Makam Habib Kuncung: Tempat Ziarah di Jakarta Selatan
Gambar atau konten salah?
Makam Habib Kuncung terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, dan menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Makam ini merupakan makam sederhana, namun spiritualitasnya tetap kuat hingga kini, berkat warisan ulama karismatik bernama asli Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad, yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Kuncung.
Lokasi makam berada di Jalan Rawajati Timur II, No. 70, RT.003, RW.08, Rawajati. Di sebelahnya berdiri Masjid Jami At-Taubah, sebuah masjid berwarna putih yang berdampingan erat dengan makam. Kompleks ini menjadi saksi bisu sejarah penyebaran Islam di Nusantara, sekaligus tempat bagi wisatawan yang menyukai sejarah dan spiritualitas.
Pada hari Rabu, 01 April 2026, pengunjung menemukan gerbang masuk yang berwarna hijau pekat. Di depan gerbang terdapat plang bertuliskan "Kramat Habib Ahmad Bin Alwi Alhaddad (Habib Kuncung)" dan "Maqom Keluarga Habib Abdullah Bin Ja'far Alhaddad". Gerbang hijau ini menandai area wakaf yang disumbangkan oleh seorang bernama Wan Abdullah.
Setelah melewati gerbang, peziarah disambut oleh bangunan makam megah berwarna hijau, dihiasi kaligrafi Arab. Bangunan ini bersebelahan langsung dengan Masjid Jami At-Taubah, yang dominan warna putih. Suasana di sini terasa tenang, seolah memanggil pengunjung untuk merenung.
Dalam sebuah walking tour yang dipandu oleh Endang Teguh Pramono, yang akrab dipanggil Pampam, ia menjelaskan asal usul nama Habib Kuncung. “Kenapa Kuncung? Karena dia suka pakai (topi) kuncung, topi Bugis Makassar,” ujar Pampam saat memandu.
Nama tersebut bermula dari hadiah peci berbentuk kerucut yang diberikan oleh seorang Raja Bugis. Peci tersebut diberikan sebagai tanda terima kasih karena Habib berhasil menyembuhkan putri mahkota raja tersebut dari penyakit. Peci unik ini menjadi simbol keistimewaan Habib Kuncung.
Selain peci, Habib Kuncung dipercaya memiliki karomah yang luar biasa. Menurut cerita Pampam, salah satu karomahnya adalah kemampuannya berada di dua tempat sekaligus, seolah-olah melakukan duplikasi. “Jadi ada yang bilang, 'Gue lihat kemarin ke masjid itu sebelah sana,' 'Kok nggak, sebelah sono!'. Kayak cloning gitu, karomah beliau,” kata Pampam.
Kisah menakjubkan berlanjut ketika Habib Kuncung wafat sekitar tahun 1926. Menurut laporan, ketika jenazahnya hendak dikebumikan setelah disalatkan di Masjid Jami At-Taubah, terjadi peristiwa aneh. Jenazahnya tidak dapat diangkat dari tempatnya, meski liang lahat sudah dipersiapkan. “Akhirnya digalilah di sini pas di kepalanya Habib Abdullah bin Ja'far Al Haddad. Pas digali selesai, akhirnya pas diangkat bisa. Akhirnya beliau masuk ke situ. Itu asal muasal jenazah tidak bisa diangkat karena semacam ada ikatan dari omongan Habib Abdullah bin Ja'far Al Haddad sama Habib Kuncung,” kata pengurus makam, Muhammad Bagus Hidayatullah.
Penjelasan lebih lanjut datang dari saudara Habib Abdullah bin Ja'far Al-Haddad, yaitu Habib Thoha bin Ja'far. Ia melakukan salat untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT. Melalui petunjuk tersebut, diketahui bahwa ruh Habib Kuncung menginginkan dimakamkan di dekat Habib Abdullah bin Ja'far, sesuai janji yang pernah diucapkan. Dengan demikian, jenazah akhirnya dapat diangkat dan dimakamkan di sana.
Area makam dan masjid ini berada di atas tanah wakaf yang diberikan oleh Wan Abdullah. Tanah wakaf tersebut tidak hanya digunakan untuk mendirikan masjid, tetapi juga menjadi tempat bagi SD Al-Khairiyah 2. Hal ini menunjukkan bagaimana warisan spiritual dan pendidikan saling terkait di kawasan ini.
Bagi traveler yang ingin mengeksplorasi Jakarta Selatan, kawasan Makam Habib Kuncung dan Masjid Jami At-Taubah menawarkan pengalaman walking tour religi yang kaya akan pelajaran sejarah dan kisah spiritual Nusantara. Tempat ini menjadi contoh bagaimana sejarah dan kepercayaan dapat hidup berdampingan, mengundang pengunjung untuk merenung dan belajar.
Secara keseluruhan, Makam Habib Kuncung tidak hanya menjadi tempat ziarah, tetapi juga cerminan sejarah Islam di Indonesia. Dari peci Bugis hingga karomah yang dianggap unik, dan cerita tentang jenazah yang sulit diangkat, semua menambah lapisan makna bagi siapa saja yang datang. Tempat ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan spiritual yang terus berlanjut di Jakarta Selatan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Porong Lama: Keramaian Mati Akibat Lumpur Lapindo Sidoarjo
Konflik Gebby Vesta & Sopir Taksi Di Bali Berakhir Damai
Ayo ke Taman Nasional Luncurkan Aplikasi E‑Ticketing 93%
Bandung Minta Status Darurat Sampah, Proses Belum Disetujui
Indofest 2026: 80 Brand Outdoor di JCC, Target Rp60 Miliar
Gamelan Bali dan Tarian Tampil di Pagi SF Indo Cita
Berita Terbaru
Cuaca Berawan di Bandung 05 Juni 2026, Suhu 17‑30°C
Zodiak Gemini 5 Juni 2026: Energi Cinta & Karier Seimbang
Zodiak Aries: Energi Positif di Tanggal 5 Juni 2026
Zodiak Cancer 5 Juni 2026: Peluang Cinta dan Karir
Zodiak Virgo 5 Juni 2026: Hari Perubahan Kecil, Penuhi Potensi
Zodiak Leo 5 Juni 2026: Energi, Hubungan, Karier & Kesehatan
Zodiak Libra 5 Juni 2026: Panduan Harian dan Keberuntungan
Zodiak Taurus 5 Juni 2026: Rasa Aman, Keingintahuan & Peluang Baru
Zodiak Scorpio 5 Juni 2026: Energi Unik Hari Ini, Panduan Harian
Zodiak Sagittarius 5 Juni 2026: Prediksi Harian dan Energi Positif
