Krisis Air Madiun: Warga Cari Air ke Sawah untuk Mandikan Jenazah
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Madiun, krisis air bersih kembali menjadi masalah serius. Pasokan dari Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Dharma Purabaya sering mati, dan kali ini situasinya mencapai titik darurat. Sebuah video pendek berdurasi 11 detik viral di media sosial dan WhatsApp. Isinya memperlihatkan warga yang terpaksa mencari air ke sumur pompa di tengah sawah hanya untuk memandikan jenazah.
Dalam video itu, beberapa orang terlihat membawa ember dan galon. Mereka mengambil air dari sumur pompa yang ada di area persawahan. Seorang pria dalam rekaman tersebut berbicara dengan nada frustrasi. "Niki toyone ngusungi ngangge disel (ini airnya pakai mesin pompa air). Toyone mati dos pundi (airnya mati gimana)," katanya. Ia juga menekankan bahwa kondisi di wilayahnya sudah darurat karena ada warga yang meninggal dan membutuhkan air untuk prosesi pemandian jenazah. "Darurat. Enten tiyang (ada orang) meninggal. Gek PDAM e mati dos pundi niki (PDAM mati terus gimana ini)," tambahnya.
Peristiwa ini terjadi di Dusun Kedondong, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wungu. Anggota BPD Desa Pilangrejo, Nur Rochim, membenarkan kejadian tersebut. "Betul itu kejadian di desa kami kesulitan cari air waktu memandikan jenazah," ujarnya. Menurut Nur, warga harus menempuh jarak sekitar 100 meter ke sumur pompa di sawah karena aliran PDAM kembali mati. "Itu kemarin hari Selasa warga cari air ke sumur pompa di sawah pakai galon dan ember jarak 100 meter," jelasnya.
Nur mengungkapkan bahwa krisis air ini sudah berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda perbaikan. Warga merasa lelah karena setiap hari harus protes, tetapi tidak ada solusi nyata dari pihak PDAM. "Kita sudah capek setiap hari protes belum juga ada solusi oleh PDAM Madiun. Katanya kemarin rapat direksi," tandas Nur.
Masalah ini bukan hanya dirasakan oleh segelintir orang. Sebelumnya, sekitar 160 kepala keluarga di Dusun Kedondong dan 200 pelanggan di Desa Wungu sudah mengeluhkan hal yang sama. Distribusi air sering terhenti, terutama pada pagi hingga sore hari saat kebutuhan air sedang tinggi. Ketua RW 4 Desa Pilangrejo, Suyono (50), mengatakan bahwa aliran PDAM hampir setiap hari mati. "Kurang lebih sekitar 160 rumah Kepala keluarga pelanggan PDAM yang mengeluhkan kondisi jaringan air PDAM yang sering mati setiap hari," ujarnya.
Suyono menambahkan, meskipun air kadang mengalir pada malam hari, debitnya sangat kecil. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Setiap hari pagi sampai sore bahkan malam juga mati. Saat hidup air buat rebutan hanya netes saja akhirnya," jelasnya.
Krisis air bersih di Kabupaten Madiun ini bukanlah kejadian baru. Namun, momen ketika warga harus mencari air ke sawah untuk memandikan jenazah menunjukkan betapa gentingnya situasi. Dari keluhan ratusan pelanggan hingga video viral, tekanan pada PDAM Tirta Dharma Purabaya semakin besar. Warga hanya berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar janji rapat direksi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Polres Tuban Resmi Naik Status Jadi Polresta
Skrining Jantung Bisa Cegah Risiko Akibat Begadang
2.000 KK di Pulau Pagerungan Kecil Segera Nikmati Listrik PLN
Mahasiswa UINSA Dobrak Pagar, Tuntut Rektor
Tahura R Soerjo Petakan Titik Rawan Kebakaran
Inggris vs Argentina, Duel Klasik di Semifinal Piala Dunia 2026
Berita Terbaru
Krisis Air Madiun: Warga Cari Air ke Sawah untuk Mandikan Jenazah
Pelanggan Syok, Tikus Berkeliaran Usai Makan
Spanyol ke Final tanpa Sekali Extra Time
Motorola Razr Fold Resmi di Indonesia, Harga Rp 29,9 Juta
Gibran Kunjungi Palembang, Tinjau RS hingga Jembatan Musi V
Minat SMA Negeri Menurun, SMAN 1 Marga Hanya Kantongi 45 Siswa Baru
Sri Mulyani: AI Ubah Cara Mahasiswa Belajar di Oxford
Pertamina Benahi Distribusi, Antrean BBM Masih Mengular
Nelayan Diseret Buaya Saat Memanah Ikan di Pasangkayu
