa bisa melanjutkan sekolah, tetapi jika setelah kami upayakan dengan maksimal tetap tidak ingin sekolah, ya bisa dipastikan mereka masuk data anak putus sekolah," imbuhnya.

Keberadaan data 47 anak ini diketahui berkat sistem pendaftaran online. Budiadnyana menyebut sistem ini menjadi alat deteksi dini yang efektif. Melalui sistem tersebut, sekolah diwajibkan mendaftarkan seluruh siswanya yang telah lulus ke jenjang lebih tinggi. Setelah itu, siswa harus melakukan daftar ulang ke sekolah tujuan. Jika tidak, sistem secara otomatis menandai anak tersebut sebagai mengundurkan diri atau tidak melanjutkan.

"Ini menjadi keunggulan sistem online karena sudah langsung terdekteksi sistem," jelas Budiadnyana.

Secara keseluruhan, dari total 7.021 anak yang lulus SD di Karangasem tahun ini, hanya 47 anak yang tidak melanjutkan ke SMP. Sisanya yang melanjutkan pendidikan saat ini tengah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di masing-masing sekolah barunya.

Angka 47 anak dari total 7.021 lulusan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi melanjutkan sekolah di Karangasem masih sangat tinggi, mencapai lebih dari 99 persen. Meski begitu, setiap anak yang tidak bersekolah tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terutama karena alasan utama yang paling sulit diatasi bukanlah soal biaya atau jarak, melainkan hilangnya motivasi dari dalam diri anak itu sendiri.

putus sekolahanak tidak melanjutkanKarangasempendidikan dasaralasan tidak sekolahSMPDisdikpora

Komentar

Memuat komentar...